Memahami Konsep (Tasawwur) Tentang Allah #4

Oleh The Voluntaryst (Tim Pencatat Kuliah Subuh)

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Empat)

Senin, 6 September 2021/28 Muharam 1443 H

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Setelah  kita yakin dan beriman kepada Allah ta’ala. Ta’ala bermakna ‘tinggi’, biasanya setelah beriman dengan tauhid rububiyyah—Yang Menciptakan, Memelihara, Memberi dan Mematikan hanya Allah—kita harus fokus tauhid uluhiyyah, yaitu menyembah hanya kepada Allah. Kita perlu memperbanyak zikir, artinya mengingat kepada Allah.

Zikir kepada Allah itu disingkat menjadi tiga yaitu tasbih, tahmid dan takbir. Jadi zikir itu mengingat. Ketika kita berzikir, umpamanya, laailaaha illallah, tapi hati kita tidur, namanya kita tidak berniat, hanya berebentuk ucapan saja. Kita mengucap allahu akbar tapi hati dan pikiran kita kosong, maka hanya lisan saja yang berzikir, tidak dengan hati dan pikiran.

Zikir kepada Allah diamalkan setelah yakin hanya Allah yang Mahatinggi, Mahabesar. Disingkat menjadi tiga, subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar.

Apa itu subhanallah? Mahasuci Allah. Suci dari apa? Dari segala bentuk sangkaan. Kita  menyangka bahwa Allah tidak besar atau menyakiti kita. “Ya Allah, engkau menyakiti saya”, umpamanya. Langsung kita bantah dengan berucap subhanallah (Mahasuci Engkau, ya Allah. Engkau tetap Maha Pengasih dan Maha Penyayang).

“Ya Allah, kenapa Engkau diam saja.” Subhanallah. “Ya Allah, kenapa Engkau diam saja ketika ada pemimpin yang curang. Kenapa bencana ini mematikan banyak orang yang saleh. Ini salahnya Allah.” Subhanallah. “Allah ini apa bisa menjadikan saya sukses?”, apabila ada pertanyaan seperti itu maka kita ubah dengan subhanallah. Subhanallah yaitu Mahasuci Allah dari sangkaan-sangkaan. Itu namanya tasbih.

Kemudian alhamdulillah (tahmid), yaitu memuji Allah. Ketika melihat apa saja nikmat yang ada pada kita, meskipun bentuknya adalah sakit, kita tetap mengucapkan alhamdulillah,  bahwasanya sakit itu bisa disembuhkan. Meskipun saya begini atau begitu, alhamdulillah, saya tidak apa-apa. Alhamdulillah orangtua saya masih bisa membiayai. Meskipun sakit, saya bisa berobat, alhamdulillah, masih ada rumah sakit dan dokter yang menyembuhkan.

Alhamdulillah ada kendaraan dan saya bisa mengendarainya. Segalanya berterimakasih kepada Allah. Alhamdulillah, meskipun tidak terpilih menjadi lurah, masih lebih baik daripada nanti tidak amanah. Alhamdulillah, meskipun kalah dalam pemilihan bupati, tidak menjadi bupati karena hasil korupsi. Karena banyak yang menjadi bupati, menteri, anggota DPR hasil dari sogokan korupsi.

Alhamdulillah, meskipun saya miskin saya tidak makan dengan hasil yang tidak baik, semuanya halal. Dalam setiap hal kita harus mengucapkan alhamdulillah.

Kemudian allahu akbar (takbir) adalah optimisme kita. Apakah saya nanti bisa menjadi menteri? Bisa saja. Kalau Allah menginginkan maka semua hal bisa terjadi. Inilah mengingat Allah. Kita berzikir kepada Allah Yang Maha Kuasa seperti itu. Inilah iman yang benar. Sering juga disebut tasbih, tahmid dan takbir, “laailaaha illa Allahu wahdah.

Laa Syariikalah. Lahul mulku walahul hamdu wahuwa alaa kulii syai’in qadiir.” Jika kita membacanya dalam sehari lebih dari seratus kali, setan tidak bisa mengganggu. Jin setan tidak bisa menggoda kita. Tiada tuhan selain Allah. Yesus bukan tuhan. Brahma, Wisnu dan Siwa bukan tuhan. Jin dan malaikat bukan tuhan. Wali-wali bukan tuhan.

Allah memiliki kerajaan, kekuasaan dan tidak ada yang layak untuk dipuji. Laailaaha illa Allahu wahdah. Laa Syariikalah (tasbih). Lahul mulku walahul hamdu (tahmid). Kemudian wahuwa ‘alaa kulii syai’in qadiir (takbir). Allah mampu atas segala sesuatu.

Takbir itu optimisme. Apakah saya bisa begini? Yang penting berusaha dengan cara yang halal, sungguh-sungguh, kerja keras, berkualitas dan ikhlas. Demikianlah kalau kita beriman hanya kepada Allah. Islam mengajarkan seperti ittu.

Demikianlah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *