Sudah izin belum?

Oleh M. Afiruddin

Sore itu senyum manis nampak di setiap anak yang berlalu lalang melewati lorong peradaban.

Setiap dari mereka membawa kebahagiaan yang terbungkus indah di dalam kotak maupun ranselnya. Namun ada satu anak yang tiba-tiba tertegun karena ada penjaga lorong yang memanggilnya.

“Akhi, sudah tanda tangan?” Tanya penjaga lorong. “Sudah, pak” jawab anak tersebut. Penjaga lorong menanyainya kembali, “akhi, apakah membawa sesuatu?”. “Tidak pak, cuma makanan saja”. Jawab anak itu kembali. Penjaga lorong tidak percaya dengan jawaban anak tersebut karena sebelumnya ada kabar anak tersebut membawa barang secara ilegal meskipun tidak haram. Penjaga lorong itu menanyainya kembali hingga yang ketiga kalinya, namun tetap saja jawabannya sama. Akhirnya penjaga lorong itu memutuskan untuk melihat isi ransel anak tersebut dan ternyata sebelum dibuka, seketika anak tersebut mengakui barang bawaannya.

Tanpa basa-basi, penjaga lorong menyita barang bawaan tersebut sesuai perintah dari kabar yang didapatkannya.

Selang beberapa hari setelah itu, di suatu malam yang tenang dan sedikit lintang, tiba-tiba anak tersebut menghadap kembali ke penjaga lorong untuk mempertanyakan kejelasan barangnya.

Tanpa basa-basi, penjaga lorong memberitahukan kepada anak itu bahwa ia akan digundul. Seketika anak itu tercengang mendengar jawaban demikian. Tapi untung saja ada temannya yang siap menjadi jubir untuk mengklarifikasi atas kasus yang terjadi ini.

Mereka mengklarifikasi bahwa barang yang dibawa adalah sisa dari kesepakatan ketika masa smp dulu untuk dibawa ke pondok dengan tujuan diberikan kepada teman-teman yang membutuhkan atau disumbangkan ke tempat lainnya.

Penjaga lorong tertegun mendengarkan klasifikasi tersebut, dan sempat tidak berkutik untuk menanggapinya kembali. Namun untungnya ada pengurus jamil yang menjelaskan seluk beluk kasus pelarangan barang tersebut.

Beliau mengawali penjelasannya secara kronologis pelarangan kasus tersebut karena ada dari sebagian orang yang tidak mampu seperti kewajibannya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun mereka mengelak karena sebelumnya telah terjadi kesepakatan dalam pembuatan barang tersebut. “Meskipun begitu, tetap saja pemakaian barang buatan sendiri ataupun kelompok secara masif dilarang karena akan menimbulkan kecemburuan sosial dan lagi-lagi kembali ke anak yang tidak mampu tadi” ujar pengurus jamil menanggapi tanggapan mereka.

Sejenak mereka mencerna tanggapan dari pengurus jamil dan sepersekian detik dari itu, mereka bertanya, “lalu apakah ada hukumannya meskipun pembuatan barang itu semasa smp dulu?”. “Ya, ada hukumannya. Kan barangnya di sini sekarang”. Jawab pengurus jamil.

Karena tidak puas dengan jawaban tersebut, jubir anak tersebut bertanya kembali, “berarti teman-teman saya yang di luar kena hukum juga dong, kan mereka yang buat, data dan segala macamnya sedangkan kami tidak tahu apa-apa?”.

Dengan santai pengurus jamil menjawabnya dengan analogi, “Misalnya ada suatu perusahaan yang memiliki karyawan dan ada sebagian karyawan yang sudah putus kontrak, kemudian perusahaan tersebut mendapatkan bonus dkk. Lalu apakah mereka yang putus kontrak juga mendapat bonus, kan nggak dapat toh? Nah begitu juga dengan kasus ini, kan nggak mungkin teman kalian yang nggak di sini dihukum?”

Lagi-lagi jubir itu tidak puas dengan jawaban pengurus jamil dan masih bersikukuh dengan pertanyaannya. Akhirnya pengurus jamil menanggapinya dengan pertanyaan, “sudah izin belom?”.

Seketika jubir dan temannya menjawab serentak belom. “Lha itu masalahnya. Ketika apapun yang masuk ke sini, itu harus ada izin dulu. Di manapun itu, mesti ada izinnya dulu”. Tegas pengurus jamil.

Akhirnya mereka bisa menerima sejenak penjelasan dari pengurus jamil. Tapi tetap saja mereka meminta kejelasan dari barangnya dan pengurus jamil memberikan alternatif untuk mereka langsung mengutarakan klarifikasinya ke pengurus lainnya atau menunggu hasil pertimbangan dari pengurus jamil yang akan diutarakan dulu kepada pengurus-pengurus lainnya.

Dinginnya angin malam mulai menyelinap melawati rongga-rongga baju yang terbuka. Perbincangan yang awalnya panas pun mulai mencair dengan sendirinya dan akhirnya waktu yang memberikan jarak di antara mereka dalam mencari jawaban dari suatu permasalahan yang ada.

Izin adalah hal yang mungkin dianggap sepele, tapi dengan izin hidup ini menjadi aman masze.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *