MEMAHAMI DEFINISI TASYRIK DAN PERKARA IBADAH HAJI #1

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Satu)

Rabu, 21 Juli 2021/8 Dzulhijjah 1442

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

“هَذِهِ الْأَيَّامُ هِيَ أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ” (hari-hari ini adalah hari tasyrik), yaitu hari Rabu, Kamis, Jumat. Hendaklah anak-anak di pondok mengerti bahasa Arab. Supaya ketika ada yang bertanya, apa itu “التَّشْرِيْقُ” dapat memberikan penjelasan. “التَّشْرِيْقُ” berasal dari akar kata bahasa Arab, yaitu “شَرْقٌ” yang bermakna timur, sedangkan barat “غَرْبٌ”. Ada dua kata berbeda yaitu “شَرْقٌ” (timur) dan “أَشْرَقَ-يُشْرِقُ” (terbit)—atau “طَلَعَ-يَطْلُعُ” yang menerangkan makna serupa. Matahari terbit di dalam bahasa Arab “أَشْرَقَتِ الشَّمْسُ”. Apakah tasyrik bermakna terbit? Bukan, tasyrik bermakna “تَجْفِيْفٌ”, berasal dari kata “جَفَّفَ-يُجَفِّفُ”, bermakna menjemur. Hari-hari tasyrik adalah hari-hari menjemur. Maksudnya adalah menjemur daging korban di waktu kemarin. Oleh sebab banyak yang belum habis dimakan, maka dijemur. Inilah ketentuan hari tasyrik, baik adanya daging atau tidak. Hari tasyrik berlaku tiga hari setelah hari raya.

Iduladha di dalam bahasa Arab “عِيْدُ الْأَضْحَى” sering juga disebut “عِيْدُ النَّحْرِ”. Kata “الْأَضْحَى” artinya korban atau “النَّحْرُ”, dikatakan dalam QS. Al-Kautsar: 1-3 yang berbunyi: 

  اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗفَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗاِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ

“Sungguh, Kami memberimu (Muhammad) nikmat begitu banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sesungguhnya, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Kalimat “وَانْحَرْ” bermakna berkorbanlah, berasal dari kata “نَحَرَ-يَنْحَرُ”. Ini berbeda dengan kata “اِنْتَحَرَ-يَنْتَحِرُ” yang bermakna bunuh diri. Berkorban dalam hal ini maksudnya adalah seperti menyembelih sapi, kambing, dsb. Kemudian kata “اَبْتَرُ” atau “اَخْطَأُ”, artinya terputus dari rahmat Allah Swt. Secara bahasa bermakna yang lebih parah yaitu tidak memiliki keturunan.

Pada hari-hari tasyrik kita tidak diperbolehkan berpuasa. Puasa yang tidak diperbolehkan terdapat pada momen dua hari raya yaitu Idulfitri, Iduladha dan hari-hari tasyrik. Saat ini masih disunahkan bagi kita memperbanyak takbir, sampai Maghrib di hari Jumat. Kalau saat Idulfitri, takbiran dilakukan saat malam Idulfitri hingga selesai salat Idulfitri. Lantunan takbir pada saat takbiran, yaitu: أَللهُ اَكْبَرُ، أَللهُ اَكْبَرُ، أَللهُ اَكْبَرُ”” (sebanyak tiga kali) atau “أَللهُ اَكْبَرُ، أَللهُ اَكْبَرُ” (dua kali).

Yang benar adalah kedua-duanya benar. Keterangan yang menjelaskan tiga kali berasal dari beberapa sahabat, pun dari beberapa sahabat seperti Umar, Ibnu Ishaq, Imam Ahmad yang berpendapat dua kali. Di dalam kitab berjudul Nailul Authar karangan Al-Imam Asy-Syaukani keduanya benar, baik tiga kali ataupun dua kali. Yang tiga kali kebanyakan dari Imam Syafi’i.

Orang-orang Pimpinan Muhammadiyah, disebut sebagai Majlis Tarjih Muhammadiyah. Sejak tahun 1970-an meneliti hadis-hadis tersebut. Kata tarjih (تَرْجِيْحٌ) bermakna memperkuat. Maksud dari memperkuat di sini seperti bila ada beberapa hadis dipilih di antaranya mana yang lebih kuat. Menurut Majlis Tarjih Muhammadiyah tahun 1970-an, setelah diteliti keseluruhan ternyata dua takbir argumentasinya lebih kuat. Hal ini tertulis dalam buku Fatwa-Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah. Mulai tahun 1970-an di seluruh Indonesia di bawah Muhammadiyah, digunakanlah dua kali takbir, tetapi tidak seluruhnya, ada juga yang tiga.

Saya membaca sebuah buku soal kumpulan khutbah Jumat dan hari raya Masjidilharam, seorang dosen atau khatib bernama K.H. Anwar dalam hal ini mengatakan kalaulah takbir itu beragam. Ada yang dua kali, tiga kali, bahkan lebih dari jumlah itu. “أَيْنَ أَصَحُّ أَلْفَاظِ التَّكْبِيْرِ؟” (lafal takbir manakah yang lebih benar?) katanya, ia menjawab dua kali, kendatipun di Masjidilharam sendiri tiga. Saya mendengar dari seseorang di sana bahwa kebiasaan takbir di Masjidilharam tiga. Saya juga melihat di buku Minhajul Muslim—yang sekarang dipelajari oleh anak-anak di Aliyah—tepatnya di halaman 181 dikatakan bahwa lafal takbir itu dua kali. Baik dua atau tiga, kedua-duanya benar, jadi biasa saja. Kalau anak-anak di lingkungannya takbir tiga kali silakan, kalau dua pun dibolehkan. Di lingkungan Muhammadiyah biasanya dua kali, kalau lingkungan selain Muhammadiyah tiga kali. Ini tentang takbir. 

Hari ini masih disunahkan memperbanyak takbir hingga hari Jumat. Sedangkan, orang-orang yang sedang haji tidak. Mereka tidak salat hari raya kemarin, tapi mereka ke Mina setelah sehari wukuf di Arafah, melewati/bermalam di Muzdalifah. Muzdalifah adalah sebuah tempat antara Arafah dan Mina. Muzdalifah berasal dari kata “اِزْدَلَفَ”, bermakna “مُقْتَرِبَةٌ” (dekat). Kalau Mina bermakna yang dicita-citakan atau diangan-angankan. Di Muzdalifah bermalam sembari mencari krikil—dalam hitungan dua puluh satu kali tiga—yang dipakai guna melempar jamrah di Mina. Malam ini mereka sudah menginap di Mina dan hari ini melempar jamrah lagi, hingga besok. Ada yang melakukannya di hari Kamis, Jumat, tiga hari atau dua hari dan sudah pulang. Ketika selesai, mereka pulang dan pergi ke Mekkah melakukan tawaf (pelepasan/perpisahan). Kalau hal itu sudah dilakukan, maka berakhirlah haji.

Haji dilakukan selama lima atau empat hari, yaitu wukuf di Arafah, melempar jamrah di Mina, tawaf dan sa’i di Ka’bah. Sa’i dilakukan antara dua bukit, Shafa dan Marwah. Shafa di sebelah selatan Ka’bah, sedangkan Marwah di sebelah Timur Ka’bah. Jaraknya sekitar seratus meter kurang lebih. Sa’i mengingatkan tentang kisah Siti Hajar ketika memiliki anak bernama Isma’il. Di Ka’bah, tepat di samping bangunannya, terletak sesuatu yang disebut “حِجْرُ إِسْمَاعِيْلَ”, sebuah tempat di sebelah utara bangunan Ka’bah, berbentuk setengah lingkaran, dibangun oleh Nabi Ismail a.s. Ketika Ismail kecil, Siti Hajar kehabisan air susu, kemudian mencari air untuk minum anaknya, tetapi tidak ada. Siti Hajar berlari-lari antara Shafa dan Marwah sampai tujuh kali, “أَيْنَ الْمَاءُ، أَيْنَ الْمَاءُ، لاَ أَجِدُ الْمَاءَ!” (Di mana air, di mana air, aku tidak menemukannya!). Tetiba ada seekor burung dari arah tenggara, turun menuju tempat Ismail yang ditinggal (حِجْرُ إِسْمَاعِيْلَ). Jarak antara “Hijir Ismail” dan Shafa itu kira-kira 50-an meter. Siti Hajar berkata, “Oh, pastilah di sana ada sesuatu. Burung ini pasti sedang butuh minuman, seharusnya di sana ada air”. Siti Hajar dengan segera kembali ke tempat Ismail dan mendapati permukaan yang ditiduri anaknya basah. Siti Hajar menggali permukaan tanah basah dengan tangannya, tiba-tiba airnya semakin banyak. Semakin banyak air dan saking gembiranya, Siti Hajar mengucapkan sesuatu pertama kali pada saat air memancar dengan “zam-zam, zam-zam”. Kalau orang Sendang mungkin ada ucapan ketika terkaget “buwwok, buwwok”, kalau orang Blitar mungkin “peh-peh, peh-peh”. Itu ucapan pertama Siti Hajar ketika keluar air zam-zam dan hingga sekarang namanya air zam-zam. Air itu berasal dari bawah permukaan tanah yang ditiduri oleh Isma’il kecil, berasal dari kehendak Allah. Zam-zam adalah ucapan pertama Siti hajar saat air muncul.

Selanjutnya peristiwa pelemparan jamrah di Mina (melempar krikil). Secara historis juga berasal dari kisah Nabi Ibrahim a.s. ketika melempar setan karena mengganggunya dan berkata, “Jangan sembelih anakmu, jangan sembelih!”, ada benarnya juga setan tersebut. Menurut orang biasa benar, tetapi Nabi Ibrahim a.s. meyakini perintah Allah Swt. untuk menyembelih anaknya meskipun sekadar dari mimpi. Jadi, melempar jamrah di Mina mengikuti Nabi Ibrahim dan sa’i mengikuti Siti Hajar.

Jadi, Idul adha adalah peristiwa Nabi Muhammad Saw. yang banyak mengikuti peristiwa pada Nabi Ibrahim a.s., meskipun tidak seluruhnya, seperti tawaf di Ka’bah itu tidak mengikuti. Anak-anak juga supaya mengerti, di antara yang penting adalah amalan-amalan kemarin, yaitu puasa ‘Arafah, hendaklah tidak meninggalkannya, pun memperbanyak doa dan ibadah kepada Allah Swt. Kurban bermakna takarub (mendekatkan diri kepada Allah Swt). Jumlah uang yang dipergunakan untuk menyembelih hewan-hewan kurban, misalnya sapi—harganya kisaran dua puluh satu juta—itu kecil, karena demi mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Na‘am ha>kaza>.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *