Kebenaran Iman ‘Tiada Tuhan Selain Allah’ #9

Oleh The Voluntaryst (Tim Pencatat Kuliah Subuh)

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Sembilan)

Rabu, 1 September 2021/23 Muharam 1443 H

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

التَّلوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةُ وَالتَّوْحِيْدُ الْأُلُوْهِيَّةُ

Tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah.

Jadi dalam ilmu akidah (tauhid) ada yang perlu diketahui, yaitu tauhid uluhiyyah, jangan hanya sekadar tauhid rububiyah yaitu mengesakan Allah dari segi Allah Yang Menciptakan, Yang Memelihara, Yang Memusnahkan, Yang Mematikan. Jangan hanya dilihat dari segi itu, tapi juga dengan tauhid uluhiyah, yaitu kita hanya menyembah hanya kepada Allah.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.[1]

Seperti salat, kemudian zakat, puasa seluruhnya untuk Allah. Kita berbuat, beramal, menolong orang, mengamalkan ilmu, mencari rezeki, seluruhnya milik Allah. Wa iyyaka nasta’iinu (dan Hanya kepada-Mulah ya Allah kami minta pertolongan).

Jangan sampai kita minta pertolongan kepada sesuatu yang gaib selain Allah. Seperti kepada dukun-dukun, jin-jin, setan-setan atau malaikat. Kepada malaikat saja tidak boleh. Karena kepada Allah semuanya ditujukan.

Bagaimana penggambaran kita tentang Allah? Jadi dalam keyakinan, pikiran dan hati kita, Allah itu seolah-olah ada di mana-mana. Tapi sebenarnya bukan di– tapi me-. Setiap titik di bumi ini, sampai ke dalam tubuh kita Allah itu me-, Menguasai, Mengetahui, Mengubah, itu Allah.

Jadi, tidak ada satu titik pun di bumi atau di langit sana yang tidak diketahui oleh Allah. Seolah-olah ada di-. Umpamanya, di sini, Allah itu ada. Hakikatnya tidak di– tapi me-. Allah Menguasai dan Melihat.

Kita berbicara, setiap dari satu miliar manusia di bumi, apa yang ada dalam hatimu, dalam hati kita yang tidak didengar orang lain Allah tahu. Tetapi Allah biasanya juga mengikuti hukum alam yang dibuat-Nya.

Apa hukum alam-Nya? Yaitu sesuai dengan hukum alam. Umpamanya orang yang sakit kemudian tiba-tiba sembuh dengan sendirinya. Tidak begitu. Orang yang sakit ada hukum alamnya, yaitu ada obatnya (berobat dulu). Orang sukses ada sebabnya, yaitu ia rajin, sungguh-sungguh.

Demikianlah. Allah kita gambarkan dalam hati dan pikiran seolah ada di mana-mana seperti dalam Ayat Kursi.

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.

Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.

Allah itu terus hidup tidak pernah mati, al-qayyuum (terus bangun), laa ta’khudzuhuu sinatun wa laa nauum (Allah sama sekali tidak pernah mengantuk dan tidur). Dan karena Mahabesar, maka kalau kita meminta ‘Ya Allah, bagaimana wujudmu?’ Tidak mungkin.

Ada banyak manusia yang keliru. Termasuk orang-orang Kristen itu menganggap Allah mempunyai anak. Anaknya bernama Yesus. Yesus adalah Nabi Isa. Konsepsi ini telah terbantahkan. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

Allah tempat meminta segala sesuatu.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ

Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” [2]

Surat al-Ikhlas bantahan yang sangat keras dan telak sekali kepada orang Kristen. Allah itu Satu (Ahad). Allah itu tempat bergantung (ash-Shamad), Allah tidak melahirkan—bagaimana bisa Allah melahirkan?—dan tidak dilahirkan (lam yalid wa lam yuulad), dan tidak satupun yang menyekutui (walam yakun lahuu kufuwan ahad).

Menurut orang Kristen Nabi Isa itu dilahirkan oleh ibunya, Maryam. Tapi katanya anaknya Allah, tidak masuk akal, dan sampai sekarang orang Kristen itu menyembah Isa (Yesus).

Tuhan yang sebenarnya menurut orang Kristen. Apa yang disembah? Mereka sering menggambarkan Nabi Isa (Yesus) disalib seperti orang dibunuh sembari disalib. Salib disimbolkan dengan “T”. Itu mereka sembah-sembah. Coba, tidak masuk akal sama sekali, dan ini diikuti oleh ratusan juta manusia di dunia.

Maka, dalam al-Fatihah disebutkan begini:

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[3]

Itu artinya ‘Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang lurus’ (ihdinaas shiraathal mustaqiim). Jalan yang lurus jalan siapa? ‘Manusia-mansusia yang telah Engkau beri nikmat’ (an‘amta ‘alayhim). Siapa mereka? Menurut tafsir yaitu para nabi/orang-orang yang hanya menyembah Allah saja.

Nabi Ibrahim dan Nabi Isa menyembah Allah saja. Juga ibunya, Maryam.‘Bukan jalan orang-orang yang mendapatkan murka dari Engkau Ya Allah’ (Ghairil maghdzuubi ‘alayhim,). Siapa mereka yang mendapatkan murka dari Allah? Itu orang-orang Bani Israel (orang-orang Yahudi) Karena apa dimurkai Allah? Karena sering kali membunuh para nabi zaman dulu.

Sampai sekarang orang-orang Bani Israel (Yahudi) itu kejam. Merebut tanah Palestina, membunuh orang-orang di dalamnya dengan kejam sampai sekarang. Dan ‘bukan jalan orang-orang yang sesat’ (wa laa dhaalliin).

Menurut tafsir Rasulullah siapa orang-orang yang sesat itu? Yaitu orang-orang Kristen (Nasrani). Karena apa? Menganggap Allah (Tuhan) ada tiga. Pertama, Tuhan Allah yaitu Tuhan Bapak. Kedua, Tuhan Ruhul Qudus yaitu Tuhan Malaikat Jibril. Ketiga, Tuhan Yesus yaitu Tuhan Nabi Isa.

Ini dhalaal/dhaalliin, sesat betul.  Janganlah kita ikuti meskipun ini diikuti oleh orang-orang yang sudah maju. Tapi di antara mereka banyak orang yang sudah sadar, memahami dan keluar dari agama Kristen dan masuk agama Islam.

Demikianlah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] Al-Qur’an, 1: 5.

[2] Al-Qur’an, 112: 1-4.

[3] Al-Qur’an, 1: 6-7.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *