LAYAKNYA IBU YANG AKAN MELEPASKAN ANAKNYA

“Wah uda dipake aja”, celetuk sebagian siswi sembari berjalan keluar kelas. Pertanyaan tersebut terlontar setelah arah pandang mereka tertuju pada tarup bernuansa white and gold berdiri kokoh di atas lapangan basket baru. Pasalnya, tarup tersebut akan difungsikan sebagai payung teduh acara wisuda ke-31 MA Al-Ishlah. Banyak dari mereka penasaran mengapa acara wisuda harus digelar di atas lapangan basket yang baru dibangun?. Tak disangka, memang jawabannya hanya untuk sarana pemanfaatan saja. “Memanfaatkan yang sudah ada. Sebelum dipakai latihan, kita pakai wisuda dulu”, ujar Ustad Agus Salim selaku Kepala Madrasah.

Wisuda yang digelar pada H-2 ramadhan, Kamis (31/03/22) tersebut ditemani langit berselimut awan cerah. Diawal tahun ajaran, santriwan dan santriwati kelas 12 tahun ini berjumlah 400 orang. Namun, yang berhasil survive hingga akhir adalah 340 orang. Papan-papan besar berisi foto para wisudawan penuhi jalanan area menuju pintu masuk. Bahagia dan sedikit goresan kesedihan terpancar dari raut muka mereka. Menunjukkan bagaimana susah senangnya menimba ilmu di madrasah kita ini.

Acara dibuka dengan ucapan selamat dari berbagai kalangan pecinta ma’had. Emil Dardak selaku Wakil Gubernur Jatim turut ucapkan selamat secara virtual. Ustad Agus Salim Kepala Madrasah Aliyah tak luput berikan sambutan dan pidato panjang yang ungkapkan perasaannya. “Layaknya ibu yang akan melepas anaknya untuk dibiarkan hidup diluaran sana, seperti itulah yang kita (guru-guru) rasakan hari ini”, ujarnya. Harap-harap cemas adalah perasaan hari itu. Berharap agar nantinya para wisudawan dapat menjadi kader dakwah yang bermanfaat bagi umat. Punya kontribusi serta turut andil mengatasi permasalahan umat. Tak payah perasaaan cemas juga selalu menghantui. Khawatir jikalau kelak mereka tidak bisa menanggung amanah sebesar itu.

Patutnya yang kita lakukan adalah bersyukur karena acara wisuda tahun ini dihadiri oleh perwakilan dari tiap santriwan dan santriwati. Tak seperti 2 tahun lalu yang merupakan tahun ketika covid-19 melonjak tinggi. Wisuda tidak digelar ketika itu. Hal membanggakan juga terlihat dari banyaknya santri yang lolos jalur SNMPTN sebanyak 43 orang. Mengapa demikian? Karena jumlah sedemikian itu belum pernah dicapai di tahun-tahun sebelumnya.

Pria lulusan Pondok Pesantren Gontor tersebut juga mengungkapkan bahwa pembangun Pendidikan karakter juga berasal dari pondok pesantren. Hal itu dapat dilihat dari aspek kemandirian dan jiwa kepemimpinan yang diajarkan. “Sejak dahulu, pondok juga pencetus ulama-ulama hebat, itu karena alumni pondok punya pribadi yang kuat berkat pembinaan akhlak dan aktivitas keagamaan yang ditekankan”, ungkap Ustadz Dawam Saleh selaku Pengasuh Pondok Pesantren saat memberikan wejangan di penghujung acara wisuda hari itu. (Admin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *