SPIRIT PANCA JIWA KEPONDOKAN SEBAGAI MOTIVASI BELAJAR SANTRI DI TENGAH PANDEMI

Oleh Ustadz Ananda Maulana Tegar Renaldi

Dalam situasi pandemi yang semakin melonjak saat ini, segala sesuatu memang menjadi semakin susah. Tak hanya karena keharusan untuk melakukan isolasi mandiri dan penerapkan protokol kesehatan, adanya kebijakan-kebijakan yang membatasi usaha masyarakat seperti PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) juga seolah semakin menambah kesusahan yang ada. Masyarakat dipaksa menghadapi pandemi dengan persiapan yang minim, terlebih bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Pandemi ini tak hanya menyerang sektor perekonomian nasional namun juga pada dunia pendidikan, dari tingkat terbawah hingga yang paling atas baik itu negeri maupun swasta. Banyak sekolah dan perguruan tinggi yang terpaksa melakukan kegiatan belajar mengajar secara online. Sehingga secara tidak langsung siswa juga diharuskan untuk memiliki handphone dan paketan internet, tak terkecuali masyarakat tingkat bawah yang notabenya hidup dengan keterbatasan.

Menghadapi kenyataan pahit yang sedang terjadi, pondok pesantren Al-Ishlah masih terus melakukan kegiatan kepondokannya secara tatap muka, walau dengan catatan serta pertimbangan-pertimbangan tertentu seperti penutupan kunjungan santri, pembatasan kegiatan dan waktu kegiatan belajar mengajar. Hal ini jelas memunculkan paradigma-paradigma baru bagi santri, terutama santri baru yang masih belum mengenal dunia kepondokan. Munculnya perasaan terbebani menimbulkan perasaan tidak kerasan (betah) di pondok.

Untuk menghadapi problematika yang terjadi karena pandemi ini, perlu dilakukan suatu usaha konkrit agar permasalahan-permasalahan yang ada dapat diatasi. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan semangat panca jiwa kepondokan. Sebagai santri pondok pesantren Al-Ishlah, panca jiwa kepondokan bukanlah hal yang asing didengar oleh telinga santri. Panca jiwa pondok yang dimaksud adalah nilai Keikhlasan, Kesederhanaan, Ukhuwah Islamiyah, Kemandirian, Kebebasan serta Ketaatan kepada kyai.

Keikhlasan. Setiap apa pun yang kita kerjakan dengan keikhlasan pasti akan terasa ringan. Seperti halnya seorang santri ketika diharuskan untuk melakukan isolasi padahal kita tahu bahwa isolasi adalah kegiatan yang selain membosankan juga memberatkan. Pasalnya santri tidak bisa melakukan kegiatan seperti biasa dan harus rela untuk menerima meskipun dirinya sendiri tidak menghendakinya. Maka dari itu, keikhlasan merupakan cara efektif yang bisa digunakan. Dengan keikhlasan akan memudahkan diri sendiri dalam melakukan segala aktivitas kegiatan. Selain itu, keikhlasan juga bisa menjadi faktor bertambahnya keimanan seorang hamba. Jadi tunggu apa lagi, ikhlaskan hati dalam menerima segala situasi dan kondisi, niscaya makna hidup akan segera kita jumpai.

Kesederhanaan. Banyaknya permasalahan serta kesusahan yang ada seharusnya tidak membuat seorang santri larut terlalu lama didalamnya. Terlebih lagi sampai terseret dan tidak bisa keluar dari labirin masalah tersebut. Oleh karena itu, menjadi santri itu harus kuat. Kekuatan itu bisa didapat dengan hidup sederhana. Artinya seorang santri seharusnya membuat semua permasalahan yang seolah besar menjadi kecil sehingga mudah untuk dilalui. Sebab jikalau kita sadar dunia dan seisinya ini sebenarnya kecil jika dihadapkan kepada Allah Swt Yang maha besar. Jadi, hidup sederhana bukanlah hidup yang bermalas-malasan tetapi bagaimana dalam hidup itu tabah, sabar dan teguh dalam menghadapi segala kesulitan-kesulitan yang terjadi karena hidup adalah perjuangan.

Ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah Islamiyah merupakan persaudaraan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Sejatinya semua kesusahan, hambatan dan cobaan yang ada merupakan awal mula terjalinnya tali persaudaraan yang kuat di antara para santri. Hal ini terjadi karena rintangan tersebut tak hanya menyerang kepada perorangan atau individu saja, tetapi semua santri yang ada di pondok. Sehingga dengan berlatar kesamaan nasib tersebut, santri dapat saling memahami dan melengkapi satu sama lain.

Kemandirian. Segala kesukaran yang menimpa diri seorang santri tidak boleh sampai membebani orang lain. Semua permasalahan seharusnya dapat diatasi oleh diri sendiri. Dengan kemandirian diri, sejatinya seorang santri telah menolong dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhannya serta melaksanakan tugas dan kewajibannya. Dengan demikian, santri akan melaksanakan berbagai macam tugasnya tanpa menunggu dibantu terlebih dahulu sehingga santri akan memiliki pribadi yang kuat dan tangguh untuk bekal menghadapi tantangan zaman yang semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Kebebasan. Kebebasan yang dimaksudkan bukanlah kebebasan yang terserah diri sendiri karena kebebasan tersebut seringkali dikendalikan oleh akal yang bersifat materi bukan murni dari hati nurani. Artinya kebebasan tersebut masih sebatas pada perbuatan-perbuatan yang sangat mungkin dipengaruhi oleh hawa nafsu diri. Oleh karena itu, kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang positif, yaitu kebebasan yang berlandaskan pada nilai-nilai tauhid. Seseorang tidak dibenarkan melakukan hal yang merugikan orang lain karena akan menyalahi nilai-nilai tauhid. Dalam hal ini, santri diberikan kebebasan untuk berkreasi dalam kegiatannya meskipun kondisi pandemi, selagi tidak merugikan orang lain atau melanggar aturan yang sudah ditetapkan.

Ketaatan kepada kyai. Ketaatan kepada kyai adalah ketaatan yang khas, yang tidak dimiliki oleh lembaga-lembaga pendidikan di luar pesantren. Ketaatan kepada kyai berbeda dengan ketaatan kepada kepala sekolah, direktur kantor atau pejabat pemerintah. Sebab ketaatan kepada kyai mengandung unsur-unsur keselamatan hidup baik di dunia dan akhirat. Jadi, sudah sepatutnya seorang santri mentaati kyai-nya, terlebih pada kondisi pandemi yang serba susah seperti ini.

Tidak bisa dipungkiri, wabah covid-19 hampir menyerang segala aspek kehidupan masyarakat, tak terkecuali pada pondok pesantren Al-Ishlah yang ikut terkena imbasnya dengan munculnya banyak permasalahan. Meski begitu, bagi santri pondok pesantren Al-Ishlah segala permasalahan yang ada akibat wabah covid-19 bukan menjadi alasan untuk bermalas-malasan dalam belajar. Semoga  dengan semangat panca jiwa kepondokan yang sudah dijelaskan di atas dapat menambah motivasi belajar santri pondok pesantren Al-Ishlah. Keep spirit brother !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *