MEMAHAMI DEFINISI TASYRIK DAN PERKARA IBADAH HAJI #2

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Dua)

Kamis, 22 Juli 2021/12 Dzulhijjah 1442

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

“هَذَا الْيَوْمُ هُوَ الْيَوْمُ الثَّانِيْ مِنَ التَّشْرِيْقِ” (hari ini adalah hari kedua tasyrik). Seperti diterangkan kemarin, tasyrik bermakna menjemur atau “تَجْفِيْفٌ”, bentuk isim masdar dari “جَفَّفَ-يُجَفِّفُ-تَجْفِيْفًا” (menjemur). Misalnya kalimat, “أَنَا اُجَفِّفُ قَمِيْصِيْ الَّذِيْ غَسَلْتُهُ انِفًا” (saya sedang menjemur baju saya yang tadi telah saya cuci). Orang-orang yang sedang menunaikan haji sekarang di Mina sedang “مَبِيْتٌ” (menginap), berasal dari kata “باَتَ-يَبِيْتُ-بَيْتًا وَ مَبِيْتًا”, bermakna tempat menginap. Misalnya, “أَيْنَ مَبِيْتُكَ” (Di mana rumahmu?) atau “مَاذَا باِللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ rumah?” (apa makna rumah dalam bahasa Arab?), “يَجُوْزُ مَبِيْتٌ، بَيْتٌ أَوْ مَنْزِلٌ” (boleh mabit, bait atau manzil). Kalau “مَنْزِلٌ” bermakna tempat turun. Itulah makna rumah dalam bahasa Arab, sedangkan bahasa Inggris “house” atau “home”.

Keduanya—“house” dan “home”—memiliki perbedaan dalam penggunaannya, kendati sama-sama bermakna rumah jika diterjemahkan. Pada umumnya kata “house” digunakan untuk menunjukkan suatu bangunan fisik rumah, baik ditempati atau tidak, meliputi semua bangunan dalam rumah tersebut. Berbeda halnya dengan kata “home”, ia digunakan untuk menunjukkan tempat di mana seseorang merasakan sebuah kenyamanan. Kata “home” bersifat lebih personal karena menunjukkan tidak sekadar bangunan, tetapi juga mencakup orang-orang dan kegiatan sehari-hari di dalamnya. Selain itu lebih cenderung memiliki relasi emosional karena seseorang pernah dilahirkan di sana atau sejak kecil telah menempatinya.[1]    

Menginap atau bermalam di Mina adalah keharusan. Jadi, mulai hari raya Iduladha—dua hari lalu yaitu hari Selasa ketika ke Mina—paginya langsung melempar jamrah, tiga lemparan sebanyak tujuh kali. Jamrah ula dilemparkan sebanyak tujuh kali, kemudian kira-kira tiga puluh meter ada jamrah wusta, pun dengan jamrah aqabah. Jamrah artinya melempar. Jamrah terdiri dari tiga macam yaitu jamrah ula atau sugra, jamrah wusta dan jamrah aqabah. Ini merupakan bentuk peringatan dan perlawanan terhadap syaitan.

Ketika Nabi Ibrahim a.s. melempar setan di Mina, hal tersebut memiliki makna tertentu. Jadi perlu diingat lagi bahwa musuh kita yang paling besar dan paling pokok adalah setan yang akan mengganggu. Selalu mengganggu kita untuk mengajak kepada perbuatan-perbuatan jelek. Itulah setan dan kita melemparinya. Jadi ada makna di baliknya, “Kenapa melempar semacam itu?” Mencegah setan agar tidak mengganggu kita. Kemudian malamnya kemarin ketika orang yang berhaji menginap di Mina, sampai datang paginya, dan siang itu mereka melempar jamrah lagi—tujuh kali tiga lagi—kemarin di Hari Rabu. Untuk hari Kamis ini, mereka akan melempar lagi ketika siang tiba. Jamrah ula, wusta dan aqabah tiga kali lagi. Sorenya setelah Asar, mereka sudah dibolehkan meninggalkan Mina.

Orang-orang yang meninggalkan Mina nanti sore dinamakan nafar awal. Boleh juga jika mereka masih menginap di Mina. Kemudian besoknya hari Jumat, melempar jamrah ula, wusta dan aqabah lagi, juga dibolehkan. Yang besok baru pulang, hari tasyrik ketiga, dinamakan nafar sani. Nafar berasal dari kata “نَفَرَ-يَنْفِرُ” artinya pergi meninggalkan. Seperti dicantumkan dalam QS. At-Taubah, 9: 41 dengan bentuk kata perintah (fiil amar) berbunyi:

 اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Yang dimaksudkan nafar dalam haji adalah pergi meninggalkan Mina. Kadang kala nafar digunakan dalam konteks fiil “نَفَرَ-يَنْفِرُ”. Tetapi kalau dalam konteks isim (نَفَرٌ), artinya “شَخْصٌ” atau “person” di dalam bahasa Inggris yaitu seseorang/sesosok manusia. “كَمْ نَفَرًا فِيْ هَذَا الْمَسْجِدِ؟” (Berapa orang di masjid ini?) “ثَلَاثَةُ نَفَرٍ” (Arab) atau “three people” (Inggris). Jadi demikianlah bahasa Arab, tulisannya sama, namun lain maknanya. Ada tulisan nun, fa dan ra, terus setelah ada nun, fa, ra lagi, bagaimana membacanya? Dibaca “نَفَرَ” jika bentuk fiil madi (masa lampau) artinya seseorang telah pergi meninggalkan atau “نَفَرٌ” dalam konteks fiil seperti kegiatan pergi meninggalkan Mina dalam haji (nafar) atau isim seperti sesosok orang (nafar).

Setelah pergi meninggalkan Mina, mereka pergi ke Makkah. Jaraknya Mina-Mekkah itu kurang lebih tiga kilometer kalau jalan lurus. Jadi sekarang di antara Mina dengan Mekkah ada gunung yang dilubangi, jadi menaiki jalan terobosan. Ke jalan terobosan cukup jalan kaki saja, kurang lebih dua hingga tiga kilometer. Seperti dari sini ke Paciran sama dengan dari Mina ke Mekkah.Tapi biasanya kalau orang-orang menaiki mobil atau kendaraan lain bisa sampai tujuh kilometer karena berputar-putar ke luar kota. Kalau berjalan kaki lebih dekat. Saya dulu pernah berjalan kaki ketika nafar sani. Kalau orang sudah melakukan ini dan hari raya, pun hari tasyrik, orang-orang yang berhaji tersebut berkurban dengan menyembelih hewan, tapi terdapat syarat-syaratnya. Kalau sudah berkurban, sudah melempar jamrah dua hari atau tiga hari, maka sudah sempurna hajinya. Jadi haji itu yang paling pokok wukuf di Arafah, melempar jamrah di Mina, kemudian tawaf di Ka’bah dan sa’i di antara Shafa-Marwah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] https://www.britannica.com/dictionary/eb/qa/-House-and-Home-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *