Memupuk dan Menyemai Hasil dari Ladang Kampung Damai

Oleh Novia Aidatuz Zahiro Rosyidah, Alumni Al-Ishlah tahun 2017 dan Alumni STIQSI Angkatan Pertama. Sekarang mengabdi di Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School At-Taqwa Gosari Ujung Pangkah, Gresik.

Tapak kaki yang awalnya terasa begitu yakin ketika menginjakkan kaki di bangunan dengan nuansa putih abu-abu itu. Lambat laun, jerit tangis, tapak kaki yang berdarah, jantung yang seringkali terforsir dengan cobaan yang berjatuhan, ditambah lagi sodokan dari berbagai penjuru arah, membuat sebuah nafsu untuk memutar arah.

Saya benar-benar terkurung, tidak mampu berjalan. “Apakah saya salah dalam melangkah?” mungkin seperti itu sekelebat pemikiran yang memenuhi otak saya kala itu.

Teringat sebuah pertanyaan teman saya yang dia lontarkan ke orang tuanya ketika baru menginjakkan kaki di pondok pesantren (menjadi santri baru), “kenapa saya harus mondok untuk mencari ilmu? padahal sekolah diluar pondok juga lebih bagus.” Pertanyaan itu sama dengan pertanyaan saya, namun posisinya saya akan menjadi mahasantri baru di Kampus STIQSI.

Ditambah lagi, hari-hari yang terasa begitu lama. Dituntut untuk bisa mengesampingkan ego masing-masing untuk kepentingan bersama. Tak jarang fitnah dari luar juga yang harus diabaikan karena sangat menganggu pengabdian ini.

“Yang paling penting dari jiwa Al-Ishlah adalah jiwa keikhlasan. Yaa muqallibal quluub, tsabbits qolbii, alaa dii nik.”

Ungkapan dari Kiyai Dawam yang selalu terngiang dalam pikiran saya. Memang tidak mudah untuk merelasikannya, namun saya terus berusaha dan menjadikan itu semua sebagai tantangan. Ketika itu, saya mencoba membuka hati saya kembali untuk berjuang, mencari titik untuk bertahan dan menekuni rutinitas menyimak kuliah subuh.

Sebuah rutinitas yang saya geluti semenjak dulu menjadi santri Madrasah Aliyah Al-Ishlah. Dari sinilah saya kembali menemukan kekuatan. Rutinitas yang menjadi booster tersendiri ketika manik mata ini melihat secara jelas, bagaimana keistiqomahan yang di tarbiyahkan oleh Kiyai Dawam Saleh. Bukan hanya mendengarkan, melainkan mencoba mempraktekkan apa yang beliau sampaikan. Hal itu sungguh membuat hidup saya terarah.

Sebuah rasa perjuangan itu kembali saya dapatkan saat saya berada di tahun pengabdian terakhir di Al-Ishlah. Saya diamanahkan untuk terjun ke ranah TU /Administrasi Aliyah, mendengar hal itu, saya benar-benar drop.

“Bagaimana cara saya bersikap, kalau saya salah gimana, disamping itu saya nggak sebegitu mengenal para guru, saya nanti berkomunikasi sama siapa?”

Kalimat itu saya ungkapkan ke sahabat saya ketika pertama kali kami mendapat pembagian job. “Sudahlah, dicoba saja, aku yakin kamu bisa “.

Dalam hati ada secuil ungkapan “iya, kamu mahir bergaul dengan mereka (orang baru), sedangkan saya? notabennya seorang anak yang pemalu, kenapa saya yang diamanahkan mengemban amanah itu?”

Beberapa awal bulan pertama, terasa begitu lama. Sangat lama. Saya harus membiasakan berkomunikasi dengan beliau-beliau yang sudah bermukim lama di tempat ini. Ketika harus berhadapan dengan tatapan sinis santriwati “siapa sih perempuan itu?” karena memang sebelumnya saya tidak mudah menonjolkan diri di muka umum. Apalagi diranah sekolah. Lumrah saja jika ungkapan itu terlontar.

Dan lagi, management waktu saya juga berantakan. Membagi waktu belajar (Me Time), merangkul adho’ khujroh (santriwati di kamar yang saya bina), mengayomi anggota OPPI bagian kesenian (saat itu saya diamanahi untuk membina bagian tersebut), bergelut dengan bapenta (bagian tamu), ditambah lagi dengan pengabdian di ranah ini. Ketika teringat hal itu, rasanya terkikik geli. Tidur beberapa menit saja menjadi waktu terlega bagi saya.

Lambat laun saya sadar, tekad saya bulatkan “kamu harus menebar manfaat untuk sekitar, kalau bukan sekarang, kapan lagi?”

Semakin hari saya menyadari, sebuah ketakutan itu hanya ada dalam pikiran semata, saya justru menemukan keluarga baru dalam mengemban pengabdian saya itu. Saya benar-benar menyadari, dengan kesibukan pengabdian yang telah diamanahkan, akan membentuk jiwa yang baru. Melatih jiwa lebih produktif, dan berdoa menggapai keberkahan-Nya.

Disamping itu, pegangan tangan yang erat dari para sahabat, do’a yang terus dilangitkan dari keluarga di rumah, dukungan dari keluarga baru, jiwa kepondokan yang diajarkan oleh para sesepuh, dan nilai kehidupan saat menjalani kehidupan di pondok ini sungguh menjadi hal yang tidak mungkin terlupa dalam ingatan.

Dari Al-Ishlah, saya mendapat ‘oleh-oleh’ kehidupan yang berharga, dari orang-orang hebat yang tidak mampu saya sebutkan satu persatu. Sebuah nasehat yang sampai sekarang mampu memorable dalam ingatan.

“Saya memimpikan dan membayangkan anak-anak alumni saya yang rajin sholat dhuha, sholat tahajud dan sholat subuh berjamaah, disanalah alumni yang berhasil. Dan saya sangat bangga dan menangis, ketika ada alumni yang mampu mengajar ngaji anak-anak kecil di desanya, padahal dulunya tidak terlihat bakatnya”. 

-K.H. Muhammad Dawam Saleh-

“Keberkahan adalah pilihan yang terbaik. Orang yang menjalani dengan serius maka akan berhasil. Sebaliknya, jika orang itu menjalani dengan berbagai macam drama, maka akan menuai kegagalan. Maka doktrin yang harus dipahami adalah keikhlasan dalam mencari ilmu, mencintai amal, dan mencintai ibadah. Maka usahakan, hati kita selalu dibuka untuk terus melakukan ikhsan, sesuatu yang terbaik”.

-Ustadz Dr. Piet Hisbullah Khaidir, MA.-

Jangan pernah takut terhadap tugas-tugas yang telah diamanahkan”

-Ustadz Ahmad Thohir-

Yang menentukan kualitas diri kita adalah bukan dari selembar ijazah, tetapi bagaimana kontribusi kita pada umat, apakah kita sudah menjadi orang yang menebar manfaat bagi sekitar? ”

-Ustadz drs. Agus Salim Syukron, M. Pd. I.-

“Kedekatan kita pada pengabdian, maka akan menimbulkan kebaikan pada hidup kita”

-Ustadz Arromu Harmuzi, M. Ag.-

“Kalau kalian merasa capek dengan sesuatu hal. Maka yakinkanlah pada diri sendiri, “ya, mungkin inilah ladang pahala bagi saya”

-Ustadzah Khusnul Mawaddah, ST.-

“Kadang kita memandang terlalu jauh tentang kebahagiaan. Padahal kebahagiaan itu dekat. Ada di dalam dada kita, dalam hati yang senantiasa bersyukur”

-Ustadz Yazid, S. Pd. I.-

Menjadi bagian dari Al-Ishlah bukan hanya semerta-merta sebuah sesuatu hal yang lumrah. Melainkan sebuah kesempatan mulia. Dari Al-Ishlah pula saya menemukan diri saya yang baru. Hal itu tidak lepas dari pengalaman kehidupan yang di ajarkan didalamnya, di sertai do’a Kiyai yang tiada putusnya untuk kami, alumni-alumninya.

Penyunting: Yeni Ika Septania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *