Mengimani Malaikat dan Korelasinya Pada Kebaikan #2

Oleh The Voluntaryst (Tim Pencatat Kuliah Subuh)

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Dua)

Ahad, 12 September 2021/5 Safar 1443 H

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ وَالْمُرْسَلٰتِ عُرْفًاۙ

Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan, Para malaikat adalah makhluk-makhluk yang diutus oleh Allah untuk kebaikan saja.

Kata al-mursalaat itu yang diutus, ‘urfaa itu untuk kebaikan. فَالْفٰرِقٰتِ فَرْقًاۙ dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang baik dan yang buruk) dengan sejelas-jelasnya, Kemudian malaikat juga al-faariqaati farqaa, yang membedakan antara batil dan hak.

Mereka tidak mungkin mengikuti yang batil. فَالْمُلْقِيٰتِ ذِكْرًاۙ dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu, Falmulqiyaati dzikraa, mereka juga yang membaca zikir-zikir (wahyu). فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).

Mereka juga al-mudabbiraati amraa, yang mengurus urusan-urusan. Kemudian malaikat tidak akan taat kepada siapapun selain Allah, termasuk manusia. Jadi kalau ada manusia memerintahkan malaikat, meskipun manusia itu nabi, “Wahai malaikat, datanglah ke sini”, umpamanya.

Malaikat tidak akan berkenan. Ia hanya akan berkenan kalau Allah yang memerintahkan. Saya sering kali mendengar dulu ada seseorang disebut ‘kiai’, tapi merangkap dukun. Katanya ia ditemani oleh malaikat-malaikat, dan mengetahui dari mereka sesuatu, umpamanya.

Kemudian dia bisa menyuruh-nyuruh malaikat. Itu pasti keliru, karena apa? malaikat tidak bisa disuruh-suruh. Ada dulu seseorang berkata, “Oh, saya dibantu oleh malaikat-malaikat”. Yang benar apa? Dibantu oleh jin.

Kalau jin bisa diperintah oleh manusia atau dukun. Itu dinamakan “istikhdam”, artinya menggunakan jin sebagai “khadim” (pelayan). Jin-jin tersebut oleh para dukun atau paranormal dipakai sebagai “mustakhdam” (pembantu).

Kalau malaikat? Tidak. Dukun sering kali mengaku-ngaku tahu. Umpamanya, ‘kalau tongkat ini dilempar, pasti jadi ular’. Bisa dipastikan itu dukun yang dibantu oleh jin. ‘Kalau kertas ini kita potong-potong seukuran uang seratus ribu, kita simpan di atas lemari, setiap hari kita baca sesuatu’, meskipun surat Yasin, ayat kursi, surat al-Ikhlas, umpamanya.

Kalau ia bisa memastikan uang itu bisa berubah menjadi seratus ribu rupiah, maka itu pasti jin. Kalau seorang ulama (yang alim) tidak bisa begitu. Contohnya siapa? Nabi Musa. Coba setingkat Nabi Musa tidak mengerti kalau tongkatnya bisa menjadi ular ketika diperintahkan Allah.

Di dalam Al-Qur’an dikisahkan. فَاَلْقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِيْنٌ ۖ Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya. Setelah menjadi ular besar Nabi Musa takut. Ia tidak tahu kalau tongkatnya bisa menjadi ular besar.

Demikianlah. Kalau sudah bisa memastikan ini pasti begini/begitu, bisa sembuh, pasti kaya dan seterusnya, biasanya menggunakan jasa jin. Kalau malaikat tidak bisa, tapi ia selalu berusaha membantu orang-orang yang baik atas perintah Allah.

Kalau jin itu seperti yang kita sampaikan beberapa waktu yang lalu, menurut hadits ada tiga bentuknya. Yang pertama berbentuk seperti manusia, mempunyai kaki, tangan dan kepala. Biasanya menakutkan seperti Genderuwo ataupun manusia, seperti tuyul (anak kecil).

Ada juga yang berbentuk seperti binatang seperti ular atau burung. Ada yang berbentuk seperti angin, tiba-tiba ada kemudian langsung hilang. Ada yang seperti manusia, hewan dan ada yang seperti angin. Kalau malaikat disebutkan dalam Al-Qur’an mempunyai sayap, ada yang dua, tiga, atau empat.

Kalau terbang juga begitu, sekali terbang sudah tidak kelihatan karena begitu cepatnya. Sedetik, apalagi menit, sudah tidak kelihatan. Jin-jin juga banyak yang mempunyai kesempatan seperti itu. Maka menurut Al-Qur’an jin juga banyak yang pergi ke langit karena diperintah oleh dukun, oleh manusia untuk mencari berita.

Mencari berita di atas langit sana (istaraqassam’a), yaitu mencuri-curi berita ke langit

وَّاَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاۤءَ فَوَجَدْنٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَّشُهُبًاۖ

Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.

Umpamanya ada seorang dukun yang ditanya oleh seorang yang datang padanya, “Pak dukun, Mbah dukun, saya nanti kerja apa yang bisa menjadikan saya kaya?” Kemudian dukun masuk ke kamar khusus yang ada jin atau khadam-nya dan berkata, “Saya ditanyai oleh si ini nanti bagaimana…”

Jin itu langsung naik ke langit untuk mencari berita dari Allah. Orang akan apa atau bekerja apa yang akan membuatnya kaya akan diberitahu. Jin itu di langit hanya beberapa menit saja mencari, karena tidak memiliki badan, sehingga hanya ruhnya saja.

Menurut al-Qur’an kalau kita melihat di waktu malam, umpamanya, ada bintang yang meluncur kemudian seperti meledak—kata orang Sendang “bintang ngaleh”, sebenarnya itu rujuuman lisysyayaathiin. Itu jelas disuruh untuk melempar setan.

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ

Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, Jadi bintang-bintang itu ada yang seperti terbang, berpindah, kemudian hilang untuk melempar setan yang pergi ke langit untuk mencuri berita. Allah tidak rela dengan perbuatan itu.

Kalau bertanya kepada malaikat, ia tidak akan pernah mau menjawab. Jadi kalau jin, lebih-lebih jin yang senang sekali menyesatkan manusia, bersifat buruk, berharap dapat mencuri berita langit supaya manusia meminta-minta kepada mereka.

Inilah beberapa perbedaan di antara malaikat dan jin. Yang penting bagi kita adalah yakin bahwa malaikat selalu menghampiri, mendekati dan membantu siapa saja yang berbuat saleh-salehah (kebajikan).

Dan kita tidak tahu itu, tapi para malaikat senang sekali dan yang jelas Allah-lah yang sesungguhnya membantu kita.

Baik, demikianlah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *