URGENSI ILMU PENGETAHUAN DALAM BERISLAM #3

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Tiga)

Senin, 26 Juli 2021/16 Dzulhijjah 1442

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

Santri-santri berkewajiban menuntut ilmu, bagaimana? Yang bersifat wajib (فَرِيْضَةٌ). Kita membutuhkan Ilmu Agama dasar dalam kehidupan. Ini fardu ain. Kita mengetahui bagaimana cara salat, mengaji Al-Qur’an, mengamalkan zakat, berkehidupan di keluarga dan masyarakat. Ini yang paling pokok harus diketahui. Di dalam rukun iman adalah Allah Swt., Zat yang kita sembah dalam kehidupan ini dan paling pokok. Inilah fardu ain. Kita semuanya. sebagai orang Islam, harus memiliki Ilmu Agama yang dasar. Adapun perkara mendalaminya (التَّفَقُّهُ فِيْ الدِّيْنِ), hingga pada tingkat mengerti Al-Qur’an secara komprehensif, nahwu dan saraf, tafsir, ataupun hadis-hadisnya adalah fardu kifayah.

Bagaimanakah dengan kedudukan ilmu lainnya seperti IPA dan IPS? Yang demikian pun harus diketahui secara dasar. Jadi seperti dalam IPA adalah ilmu hitung atau matematika dasar. Kenapa demikian? Supaya tidak mudah ditipu dan dijajah oleh orang-orang kafir. Apabila kita tidak mengerti ekonomi, berhitung dan ilmu-ilmu lainnya yang tercakup dalam IPA/IPS, kelak kita akan dijajah. Jadi pada zaman dahulu, orang Islam dijajah dan dikalahkan oleh orang-orang Belanda, Inggris, Prancis, Kristen, kafir, Cina, dikarenakan tidak mengerti ilmu-ilmu IPA/IPS. Hal demikian ini juga fardu kifayah, tetapi yang dasar fardu ain. Seperti kita kelak akan makan, cara mencarinya dengan berdagang, maka harus mengetahui proses dalam berhitung. Apabila tidak tahu menahu perihal hitung-hitungan, maka kelak kita akan ditipu saja. Maka dalam hadis kita diperintahkan untuk belajar bagaimana memanah dan menunggangi kuda, kendati di masa sekarang tidak (belum) berlaku.

 عَلِّمُوْا أَوْلاَدَكُمْ السِّبَاحَةَ وَ الرِّمَايَةَ وَرُكُوْبَ الْخَيْلِ

“Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah dan mengendarai kuda.”[1]

Tujuan dari belajar memanah adalah untuk keperluan perang. Belajar menunggangi kuda pun demikian, sebab perang itu mengharuskan seseorang menaiki kuda dan membawa senjata. Pun dengan berenang adalah untuk kepentingan keamanan seorang muslim jika sewaktu-waktu kemampuan itu diperlukan. Inilah kenapa bagi orang Islam dianjurkan. Jadi supaya diajari itu, sehingga kelak apabila berperang tidak kalah. Inilah pelajarannya.

Di zaman sekarang ini sudah ada sekolah tingkat SD, di dalamnya mencakup keseluruhan ilmu-ilmu dasar yang telah disebutkan, yaitu IPA dan IPS. Maka kita wajib bersekolah, karena hal ini dalam rangka melaksanakan perintah Rasulullah Saw., perintah agama Islam, hendaklah kita belajar. Ilmu-ilmu yang sifatnya dasar, seperti telah lalu disebutkan, kelak menjadi sangat penting sekali untuk memimpin negara atau organisasi-organisasi lainnya. Di dalamnya harus terdapat ahlinya, seperti ahli ekonomi, sosial dan politik, komunikasi, sejarah,  pendidikan dan ahli dakwah. Ini penting sekali. Tentang ilmu kesehatan, kedokteran, medis, harus ada ahlinya. Demikianlah, di antara orang-orang Islam harus ada yang mempelajarinya. Itu fardu kifayah.

Hal ini menjadi penting sebab jika tidak demikian, maka akan seperti yang digambarkan dalam hadis Rasulullah Saw. tentang bahaya akibat sebuah perkara tidak dipegang ahlinya.  

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ قَالَ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ ح وَحَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنِي هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan, ia berkata telah menceritakan kepada kami Fulaih, (pindah sanad) telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Mundzir, berkata bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fulaih, ia berkata bahwa telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata telah menceritakan kepadaku Hilal bin ‘Ali dari Atha’ bin Yasar dari Abu Hurairah, ia berkata: Suatu ketika Nabi Saw. berada di dalam sebuah majlis, beliau berbicara tentang suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui, lalu bertanya tentang kapan hari kiamat. Tapi Nabi Saw. tetap melanjutkan pembicaraannya. Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata, ‘Beliau mendengarkan perkataannya, tapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya,’ dan ada pula sebagian yang mengatakan, ‘bahwa beliau tidak mendengarkan perkataannya’. Hingga akhirnya Nabi Saw. menyelesaikan pembicaraannya seraya berkata, ‘Di mana orang yang bertanya perihal hari kiamat tadi?’ Orang itu berkata, ‘Saya wahai Rasulullah!’ Maka Nabi Saw. bersabda: ‘Apabila amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya hari kiamat.’ Orang tersebut bertanya ‘Bagaimanakah hilangnya amanah itu?’ Nabi Saw. menjawab: ‘Apabila urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya hari kiamat’.”[2]

Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya atau orang yang tidak memiliki ilmu, maka tunggulah saatnya. Saat apa? Saat kehancurannya. Jadi, seseorang harus memiliki keahlian dalam perkara yang dipegangnya. Setiap dari perkara harus diserahkan pada ahlinya. Inilah pentingnya memiliki keahlian dalam ilmu tertentu. Jika hendak menjadi Menteri Ekonomi harus mengerti ekonomi, Menteri Pendidikan harus mengerti pendidikan dan Menteri Agama harus mengerti tentang agama. Inilah keharusan menurut Islam. Jangan sampai hal-hal demikian ini dipegang oleh orang-orang yang bukan ahlinya.

Kemudian Rasulullah Saw. juga bersabda:

صِنْفَانِ مِنَ النَّاسِ إِذَا صَلَحَا صَلَحَ النَّاسُ، وَ إِذَا فَسَدَا فَسَدَ النَّاسُ: الْعُلَمَاءُ وَالْأُمَرَاءُ – (حل) عن ابن عباس – (ض)

“Dua kategori dari manusia jika keduanya baik, maka baiklah manusia dan jika keduanya rusak, maka rusaklah manusia: yaitu ulama dan umara—dari Ibnu ‘Abbas.”

Kemaslahatan umat berada dalam tangan ulama dan umara (pemerintahan). Maksudnya adalah suatu umat, masyarakat atau bangsa kelak menjadi baik apabila umara (pemerintah) dan ulamanya—ulama adalah para ahli atau ilmuwan—adalah baik. Dan umat itu, suatu masyarakat atau bangsa, akan hancur apabila ulama dan umaranya rusak. Ini pelajaran bagi kita semuanya, bahwa untuk menjadi ulama dan umara harus mencari ilmu. Ilmu yang kelak akan bermanfaat untuk masa depan kita dan masa depan umat dan bangsa. Demikianlah kewajiban mencari ilmu, fardu ain untuk yang dasar-dasar dan fardu kifayah untuk perkara mendalaminya (ahli).

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/تعلم-الرمي-والسباحة-محمود-شرعا (diakses terakhir pada 19/04/2022 pada pukul 16.36 pm.

[2] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Al-Bukhary (Juz 1),no. 59, hlm. 32.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *