MANUSIA DAN ASAL-USUL ILMU PENGETAHUAN #2

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Dua)

Senin, 5 Juli 2021/24 Dzulqaidah 1442

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang bisa dicapai melalui akal pikiran. Ia termasuk dari bagian ruh yang hidup. Ruh terdiri dari cipta, rasa dan karsa. Cipta adalah akal pikiran. Rasa adalah perasaan dan yang digunakan adalah hati. Jasad pun ada perasaannya, kendatipun dalam arti berbeda seperti berbau, berasa manis, asin, dsb. Jikalau hati (قَلْبٌ) seperti rasa sakit, sedih, senang, bahagia—sifatnya abstrak. Karsa adalah keinginan (baik dan buruk), nafsu atau hasrat.

Akal pikiran menghasilkan ilmu pengetahuan guna mengkalkulasi benar dan tidak benar, salah dan tidak salah. Misalnya untuk menjawab soal “2 x 2 = 4” itu menggunakan akal pikiran, bukan perasaan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan adalah perihal mengetahui perhitungan di dalam konteks alam raya seperti matahari (شَمْسٌ), bulan (قَمَرٌ) dan bintang (نَجْمٌ).

Hakikat ruh adalah sesuatu yang hidup dan tidak kelihatan. Makhluk Allah Swt. ada yang hanya memiliki ruh, walaupun memiliki jasad, mereka adalah malaikat dan jin. Apabila sesuatu yang tidak memiliki ruh atau benda mati (جَماَدٌ) misal batu, tanah, pasir, bulan ataupun matahari maka mereka tidak bisa bergerak kecuali digerakkan.

Mereka yang memiliki ruh pasti bisa bergerak, hal tersebut tergantung kekuatan ruh dan masing-masing jasadnya. Misalnya tetumbuhan, ia memiliki ruh sehingga tumbuh. Seandainya nyawanya—karena ia memiliki ruh tentulah memiliki nyawa—itu terlepas, maka ia akan mati. Seperti halnya batu yang tidak bisa bergerak sendiri, kemudian tumbuh dengan sendirinya. Ini perbedaan antara makhluk Allah Swt. yang memiliki ruh dengan jasad. Manusia serupa dengan hewan yaitu memiliki jasad yang nampak dan ruh yang menggerakkannya. Manusia disebutkan dalam al-Qur’an sebagai ciptaan yang memiliki bentuk paling baik.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”[1]

Makna dari frasa tersebut secara implisit menegaskan bahwasanya ruh dan jasad manusia diciptakan secara sempurna. Adapun hewan memiliki ruh, kendati tidak sekuat manusia. Cipta, rasa dan karsa milik hewan lebih lemah jika dibandingkan dengan makhluk bernama manusia. Kendati demikan, selama hewan memiliki ruh ia bisa bergerak, bahkan ada seekor burung yang bisa berbicara pada manusia. Di dalam al-Qur’an dikisahkan bahwa ada dua binatang yang bisa berbicara. Pertama, burung Hud-Hud bersamaan kisah Nabi Sulaiman yang diabadikan dalam QS. An-Naml [27]: 22.

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيْدٍ فَقَالَ اَحَطْتُّ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَاٍ ۢبِنَبَاٍ يَّقِيْنٍ

“Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan’.”[2]

Kedua, binatang semut ketika disebutkan dalam surat QS. An-Naml [27]: 18.

 حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari’.”[3]

Menurut al-Qur’an dikatakan, “قَالَتْ نَمْلَةٌ” (seekor semut berkata), “يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ” (Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu), sebab suatu saat ada sekelompok semut berjalan dan salah seekor dari mereka melihat bahwa ada sesuatu yang hendak melewati jalan, dan ia memerintahkan semut-semut lain untuk masuk ke dalam tempat persembunyian, “لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ” (agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari). Pada saat itu, Nabi Sulaiman dan bala tentaranya hendak melewati jalan di mana kawanan semut tersebut sedang berjalan.

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

“Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Wahai Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”[4]

Kemudian,“ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَ” (Maka ia tertawa mendengar ucapan semut tersebut), Nabi Sulaiman yang mendengar perkataan semut tadi tersenyum dan membuatnya tertawa. Setelah mendengar hal tersebut, kemudian Nabi Sulaiman dan bala tentaranya menepi dan merasa, “Oh iya, ada kamu.”

Nabi Sulaiman adalah satu-satunya nabi di antara sekian nabi—dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad—yang mendengar dan mengerti bahasa semut. Ini telah tercantum di dalam al-Qur’an, tentu saja tidak main-main kebanarannya. Selain itu, al-Qur’an menyebutkan dalam surat Al-An‘am [6]: 38 perihal hewan-hewan yang pada dasarnya memiliki kesamaan dengan manusia, salah satunya seperti burung.

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”[5]

Burung-burung yang terbang dalam al-Qur’an disebut “اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗ”, yaitu dengan kata lain adalah umat-umat seperti kamu, manusia. Pada kenyataannya para binatang pun kawin, makan, tetapi sebatas itu, berbeda dengan manusia yang memiliki pikiran. Kemudian di QS. An-Nahl [16]:79 disebutkan:

 اَلَمْ يَرَوْا اِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرٰتٍ فِيْ جَوِّ السَّمَاۤءِ ۗمَا يُمْسِكُهُنَّ اِلَّا اللّٰهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.”[6]

Burung-burung, sejak zaman dulu hingga sekarang, kalau membuat rumah, sarang, tetap sama bentuknya. Sarang semut pun demikian, sejak zaman Nabi Adam hingga sekarang tidak pernah berubah. Hal tersebut tidak berlaku pada manusia. Pada zaman Nabi Adam dulu mereka belum mampu membuat rumah, sehingga tidur di gua-gua, setelah itu mengalami evolusi dalam ilmu pengetahuan, maka berlanjut di atas pohon-pohon, kemudian menciptakan alat pemotong, semacam pisau dan alat-alat lainnya, sehingga rumah yang dibuat semakin baik kualitasnya—seperti di zaman modern ini, mereka secara perlahan-lahan mampu membuat gedung-gedung bertingkat. Inilah kehebatan manusia.

Adapun jin dan setan—walla>hu a‘lamjuga mengalami ilmu yang berkembang. Konon katanya, mereka membuat bangunan-bangunan namun tidak terlihat oleh mata kepala manusia. Hal tersebut dikarenakan dunia mereka berada di alam gaib, lain dari dimensi manusia, walla>hu a‘lam. Saya sendiri belum pernah melihatnya, sekadar mendengarkan kesaksian sebagian orang yang mengklaim pernah melihat hal itu. Inilah perbedaan antara manusia sebagai penyandang ilmu pengetahuan dengan entitas selain dirinya.

Allah Swt. bahkan mengabadikan kisah tentang penciptaan Nabi Adam dalam al-Qur’an QS. al-Baqarah [2]: 30 yang menerangkan kelebihan manusia di antara makhluk lainnya.

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku akan menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan seseorang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami selalu bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[7]

Apa kelebihan Nabi Adam a.s. dibandingkan dengan malaikat? Yaitu ketika Allah Swt. berkata kepada mereka, “اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً”(Aku hendak menjadikan di bumiKhalifah—pemimpin). Kemudian Malaikat bertanya, “Wahai Allah Swt., siapa yang hendak Engkau pilih sebagai pemimpin di bumi ini?” Kemudian Allah Swt. menjawab, “Yang akan saya pilih adalah Adam beserta anak cucunya, manusia.” Mendengar hal tersebut Malaikat bertanya dengan nada keberatan, “Wahai Allah Swt., kenapa Engkau memilih makhluk untuk memimpin di bumi ini adalah manusia, merekalah makhluk yang kelak akan menumpahkan darah dan merusak bumi, bukankah begitu?”. Malaikat telah mengetahui bahwa manusia kelak akan saling berperang, bunuh membunuh, mengeksploitasi alam dengan keterlaluan, merusak hutan, sungai, laut, dan gunung-gunung. Itulah yang dipilih Allah Swt. untuk dijadikan pemimpin di bumi. Mendengar keberatan Malaikat, Allah Swt. menjawab, “اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ” (Saya lebih mengetahui daripada kamu sekalian). Mendengar perkataan-Nya, Malaikat akhirnya menerima keputusan tersebut, “Oh, kalau begitu baiklah.”.

Selanjutnya, Allah Swt. menerangkan maksud keunggulan Adam a.s. ketika berkata pada ayat selanjutnya yang berbunyi:

 وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”[8]

Dikatakanlah “وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ” (Dan Allah telah mengajarkan pada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkan pada Malaikat tentang hal itu—untuk menguji apakah mereka mengetahuinya). Allah Swt. mengajarkan Adam a.s soal nama-nama misal, “الشَّمْسُ” yaitu matahari, “الْقَمَرُ” yaitu bulan, “النَّهْرُ” yaitu sungai, “البَحْرُ” yaitu angin, “الْهَوَاءُ” yaitu angin, “الشَّجَرَةُ” yaitu pepohonan, dan lain-lain. Ketika Allah Swt. menanyakan soal nama-nama tersebut kepada para malaikat, mereka tidak mampu menjawabnya. Yang demikian itu membedakan Adam a.s dengan malaikat, sekaligus menjadi alasan kenapa manusia dipilih sebagai penyandang gelar Khalifah di bumi adalah karena ilmu pengetahuan.

Inilah sebabnya diterangkan demikian tentang keunggulan manusia. Sehingga Allah Swt. berkata, “Wahai para Malaikat, bersujudlah kepada Adam.”, bersujud di sini bukanlah dalam makna untuk salat atau menyembah, tetapi sekadar hormat, “Hormatilah Adam.”. Mendengar perintah tersebut Malaikat bersujud kepada Adam a.s seluruhnya, namun segolongan makhluk lain sebangsa dengan jin dan setan, yaitu Iblis, menolak. “Wahai Allah, saya tidak akan hormat kepada Adam sebab saya lebih mulia dibandingkan dirinya. Saya tercipta dari api, sedangkan Adam dari tanah. Saya tidak hendak menghormati makhluk yang lebih rendah.” Iblis menjawab dengan pongah, padahal beberapa jin yang lain pun turut bersujud dengan para Malaikat, tapi karena begitu pongahnya, Si Iblis menolak. Inilah kelebihan manusia dan alasan ia dijadikan Khalifah di bumi.

Ha>kaza>, nastami>r fi> waqtin a>khar (beginilah dan akan kita lanjutkan di lain waktu).

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] Al-Qur’an, 95: 4.

[2] Al-Qur’an, 27: 22.

[3] Al-Qur’an, 27: 18.

[4] Al-Qur’an, 27: 19.

[5] Al-Qur’an, 6: 38.

[6] Al-Qur’an, 16: 79.

[7] Al-Qur’an, 2: 30.

[8] Al-Qur’an, 2: 31.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *