Literasi Digital di Lingkungan Pesantren

Ahad (19/9/21), PP Al-Ishlah mengadakan zoomminar tentang kepenulisan dengan judul “LIterasi Digital di Lingkungan Pesantren”. Acara ini dilaksanakan tepat 13.30 di Aula Al-Ishlah. Keynote speaker acara ini disampaikan oleh Abdul Rohim selaku wartawan dari koran sindo, dan Tsani Itsna Ariyanti yang merupakan alumni PP Al-Ishlah, saat ini menjabat sebagai koordinator internal PSIPP ITBAD Jakarta. Dengan pemateri Rana Rafidha, menyampaikan pengalamannya saat bermedia sosial dan M. Afiruddin menjelaskan, Mengapa harus menulis?. Acara tersebut diikuti kurang lebih 300 an oleh siswa siswi MA Al-Ishlah.
“Tipe dalam hal menyikapi literasi digital di Pesantren dibagi menjadi tiga, diantaranya; (1) Ada akses internet yang hanya diakses oleh Pembina, (2) Selain Pembina, santri juga dapat izin dalam mengguna, (3) dan ada yang justru sama sekali menutup peluang mengakses internet. Sementara Indonesia dikatakan sebagai peminat atau pengguna internet tertinggi ke-4 di dunia. Saat ini melihat realita tersebut bahwa informasi banyak di dapat dari media sosial dan banyaknya juga isu-isu hoax, maka perlu adanya kepekaan atau rasa terpanggil dalam pemberantasan isu hoax. Dengan adanya penulisan yang konsen dalam bidang keagamaan, maka perlunya meningkatkan santri dalam penggunaan internet”, ujar Itsna selaku keynote acara tersebut. Beliau juga mengutip ungkapan Imam Ghazali “Kalau kita bukan anak raja dan bukan anak seorang ‘Ulama’, maka menulislah, karena dari situlah kita bisa dikenang ketika kita tiada”.
Melihat Al-Ishlah terkenal sebagai pondok modern, dalam penggunaan internet juga dipermudah tidak seperti dulu yang hanya diperbolehkan mengerjakan tugas. Akan tetapi tidak kemudian lepas atau bebas dalam pengawasan, karena ditakutkan terjadi penyimpangan dalam penggunaan internet, seperti halnya penggunaan FB, IG, dll, maka perlu di tumbuhkan semangat literasi terutama dalam hal tulis menulis. “Dalam kehidupan, terdapat tiga hal yang abadi ketika kita sudah tiada yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak sholehah, mengingat hal tersebut, maka perlu menjadikan ilmu bermanfaat melalui tersebarnya ilmu dalam media sosial, atau media apapun”, ujar Rohmah Wahyu Nur Laila selaku Pembina Pers.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *