Viral Qori’ah Disawer, Begini Adab Mendengarkan Lantunan Ayat Al-Qur’an

Oleh: Muhammad Dhiya’ulhaq Syahrial Ramadhan. Alumni Ponpes Al-Ishlah Tahun 2019. Mahasiswa UIN Sunan Ampel Prodi Hukum Keluarga Islam.

Baru-baru ini sosial media di hebohkan dengan video viral seorang Qori’ah bernama Ustadzah Nadia Hawasyi disawer ketika membaca al-Qur’an pada acara Maulid Nabi di daerah Padeglang, Banten.

Dari video viral tersebut, banyak dari netizen +62 yang mencibir dan mengutuk keras tindakan tidak pantas dilakukan oleh jama’ah menyawer seorang Qori’ah yang sedang membaca al-Qur’an.

Lantas apa saja sih yang harus kita lakukan ketika kita mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an dilantunkan?

Pertama, mendengarkan dengan khusyuk dan diam ketika al+Qur’an dibacakan. Sebagaiamana terdapat dalam QS. al-A’raf ayat 204 yang berbunyi:


وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Dan apabila dibacakan al-Qur’an, dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan, jika mendengarkan al-Qur’an sebaiknya memperhatikan bacaan tersebut, supaya makna dari bacaan ayat al-Qur’an dapat memberikan pengaruh kepada si pendengar. (Tafsir ibnu katsir, 7/204)


وَقَالَ مُبَارَكُ بْنُ فَضَالة، عَنِ الْحَسَنِ: إِذَا جَلَسْتَ إِلَى الْقُرْآنِ، فَأَنْصِتْ لَهُ

Mubarak ibnu Fudalah telah meriwayatkan dari al-Hasan, apabila engkau duduk mendengarkan al-Qur’an, maka perhatikanlah bacaannya dengan tenang.

Menurut Imam Hasan al-Bishri dan Abu Muslim al-Ashfahani dalam Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, kita diwajibkan untuk mendengar dan berdiam diri apabila mendengar al-Qur’an dibacakan oleh orang lain. (Tafsir Al-Azhar, Vol. 4/2668).

Perintah wajib ini berlaku terus, baik sedang shalat ataupun diluar shalat. Asal al-Qur’an terdengar dibaca oleh orang lain, dalam radio, TV atau lewat mikrofon.

Dalam Tafsir al-Mishbah karya Abi Quraish Shihab, kata اَنْصِتُوْا anshituu menurut pakar-pakar bahasa berarti mendengar sambil tidak berbicara, karena itu diartikan dengan perhatikan dengan tenang setelah sebelumnya terdapat perintah mendengar dengan tekun. Hal tersebut menunujukkan betapa mendengar dan memperhatikan al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat penting. (Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan keserasian Al-Qur’an, Vol. 5/361).

Namun demikian, para Ulama sepakat memahami perintah tersebut bukan dalam arti mengharuskan setiap yang mendengar ayat al-Qur’an harus benar-benar tekun mendengarnya. Karena jika demikian, maka pendengar harus meninggalkan setiap aktivitas bila ada yang membaca al-Qur’an. Sebab tidak mungkin pendengar dapat tekun mendengarkan serta memperhatikan jika perhatian pendengar tertuju pada aktivitas lain.

Ada ulama lain yang memahami perintah ini dalam konteks bacaan imam dalam shalat yang bacaannya dianjurkan untuk diperdengarkan. Ada juga yang memahami tidak hanya terbatas pada shalat fardlu saja, tetapi pada shalat sunnah dan khutbah-khutbah.

Ada juga pendapat dari madzhab Imam Malik menilai bahwa ayat ini bersifat umum kapan dan dimana saja, akan tetapi memahami perintah tersebut dalam arti anjuran bukan kewajiban. Karena dalam teks-teks al-Qur’an maupun Sunnah tidak sedikit perintah yang tidak dapat dipahami dalam arti wajib, tetapi sunnah atau anjuran.

Kedua, jangan membuat kegaduhan. Sebagaimana dalam firman Allah Surat Fussilat ayat 26 yang berbunyi:


وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) al+Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).”

Dalam Tafsir al Qurthubi, kata لَا تَسْمَعُوْا bermaksud laa tuthii’uu (janganlah kalian taati). Sedangkan lafazh الْغَوْا فِيْهِ Ibnu Abbas RA berkata, Abu Jahal berkata: Jika Muhammad membaca al-Qur’an maka berteriaklah di wajahnya sehingga dia tidak mampu membacakan al-Qur’an.

Ada menjauhi tertawa terbahak-bahakpula yang mengatakan mereka melakukan demikian setelah al-Qur’an membuat mereka lemah. Mujahid berkata, makna lafazh tersebut yakni bersiul, bertepuk tangan, mencampur aduk perkataan sehingga melahirkan hirup pikuk.

Lafazh لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ yang dimaksud dari mengalahkan yakni mengalahkan bacaan Nabi Muhammad agar tidak keluar dan membuat hati cenderung kepada mereka. (Tafsir Al-Qurthubi, Terj. Muhyiddin Mas Rida, Muhammad Rana Mengala, Ahmad Athaillah Mansur, Vol. 15/868).

Ketiga, menjauhi tertawa terbahak-bahak dan mengganggu pembaca al-Qur’an. Ketika Qari’ atau Qari’ah membaca al-Qur’an sebaiknya tidak diganggu baik memberikan hadiah, menyawer, atau mengajak berbicara karena hal tersebut dapat mengganggu kekhusyukan Qari’ atau Qari’ah dalam membaca al-Qur’an. Imam Nawawi dalam kitabnya at-Tibyan fii Adabi hamalatil Qur’an berkata:


[فَصْلٌ] وَمِمَّا يَعْتَنِى بِهِ وَيَتَأَكَّدُ الأَمْرُ بِهِ اِحْتِرَامُ القُرْآنٍ مِنْ أُمُوْرٍ قَدْ يَتَسَاهَلُ فِيْهَا بَعْضُ الغَافِلِيْنَ القَارِئِيْنَ مُجْتَمِعِيْنَ فَمِنْ ذَلِكَ اِجْتِنَابُ الضَحْكِ, وَاللَغْطِ, وَالحَدِيْث فِيْ خَلاَلِ القِرَاءَةِ, إِلَّا كَلَامًا يَضْطَرُّ إِلَيْهِ. وَلِيَمْتَثِلَ قَوْلَ اللهِ تَعَالَى: {وَإِذَا قُرِئَ القُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ} —– وَمِنْ ذَلِكَ العَبْثُ بِاليَدِ وَغَيْرِهَا فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَلَا يَعْبِثُ بَيْنَ يَدَيْهِ وَمِنْ ذَلِكَ النَظَرِ إِلَى مَا يُلْهِي وَيُبَدِّدُ الذِهْنَ

Dan di antara hal yang perlu diperhatikan dan ditekankan yaitu: Menghormati Al-Qur’an (di mana hal tersebut termasuk) dari perkara-perkara yang kadang digampangkan oleh sebagian pembaca yang lalai ketika berkumpul. Di antaranya (hal yang peru diperhatikan, ihtiromul qur’an) yaitu menghindari tawa, ramai, dan bicara ketika ada yang baca Al-Qur’an, kecuali pembicaraan yang terpaksa untuk dilakukan.

Dan untuk menerapkan Kalam Allah Swt. Jika dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah dengan saksama dan diamlah agar kamu diberi rahmat. (QS. Al-A’raaf ayat 204). Dan di antaranya yaitu mempermainkan tangan dan yang lainnya karena dia sedang bermunajat kepada Allah Swt, maka janganlah dia bermain di hadapan-Nya. Dan di antaranya yaitu memandang kepada sesuatu yang dapat mengalihkan dan membubarkan pikiran.

Imam al-Suyuthi juga menyatakan agar meninggalkan gurauan atau pembicaraan ketika al-Qur’an dibacakan. Sebagaimana dalam kitab al-Itqan fi Ulumil Qur’an yang berbunyi:


يُسَنُّ الِاسْتِمَاعُ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَتَرْكُ اللَّغَطِ وَالْحَدِيثِ بِحُضُورِ الْقِرَاءَةِ قَالَ تَعَالَى {وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ}

Disunnahkan untuk mendengarkan bacaan al-Qur’an dan meninggalkan gurauan atau pembicaraan pada saat ada yang membacanya. Allah berfirman: Jika dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dengan saksama dan diamlah agar kamu diberi rahmat“. (QS. al-A’raaf ayat 204).(Hal. 232)

Menurut Wahbah az-Zuhaili perbuatan tidak mendengarkan dan tidak memperhatikan al-Qur’an ketika dibacakan hukumnya makruh. Sebagaimana termaktub dalam Tafsir al-Munir:


وأما ترك الاستماع والإنصات للقرآن المتلو في المحافل، فمكروه كراهة شديدة، وعلى المؤمن أن يحرص على استماع القرآن عند قراءته، كما يحرص على تلاوته والتّأدّب في مجلس التّلاوة

Adapun tidak mendengarkan atau tidak memperhatikan al-Qur’an yang dibacakan dalam majelis atau acara, sungguh ini sangat makruh. Seorang mukmin harus khidmah mendengarkan lantunan al-Qur’an, sebagaimana ia harus beradab dalam menghadirinya”. (Tafsir al-Munir: Fil Aqidah wa as-Syari’ah wa al-Manhaj, Vol. 5/242)

Demikian beberapa adab yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh umat Muslim saat mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Penyunting: M. Afiruddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *