Kebenaran Iman ‘Tiada Tuhan Selain Allah’ #6

Oleh The Voluntaryst (Tim Pencatat Kuliah Subuh)

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Enam)

Sabtu, 28 Agustus 2021/19 Muharam 1443 H

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Kita jangan membayangkan atau menggambarkan bahwa Allah itu seperti apa, tidak bisa. Allah tidak seperti apapun (laisa kamitslihi syai’un) karena semua makhluk-Nya Allah.

فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Kita juga tidak bisa menggambarkan kursi Allah. Apakah kursi-Nya seperti kursi kita? Wallahu a’lam. Disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Wasi’a itu artinya meluas. Kursi-Nya Allah itu meluas seluas langit-langit dan bumi.

Kita tidak bisa menggambarkan Allah dan kursi-Nya. Kemudian disebutkan juga dalam Al-Qur’an surat Luqman tentang beberapa nasihatnya kepada anak-anaknya. Salah satunya tentang kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi.

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

“(Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.”

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ ࣖ

“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً ۗوَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”

Jadi apa yang kita rasakan, ucapkan, pikirkan, apa yang dipikirkan manusia yang letaknya jauh di Amerika, Eropa, semuanya diketahui Allah. Dia Mahalembut, tidak bisa diketahui, dilihat.

Sekarang ini Allah mengetahui apa- apa yang ada dalam pikiran saya. Kalau yang lainnya seperti malaikat tidak tahu kecuali malaikat yang ditugaskan ada dalam diri kita. Malaikat yang ada di luar diri kita tidak tahu pikiran kita.

Kalau Allah itu seperti laisa kamitslihii syai’un (tidak ada yang menyerupai-Nya), wasi’a kursiyyuhussamaawaati wal ard (Kursi-Nya meliputi langit dan bumi). Kursi itu bisa diartikan kekuasaan-Nya, penglihatan-Nya, meliputi langit yang paling jauh, kemudian apa yang ada di bumi, di manapun.

Jadi tidak bisa kita menggambarkan Allah itu seperti orang-orang komunis atau ateis yang mengatakan “Saya mencari-cari Allah di bawah meja, almari, dipan kok tidak ketemu juga.’’ Itu cara berfikir yang keliru. Karna Allah tidak bisa diukur seperti itu.

Allah itu tidak bisa digambarkan seperti patung manusia. Pada zaman Nabi Musa a.s. dulu orang-orang membuat patung sapi kemudian disembah-sembah. Orang India banyak yang menyembah sapi itu, bahkan marah kalau orang Islam menyembelih sapi “Tuhan kok disembelih”, kata mereka.

Itu keliru semuanya. Yang benar kita ini. Yang mendapatkan ajaran dari para nabi. Allah seperti apa? Allah yang menciptakan langit, bumi, matahari, rembulan, manusia, raja-raja yang memberi makan, menurunkan hujan. Tidak dapat digambarkan. Karena apa? Karena akbar, yang paling besar.

Kalau Allah digambarkan akan menjadi syai’un (sesuatu). Allah itu merah atau putih, hitam atau kuning. Tidak bisa. Jadi Allah yang menciptakan merah, putih, hitam, kuning, semuanya. Allah tidak bisa digambarkan seperti itu. Yang jelas dan kita yakini setiap hari, setiap saat yaitu bahwa Kekuasaan Allah, penglihatan-Nya, pendengaran-Nya meliputi seluruh apa saja yang ada di bumi ini.

Segala sesuatu meskipun sekecil biji sawi pun ada dalam pengetahuan Allah atau dalam gengaman-Nya. Langit yang paling jauh di sana, di bagian bumi paling jauh, di dalam batu, tanah, laut, semuanya diketahui. Jika sudah beriman demikian, baru kita benar. Kalau kita berdoa, memakai suara atau tidak, Allah tahu.

Jadi Allah tahu mana yang kita kerjakan, apa yang dikerjakan ayah dan ibumu sekarang, oleh siapapun yang berjihad, mati-matian berjuang, siapa yang enak-enakan, bohong, siapa yang jujur, semuanya tahu tanpa terkecuali.

Inilah yang harus kita prasangkai dan imani setiap saat. Kalau kita sudah bisa seperti itu, kita bisa menjadi orang yang ikhlas hanya kepada Allah. Karena Allah Maha Mengetahui.

Demikianlah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *