Stadium Generale STIQSI: Membahas Tentang Al-Qur’an, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban Bersama Pemateri dari Malaysia

Di penghujung bulan Januari ini, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah STIQSI) kedatangan tamu agung dari  negara tetangga, yakni Malaysia. Beliau adalah Al-Ustadz Mohd. Rashidi, Presiden Lestari Hikmah Malaysia. Kedatangan beliau disini sebagai tamu sekaligus pembicara pada Seminar Studium Generale STIQSI Lamongan, dengan mengusung tema “Al-Qur’an, Ilmu Pengetahuan, dan Peradaban”.

Seminar ini bertempat di Aula Ponpes Al-Ishlah, dengan dihadiri oleh seluruh Dosen STIQSI Lamongan, mahasiswa-mahasiswi STIQSI, dan beberapa perwakilan dari masing-masing kelas 12 MA Al-Ishlah. Tepat pukul 07.00, seminar dibuka oleh Al-Ustadzah Sarah Safinah An-Najjah (MC). Kemudian dilanjut dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan Indonesia Raya serta Hymne STIQSI yang diikuti oleh seluruh peserta seminar.

Sebelum diskusi dimulai, Al-Ustadzah Anisa Jaya Rahmawati, M. Pd., sebagai moderator seminar membacakan terlebih dahulu CV dari kedua pemateri pagi ini, yakni Al-Ustadz Dr. Piet Hizbullah Khaidir, MA. (selaku ketua STIQSI Lamongan) dan Al-Ustadz Mohd. Rashidi.

Sebagai permulaan materi, Al-Ustadz Rashidi sedikit bercerita mengenai perbedaan ekonomi antara Indonesia dan Malaysia, dengan menggunakan bahasa Melayu dan nada yang khas. Sebagaimana tema pada seminar, Al-Ustadz Rashidi mengatakan, bahwa ilmu pengetahuan ini adalah suatu hal yang penting dan abadi akan keberadaannya. Untuk mendapatkannya pun tidak mudah.

Selanjutnya, Al-Ustadz Rashidi menjelaskan kepada seluruh peserta semninar tentang perbedaan sumber ilmu pengetahuan yang diperoleh ilmuwan-ilmuwan Islam tedahulu dengan ilmuwan-limuwan dari Barat di zaman modern.

Al-Ustadz Piet, sebagai pemateri kedua menambahkan, bahwasannya perbedaan tersebut dapat digabungkan, untuk itu membutuhkan adanya kerjasama antara keduanya (Ilmuwan Klasik dan Barat) dalam mengembangkan dan memajukan peradaban ilmu pengetahuan untuk masa sekarang ini dan masa yang akan datang.

Diskusi antara kedua pemateri pada seminar ini sangat membuka wawasan seluruh peserta seminar, termasuk siswa-siswi kelas 12 MA Al-Ishlah yang menurut mereka pembahasan ini merupakan pembahasan yang jauh sekali dari materi pelajaran mereka. Namun, mereka tetap menikmatinya.

Sedangkan, bagi mahasiswa-mahasiswi STIQSI, pembahasan seperti ini sangat menarik. Karena berkaitan dengan materi pada mata kuliah mereka.

“Alhamdulillah sangat bersyukur bisa ikut seminar ini, saya puas sekali dengan materi yang disampaikan oleh pemateri-pemateri yang hebat, seperti AL-Ustadz Piet dan Al-Ustadz Rashidi.” Testimoni dari Al-Ustadzah Aida Ayu Lestari, mahasiswi STIQSI semester delapan.

Diakhir seminar, Al-Ustadz Rashidi memberikan hadiah kepada dua mahasiswa STIQSI yang ditunjuk oleh Al-Ustadz Piet untuk menjawab pertanyaan dari beliau seputar ekstrim agama. Dua mahasiswa tersebut ialah, Al-Ustadz Bayu Setiawan dan Al-Ustadzah Firdaning Fajrillah, selaku alumni STIQSI yang baru lulus tahun lalu. Kemudian, seminar pun ditutup dengan pemberian cinderamata oleh Al-Ustadz Piet kepada Al-Ustadz Rashidi.

Reporter : Fani Firda

Editor : Yeni Ika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *