URGENSI ILMU PENGETAHUAN DALAM BERISLAM #4

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Empat)

Rabu, 28 Juli 2021/18 Zulhijah 1442

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

Mencari ilmu dasar yang menjadi kebutuhan sehari-hari itu fardu ain bagi setiap muslim dan muslimah. Selain Ilmu Agama, ilmu dasar lainnya adalah IPA dan IPS, haruslah diketahui dasar-dasarnya. Sekarang sudah ada sekolah setingkat SD (Sekolah Dasar), biasanya diajarkan di dalamnya IPA dan IPS secara dasar. Maka wajib bagi kita untuk bersekolah. Di SD Negeri sering kali tidak mencakup agama. Kadang-kadang ada, itupun hanya satu minggu sekali untuk diajarkan. Zaman saya dulu hanya ada sekali dalam satu minggu, yang lain adalah dasar-dasar IPA dan IPS. Kita harus mempelajarinya, karena bagi orang Islam yang pokok itu mempelajari agama, yaitu Islam, supaya mengerti tujuan hidup untuk ibadah, bukan untuk mencari makan dan jabatan. Ini haruslah diketahui oleh orang-orang Islam dengan mengaji, karena inilah yang menjadikan hidup kita benar, tidak salah. Akhlak kita juga baik, menjadi orang baik, bermoral dan berakhlak mulia. Seandainya memahami pandangan ini, maka akan dilaksanakan.

Apabila kamu ingin mendalami ilmu umum seperti menjadi dokter, ahli ekonomi, militer, jenderal TNI, atau pedagang besar, maka janganlah dilupakan ada ilmu dasar agama yang harus dipelajari, dimengerti dan dijalankan. Jangan sampai menjadi dokter tetapi tidak mengerti salat. Jadi banyak sekali contohnya menjadi tentara, polisi, ketua partai ataupun politikus, tetapi tidak mengerti salat. Akibatnya apa? Yang mereka tuju hanya sekadar mencari kekayaan dan jabatan saja. Akan tetapi, apabila kita mengerti agama, kemudian menjadi ahli di dalam bidang-bidang umum baik sosial/politik, ekonomi, kedokteran, engineering akan mengerti tujuannya. Apabila kita mengerti agama, maka bisa menjadi pemimpin yang baik, ahli ibadah, ikhlas dan mengerti tujuannya. Seperti halnya para pejuang zaman dulu.

Pak Dirman, seorang jenderal ahli perang, setiap hari selalu di hutan. Karena ia mengerti agama, ia tidak pernah meninggalkan salat, sehingga tahu tujuan berperang bukan untuk supaya menjadi presiden, jenderal atau panglima TNI. Bukan pula supaya mendapatkan bayaran yang banyak. Akan tetapi ikhlas mengabdi. Allah Swt. akan memberi kehidupan yang cukup jikalau kita memiliki dasar-dasar ilmu agama dan mengamalkannya. Pak Hatta, wakil presiden yang pertama, bernama lengkap Drs. Muhammad Hatta, itu sekolahnya fakultas ekonomi di Belanda dan ia mengerti bahasa Belanda. Ia tidak pernah meninggalkan salat, tetapi rajin membaca Al-Qur’an setiap hari, berpuasa Senin-Kamis, tidak pernah menganggap tujuan hidupnya sekadar mencari kekayaan, sampai ia menjadi wakil presiden. Ketika tidak setuju pemikirannya dengan Presiden Soekarno, karena Bung Karno membela-bela PKI, ia mundur, “Saya lebih baik tidak menjadi wakil presiden daripada omongan saya tidak dipercaya. Saya ingin supaya PKI bubar. Karena usulan saya tidak disetujui, maka dari itu saya mengundurkan diri.”

Di zaman sekarang, banyak sekali orang yang berkhianat. Membela-bela Komunis, Cina, dan kecurangan demi mendapatkan jabatan. Ada seseorang yang katanya bergelar kiai, tetapi karena diberi uang, ia pergi ke Cina, kemudian membela-bela dan memuji-muji Cina, bahkan berkata bahwa akhlaknya orang Cina lebih baik daripada orang Arab, dst. Akhirnya ia diangkat menjadi komisaris BUMN (Badan Usaha Milik Negara) padahal kiai. Inilah yang begini-begini ini adalah ilmu yang keliru penggunaannya. Kalau zaman dulu, orang-orang siap tidak makan, bahkan Pak Hatta berkata, “Saya tidak akan kawin apabila Indonesia belum merdeka”, hingga setingkat itu. Ia baru kawin setelah menjadi wakil presiden. Begitulah perjuangannya menuntut ilmu, kendatipun di fakultas ekonomi, berbahasa Belanda, tetapi ia tidak pernah meninggalkan salat. Dikatakan bahwa ayahnya menghafal Al-Quran dan merupakan seorang kiai.

Inilah anak-anak, kita semuanya, kalau ingin menjadi yang baik. Seperti dulu juga wakil presiden lagi, namanya Habibie, bernama lengkap Prof. Dr. Habibie, seorang insinyur dan ahli pesawat terbang. Akan tetapi, ia rajin dalam beragama dan berakhlak baik. Sehingga ia berhasil menjadi orang kaya dan menjadi direktur pabrik pesawat terbang di Jerman. Ia pun tidak pernah meninggalkan salat lima waktu, mengaji Al-Qur’an, berpuasa sunah, sehingga hidupnya benar. Jadi apabila kamu kelak di fakultas umum, mencari ilmu pengetahuan umum, jangan lupa ilmu agama dasar. Pun apabila menjadi ulama, mengerti Ilmu Agama secara mendalam, juga supaya mengerti dasar-dasar ilmu pengetahuan umum. Kelak agar tidak diremehkan oleh orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan umum.

 مَنْ تَعَلَّمَ لُغَةَ قَوْمٍ سَلِمَ مِنْ خِدَاعِهِمْ

“Barang siapa yang mempelajari bahasa suatu kaum, maka ia akan selamat dari tipu daya mereka.”

Seperti bahasa Belanda, untuk apa belajar bahasa Belanda? Seperti Pak Hatta, pun belajar bahasa Belanda, bukan untuk menjadi pegawainya, tetapi supaya mengerti apa yang diinginkan orang-orang Belanda menjajah Indonesia. Dengan kata lain agar selamat dari tipu daya mereka. Jadi, misalnya belajar bahasa China, itu boleh, tujuannya apa? Bukan untuk mencari kekayaan dari Cina, tetapi tujuannya selamat dari tipu daya mereka. Mereka ingin menguasai Indonesia, bagaimana supaya kita tidak dikuasai? Mempelajari bahasa mereka seperti Belanda, Cina atau Jepang. Inilah dasar-dasar ilmu pengetahuan umum.

Di dalam IPA/IPS, terlebih IPS, di antara kunci ilmunya adalah menguasai bahasa asing. Apabila kita hendak memperluas ilmu-ilmu kita, maka harus menguasai bahasa asing, sekarang ini bahasa Inggris adalah kuncinya. Apabila sudah bisa berbahasa Inggris, maka mudah untuk memperluas ilmu pengetahuan umum, bahkan ilmu apapun. Dan mudah sekali anak-anak untuk sukses. Jangan sampai, lebih-lebih sampai setingkat presiden, tidak bisa berbahasa Inggris atau kemampuan bahasa Inggrisnya setingkat anak dasar atau SMP, akan memalukan. Inilah kunci-kunci dasar ilmu umum, IPA dan IPS. Akan tetapi, ilmu agama tetap harus menjadi pokok yang dasar. Apabila ingin diperdalam, kelak akan menjadi ulama dan harus ada yang demikian.

Demikianlah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *