MENCARI ILMU BAGIAN DARI JIHAD DI SABILILLAH #3

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Tiga)

Ahad, 1 Agustus 2021/22 Zulhijah 1442

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

Imam Syafi‘i ra. pernah berkata:

 أَخِيْ لَنْ تَنالَ الْعِلمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ

Wahai saudaraku! Tidaklah engkau mendapatkan ilmu, kecuali dengan keenam hal. Aku kabarkan kepadamu perinciannya: kecerdasan, kemauan, kesungguhan, biaya, berkawan dengan guru, sepanjang masa.

Syarat pertama adalah kecerdasan (ذَكاءٌ). Kecerdasan ini juga ada tingkatan-tingkatannya di dalam diri kita. Ada tingkatan orang yang cerdas sekali, sekali ia menghafal langsung hafal, otaknya langsung berjalan. Ada yang berkali-kali tidak hafal juga, itulah kecerdasan. Di dalam bahasa Arab “ذَكاءٌ”, bisa juga “فَطَانَةٌ”, kecerdasan. Keduanya bentuk ismul masdar. Kalau orang yang cerdas “ذَكِيٌّ” (memakai huruf zal). Kalau “زَكِيٌّ” (memakai huruf zai), artinya “طَهِيْرٌ”, yaitu bersih atau suci.  Misal, “dia orang yang cerdas” artinya, “هُوَ ذَكِيٌّ” (dari masdar “ذَكاءٌ”) atau bisa juga “هُوَ فَاطٍ” (dari masdar “فَطَانَةٌ”).

Syarat kedua adalah kemauan yang keras (حِرْصٌ), atau tamak, tetapi dalam hal kebaikan, bukan tamak dalam keburukan. Bukan pula dalam arti rakus harta atau makan, tetapi ilmu. Ada buku ini dibaca, buku itu dibaca, buku sejarah dibaca, buku ilmu pengetahuan teknologi dibaca, buku hukum sosial dibaca, buku keadaan masyarakat, etika, moral, ideologi, semuanya dibaca. Semua buku yang ada di rumahnya dibaca semuanya. Itulah tamak “حِرْصٌ”, bahasa Inggrisnya “curiosity”, keingintahuan atau rasa penasaraan yang kuat. Demikianlah, tamak membaca buku atau mencari ilmu. Yang ketiga adalah kesungguhan (اجْتِهَادٌ), dan ini akan diterangkan di kuliah subuh yang akan datang dengan lebih panjang.

Syarat keempat adalah mempunyai uang (دِرْهَمٌ). Kalau orangtuanya tidak mempunyainya, maka ada jalur beasiswa. Jadi anak-anak sekalian yang ada di sini semuanya bisa masuk ke sini karena ada uang dari para orangtua. Setiap bulan membayar kurang lebih Rp 560.000-600.000. Masuk pertama kurang lebih Rp 3.000.000. Kalau di pondok yang lebih besar lebih mahal lagi. Kalau pondok di kota-kota lebih mahal lagi. Kalau di Gontor setiap bulan hampir Rp 700.000, mungkin Rp 670.000. Kalau di kota, Jakarta misalnya, bisa Rp 1.000.000 lebih setiap bulannya. Kalau orangtuanya tidak mampu, maka sulit. Itulah dirham. Sekolah di mana-mana, kalau tidak ada yang membiayai, biasanya tersedia beasiswa. Inilah dirham, nama dari mata uang di Arab, semacam rupiah di Indonesia.

Yang kelima adalah berkawan dengan guru (صُحْبَةُ أُسْتَاذٍ). Jadi kalau dulu, belum ada yang namanya sekolahan, orang pandai didatangi. Ia ditemani, didatangi terus ke rumahnya. Pondok-pondok dulu, jika ada seorang ulama, ada orang yang pandai, kemudian didatangi ke rumahnya, sampai menginap, bahkan membangun pondok dan perumahan di sekitarnya. Inilah makna dari berkawan dengan guru. Sekarang ini tidak mesti berguru pada guru, tetapi banyak yang cukup memakai buku. Akan tetapi kita juga kesulitan kalau tidak berguru di sekolahan untuk mengerti bahasa Arab. Yang demikian itu tidak bisa langsung mengerti kecuali kalau orang Arab, harus belajar kepada seorang guru.

Yang keenam adalah sepanjang masa (طُوْلُ زَمَانٍ). Jadi harus memakan waktu yang begitu lama. Sekarang saja untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) memerlukan waktu selama enam tahun, kemudian SLTP/SLTA, SMP/SMA, Tsanawiyah/Aliyah itu enam tahun juga, totalnya menjadi dua belas tahun. Sekarang ini untuk bisa menjadi pegawai negeri belum bisa sekadar setingkat SMA atau Aliyah, harus Strata 1 (S1), dapat ditempuh sekitar tiga atau empat tahun. Kemudian Strata 2 (S2) selama dua tahun dan Strata 3 (S3) juga dua tahun, tetapi ini lebih sulit lagi. Untuk mendapat gelar doktor membutuhkan waktu selama dua tahun dengan penelitian-penelitiannya. Totalnya menjadi dua puluh tahun. Jadi kalau seseorang hendak mendapatkan ilmu yang luas, mendalam, sampai mendapat gelar doktor dimulai dari SD terus-menerus dua puluh tahun. Itu biasanya sulit karena akan ada halangan macam-macam. Inilah maksud sepanjang masa.

Keenam hal ini usahakan kita memilikinya yaitu kecerdasan (ذَكاءٌ), kemauan kuat (حِرْصٌ), kesungguhan (اجْتِهَادٌ), seperti sebuah mahfudzat, “مَنْ جَدَّ وَجَدَ وَمَنِ اجْتَهَدَ حَصَلَ” (Barang siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan dan barang siapa yang rajin akan berhasil), kemudian uang (دِرْهَمٌ), berkawan dengan guru (صُحْبَةُ أُسْتَاذٍ) dan sepanjang masa (طُوْلُ زَمَانٍ). Inilah keenam syarat untuk memperoleh ilmu. Yang paling penting adalah “حِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ” (kemauan kuat dan kesungguhan) yaitu rajin membaca. Dulu sebelum ada sekolahan, kalau kita sudah mempunyai ilmu alatnya yaitu bahasa, kita tinggal membaca (berijtihad) sebanyak-banyaknya. Kunci ilmu agama adalah bahasa Arab, kunci ilmu umum—selain bahasa kita—itu bahasa Inggris. Kalau kita mempunyai keduanya, kita tinggal membaca sebanyak-banyaknya dan kelak akan menjadi orang yang berilmu.

Baik, demikianlah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *