Kebenaran Iman ‘Tiada Tuhan Selain Allah’ #4

Oleh The Voluntaryst (Tim Pencatat Kuliah Subuh)

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Empat)

Rabu, 25 Agustus 2021/16 Muharam 1443 H

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Kisah mencari Tuhan (قِصَّةٌ، حِكَايَةٌ، حِوَايَةٌ أَمِ الْبَحْثُ عَنِ الْإِلَهِ) mencari Tuhan. Jadi orang-orang Badui, orang-orang primitif, menemukan yang namanya Tuhan adalah ada di gunung-gunung, krikil, sungai, batu-batu besar yang itu sebenarnya adalah jin, setan.

Orang-orang yang banyak pikiran menggunakan akal pikiran seperti orang-orang Yunani menemukan Tuhan ada di langit. Jadi planet-planet itu adalah Tuhan, matahari, rembulan dan bintang-bintang dianggap Tuhan yang jauh di sana karena menggunakan akal pikiran.

Ada juga yang mencari-cari dan menemukan memakai akalnya, akhirnya mereka tidak percaya akan adanya Tuhan yaitu ateis. Jadi manusia ini dalam mencari Tuhan ada yang menemukan karena dengan instingnya yang dekat, yaitu sesuatu yang ada di sekitarnya.

Kemudian di langit, rembulan, matahar itu adalah Tuhan. Ada yang tidak menemukan, akhirnya mereka tidak bertuhan, itulah orang ateis. Ada juga yang akhirnya menemukan Tuhan dan menganggapnya pasti ada, tapi bagaimana wujudnya? Ini dibantu akal manusia sendiri dan juga dibantu dengan ilmunya para rasul dan nabi yang diutus oleh Allah untuk memberikan pengetahuan kepada manusia bahwasanya Tuhan ada, yaitu Esa/Satu, tidak mungkin lebih. Tuhan adalah yang paling besar.

Dari segi akal pikiran Tuhan itu pasti ada. Pertama, kalau kita melihat segala sesuatu, barang-barang itu mesti ada yang membuatnya. Kalau kita melihat kursi tidak mungkin ini ada dengan sendirinya. Kalau kita melihat masjid ini mesti ada yang membuatnya yaitu tukang batu atau tukang kayu.

Kalau kita melihat kipas angin pasti ada yang membuatnya. Melihat televisi, handphone dan seterusnya pasti ada yang membuat. Jadi segala sesuatu ada yang membuat. Demikian juga kalau kita melihat matahari mesti ada yang membuatnya. Melihat rembulan, bintang-bintang mesti demikian. Tidak mungkin ada dengan sendirinya.

Kalau kita melihat diri sendiri, orang yang tidak percaya kepada Allah sebagai tuhan, yaitu ateis, menganggapnya ada dengan sendirinya. Seperti manusia itu tumbuh dan lahir dengan sendirinya secara alami saja, “Rembulan dan matahari sudah ada dengan sendirinya”, kata orang ateis.

Tapi kata orang yang bertuhan, “Tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti ada yang melalui proses. Manusia ada melalui proses yaitu lahir, mulai dari kecil, hasil hubungan ayah dan ibu, akhirnya punya anak.

Kemudian kalau kita melihat ketertiban di alam semesta ini dan kalau Tuhan itu ada dua, tiga atau lebih akan kroyokan tuhan satu dengan lainnya. Tapi kenapa matahari menjadi tertib? Setiap pagi itu terbit. Rembulan dan semuanya tertib. Bintang-bintang tidak ada yang tabrakan. Mungkin satu atau dua bintang bertabrakan.

Kenapa bisa tertib? Pasti ada yang mengatur. Itu menurut akal pikiran. Kemudian menurut akal pikiran bahwa akal pikiran manusia itu terbatas. Coba kalau kita berpikir, “Di atas kita ada langit. Di atas juga ada bintang-bintang, matahari, setelah itu apa lagi yang paling jauh?” Itu ada batasnya.

Akal itu terbatas. Apa yang ada di atas sana, umpamanya langit ketujuh adalah batasnya, di atas langit ketujuh ada apa lagi, tidak kuat manusia itu. Karena tidak kuat, mereka berpikir pasti ada yang paling kuat, ialah Tuhan. Inilah akhirnya manusia pasrah. Karena apa? Manusia pikirannya terbatas. Ada yang tidak terbatas yaitu Allah, Tuhan.

Jadi menurut akal pikiran ada beberapa, pertama, kalau ada segala sesuatu pasti ada yang membuat. Alam semesta tidak mungkin ada dengan sendirinya. Kemudian kenapa tertib (مُرَتَّبٌ) dan teratur (مُنَظَّمٌ), tidak ada yang bentrokan.

Kenapa pagi, sore, malam dan siang kok tertib begini. Kalau menurut orang Hindu tuhan ada tiga, tuhan pencipta, namanya Brahmana. Yang menurunkan hujan, memberi makanan, pepohonan atau buah-buahan namanya Wisnu. Yang mematikan manusia seluruhnya, buah-buahan, makanan dan nyawa manusia, namanya Siwa.

Ini masih ada masuk akalnya meskipun menurut Islam seluruhnya Allah (رَبِّ الْعَالَمِيْنَ). Jadi Tuhan Pencipta (الْخَالِقُ) itu Allah. Kemudian Tuhan Penjaga (الْمُحَافِظُ) juga Allah. Tuhan yang memusnahkan tumbuh-tumbuhan juga Allah. Allah Maha Segala-nya. Inilah kemudian menurut akal bahwasanya Allah itu pastilah ada.

Dan kelirulah orang-orang ateis yang tidak percaya kepada tuhan. Dan mereka betul-betul ada, banyak sekali. Orang Rusia, orang Cina, kebanyakan dari daerah-daerah sana. Orang rusia, Cina, Korea Utara, Vietnam banyak sekali orang ateis yang tidak percaya pada adanya Allah.

Baik, demikianlah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *