PESAN SANG KIAI

Ketika pertama kali masuk PP Al-Ishlah Sendangagung, saya tidak mengenal satu pun anak yang ada di pondok ini. Bahkan saya pun juga tidak mengenal siapa pendiri dan pengasuh Al-Ishlah.

Waktu berjalan. Hari menjadi minggu. Minggu menjadi bulan. Bulan menjadi tahun. Tak terasa, lamanya waktu itu menjadikan saya mengenal siapa pendiri sekaligus pengasuh Al-Ishlah, yaitu KH Muhammad Dawam Saleh. Kiai yang memiliki jiwa keikhlasan tinggi.

Banyak kesan yang saya miliki terhadap Kiai Dawam selama saya mondok di sini. Tetapi kesan yang paling melekat dalam ingatan saya adalah ketika Kiai Dawam bercerita dalam khotbah iftitah (khotbah pembukaan bagi santri baru) tentang awal mula berdirinya Al-Ishlah.

Betapa susah payah Kiai Dawam merintis pondok. Dengan perjuangan yang hebat dan kerja keras, dari yang mulanya tidak ada satu genteng pun hingga sekarang menjadi gedung-gedung bertingkat berupa kelas dan asrama.

Kemajuan Al-Ishlah ini bukan karena sulap yang dengan cepat dan mudah merubah sesuatu yang tidak ada menjadi ada, melainkan semua tidak lepas dari kegigihan dan keikhlasan Kiai Dawam dalam merintis pondok ini hingga sekarang terkenal di seluruh penjuru negeri, bahkan sampai ke luar negeri.

Kiai Dawam selalu mengajarkan kepada para santri makna keikhlasan dalam belajar, bekerja, dan beribadah. Kiai Dawam tidak pernah mengharap uang sepeser pun dari apa yang telah beliau kerjakan selama ini, dan beliau juga tidak memikirkan sama sekali masalah berapa banyak gaji yang beliau dapatkan dalam mendidik para santri.

Sepanjang perjalanan merintis pondok ini, dari sepuluh santri hingga sekarang menjadi ribuan santri, beliau selalu memberikan nasihat melalui kuliah subuh. Beliau ikhlas mengerjakan semua itu hanya untuk mendidik para santri agar menjadi manusia-manusia bermanfaat bagi umat.

Hal inilah yang membuat saya sangat kagum dengan Kiai Dawam, sekaligus yang membedakan Kiai Dawam dengan kebanyakan kiai model sekarang. Banyak orang sekarang yang motivasinya “Kalau tidak ada uang tidak jajan”. Maksudnya, kalau tidak dibayar atau digaji, buat apa susah-susah mengerjakan ini-itu, seolah-olah uang menjadi patokan dari segala sesuatu. Ya, memang segala sesuatu menggunakan uang, tetapi uang itu bukan segalanya.

Setahu saya, Kiai Dawam selain menjunjung tinggi nilai keikhlasan, dalam diri beliau juga ada sikap rajin. Dalam segala kebaikan.

Sehari-hari, beliau selalu menggunakan waktu kosong dengan membaca dan memperbanyak pengetahuan. Bagi saya, Kiai Dawam orang yang sangat haus ilmu, dan beliau tidak pernah merasa bosan untuk memperbanyak ilmu. Beliau juga menyalurkan kebiasaan membaca kepada para santri. Membaca, kata Kiai Dawam, adalah jendela ilmu.

Kiai Dawam sering berpesan kepada para santri dalam setiap ceramah begini: “Cintailah ilmu, amal, dan ibadah, niscaya dunia akan datang dengan sendirinya. Dan janganlah kalian cinta terhadap dunia, karena cinta dunia adalah sumber segala kemaksiatan.”

Pesan Kiai Dawam itu senantiasa melekat di benak saya, dan akan selalu saya ingat dan amalkan sepanjang hayat.

[Ditulis oleh Shafni Ulwan Tansiqi dalam buku Tarbiyah bil Hal]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *