The Power of Ikhlas

Orang hebat tidak lepas dari perjuangan yang keras. Sosok-sosok yang sekarang telah dikenal, mereka semua dulu berjuang dalam kesulitan. Sama halnya dengan KH. Muhammad Dawam Saleh. Beliau sosok kiai panutan.

Kesederhanaan membuat kiai Dawam disegani. Kedalaman ilmu beliau mewujud dalam sebuah pesantren. Kiai Dawam adalah suri tauladan bagi siapapun yang mengenal. Kewibawaan yang menonjol dari beliau membuat banyak orang menghormati.

Sebagai pendiri dan pengasuh PP Al-Ishlah, pesantren yang dikenal hingga ke luar Jawa dan mancanegara, Kiai Dawam tidak segan turun langsung dalam mendidik para santri. Beliau juga membangunkan para santri untuk shalat subuh berjamaah, berkeliling saat jam belajar malam, dan memberi petuah bijak setiap hari setelah shalat subuh.

Sebagai seorang kiai besar, beliau tak pernah memerintah-merintah. Sesuatu yang masih dirasa mampu dikerjakan sendiri, beliau pasti kerjakan. Beliau sederhana, sehingga menjadi panutan semua. Kiai Dawam sangat menekankan disiplin kepada para santri. Terutama dalam hal beribadah dan belajar.

Dalam mengajar, Kiai Dawam selalu memberikan tamrin atau latihan agar setiap santri mampu memahami materi yang disampaikan. Tak pernah lupa, beliau juga selalu memotivasi para santri untuk membaca. Apapun itu yang bisa dibaca. Beliau ingin santri-santri menjadi muslim dan muslimah yang berpengetahuan lagi berkualitas.

Pengabdian kiai Dawam dalam mengurus pekerjaan pondok dikerjakan dengan ikhlas selama kurang lebih 30 tahun. Tanpa lelah, beliau melakukan perbaikan-perbaikan. Memulai pondok dari nol hingga seperti sekarang. Kendati yang beliau bangun sekarang ini telah terbilang sukses, tak pernah Kiai Dawam sombong dan angkuh.

Dalam memajukan pondok, Kiai Dawam tak pernah setengah-setengah. Tak heran guru-guru Al-Ishlah juga sangat antusias dalam. Padahal gaji seorang guru mungkin tidak seberapa. Menurut saya, the power of ikhlaslah yang melandasi hati dan pikiran para guru di Al-Ishlah. Itu semua berkat energi positif dari sang kiai, KH. Muhammad Dawam Saleh.

Saya teringat saat beliau menyampaikan ceramah. Beliau pernah berucap, “Niat ikhlas dalam hal apapun menjadikan kita yakin dan berjuang. Semangat dan pantang menyerah memberikan dorongan untuk terus maju menjadi lebih baik”.

Yang menonjol dari Kiai Dawam adalah ilmu, keikhlasan, dan kesederhanaan. Kecintaan beliau dalam bidang menulis, menular pada para santri. Hingga para santri dan yang telah lulus menjadi alumni, banyak yang berkarya dalam bidang menulis. Dan telah melahirkan banyak santri yang ahli dalam menulis.

Semua berkat teladan dari Kiai Dawam. Dengan hobi menulis itu, akhirnya banyak dari santri mengikuti jejak beliau. Meskipun begitu, beliau selalu berpesan, agar jangan pernah merasa cukup untuk selalu belajar menuntut ilmu.

Mahfuzhat “Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi” adalah salah satu kata motivasi untuk tidak gentar dalam pengembaraan mencari ilmu. Beliau selalu dan selalu mengingatkan para santri. Bahwasanya ilmu itu tidak akan pernah ada habisnya, meskipun kita telah lapuk dimakan usia maupun zaman. Ya, tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.

Tanpa ilmu kita tidak akan jadi apa-apa. dan jika kita berilmu, kita akan jadi apapun yang kita mau. Dengan ilmu kita. Asalkan jangan menyalahgunakan ilmu untuk hal-hal tidak baik. Karena nantinya, jika kita menyalahgunakan ilmu kita tersebut, maka kita tidak akan mendapat manfaat dari ilmu kita.

Kiai Dawam berpesan, “Niatkan apapun amalanmu untuk beribadah kepada Allah SWT. Jangan pernah engkau niatkan melakukan sesuatu karena alasan lain. Allah tidak pernah tidur. Allah akan selalu membalas amalan hamba-Nya. Sekecil apapun amalan tersebut. Ridha dan pahala engkau dapat. Kepuasan hati dan pikiran engkau rasakan.

(Ditulis oleh Haritsa Al-Fitriyah dalam buku Tarbiyah bil Hal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *