Lebah Pengharum Kampung Halaman

Perumpamaan orang beriman adalah seperti lebah. dia yang selama hidupnya selalu hinggap di tempat-tempat indah (kuncup bunga). Jika dia hinggap di sebuah ranting, maka dia tidak mampu membuatnya patah. jika hinggap di tempat yang luas, maka dia dan rombongannya mampu menghasilkan suatu yang bermanfaat bagi manusia (madu).

kerja keras dan keikhlasan yang dimiliki seseorang akan membuahkan hasil yang tidak terduga. Allah memberi rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

PP Al-Ishlah Sendangagung berdiri kokoh hingga saat ini, dan semakin mengalami kemajuan dalam berbagai bidang. Al-Ishlah tidak pernah mengundang para calon santri untuk mondok kesana, melainkan kemasyhurannya terlihat dari kecemerlangan para alumni yang tersebar di seluruh penjuru. Gubuk sederhana, yang merupakan bangunan pertama pondok, kini disulap menjadi bangunan menjulang yang mampu menampung jumlah santri yang terus menerus membeludak yang datang dari seluruh Indonesia.

Siapa di balik semua itu? Tak diragukan lagi, pendiri dan pengasuh pesantren ini adalah K.H. Muhammad Dawam Saleh. Pondok yang dirintis mulai dari nol ini diiringi dengan cibiran warga sekitar. namun, semua itu terpatahkan sudah dengan tercetaknya prestasi santri yang semakin hari semakin cemerlang, di samping mahir dalam bahasa Arab dan Inggris.

Dua bahasa itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang menaruh kepercayaan pada pondok Kiai Dawam. Kiai sederhana yang kini menjadi “lebah” pengharum kampung halaman.

Kesunyian hutan bambu yang dulu dihuni oleh kawanan kera, kalajengking, dan beberapa jenis hewan penghuni hutan, kini tergantikan oleh lantunan syair al-Qur’an syair al-Qur’an yang mengalun merdu yang disenandungkan dari lisan para santri yang berjihad dari kampung halaman mereka untuk mendalami ilmu agama di Al-Ishlah.

Para santri yang datang dari seluruh penjuru itu diharapkan bisa menjadi kader-kader generasi bangsa yang cerdas dalam segi intelektual, sosial, maupun spiritual. Kiai Dawam dikenal sebagai pribadi yang unik. Bagaimana tidak, mayoritas kiai yang lain sering menyuruh ini-itu kepada para santri, kiai sederhana ini justru tidak mau memerintah orang lain selagi beliau sendiri masih sanggup melakukan. Buktinya, tidak jarang terlihat Kiai Dawam mematikan keran air, bahkan merapikan kantor. Juga tidak gengsi membetulkan meja kelas yang rusak.

Kiai Dawam berharap ketulusan santri-santri itu berasal dari hati mereka sendiri, bukan karena suruhan orang lain. Doa kiai yang selalu dipanjatkan dalam shalat adalah menjadikan santri-santri generasi yang saleh, berilmu. bermanfaat, sukses, dan berpikiran maju. Dalam rangka itu, setiap pagi buta, dari dulu hingga sekarang, Kiai Dawam memberikan kuliah subuh. Tekad beliau, “Selama aku masih hidup dan mampu berdiri mengimami, akau akan terus memberikan kuliah subuh ini untuk santri-santri”.

Kiai Dawam ternyata juga seniman. Beliau piawai menorehkan jeritan hati melalui puisi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa puisi-puisi Kiai Dawam sangat peka terhadap kondisi sosial dan politik. Tidak jarang kita jumpai nama Kiai Dawam beserta puisi-puisi beliau dimuat di berbagai media massa.

Keinginan-keinginan Kiai Dawam, semuanya seolah berjalan mulus tanpa halangan. Kenapa? karena kepribadian beliau yang memang pribadi saleh dan istiqamah. Kiai seniman ini sangat rajin mengerjakan amalan sunah. Beliau mengerjakan shalat tahajud, menghafal al-Qur’an, puasa Daud, dan amalan-amalan sunnah lainnya. Kiai Dawam, di mata saya adalah sosok kiai dalam makna sesungguhnya.

(Ditulis oleh Novia Aidatuz Zahiroh Rosyidah dalam buku Tarbiyah bil Hal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *