Kebenaran Iman ‘Tiada Tuhan Selain Allah’ #2

Oleh The Voluntaryst (Tim Pecatat Kuliah Subuh)

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Dua)

Ahad, 22 Agustus 2021/13 Muharam 1443 H

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

كَانَ الْإِنْسَانُ ضَعِيْفًا

Manusia itu lemah

Oleh karena itu, manusia mencari kekuatan untuk memecahkan kelemahannya. Lemah, sakit, mau begini dan begitu tidak bisa, pikirannya juga lemah.

Meskipun di antara makhluk-makhluk lainnya manusia paling kuat, tetapi dalam dirinya manusia sebenarnya lemah. Maka manusia mencari kekuatan di balik apa yang nampak ini. Kekuatan yang ada di balik apa yang nampak itulah tuhan.

Manusia-manusia yang masih primitif—manusia zaman dulu—artinya masih asli, seperti masyarakat Badui, berasal dari bahasa Arab, artinya primitif, yaitu masyarakat yang masih belum terkena kebudayaan yang lain, mereka itu mencari di mana tuhan.

Ketika melihat sesuatu di langit langsung dianggapnya tuhan. Kalau manusia kelihatan. Kalau ada sesuatu yang gaib, maka mereka meminta-minta pada sesuatu yang gaib itu. Mereka lewat di suatu bumbul, suatu pohon, tiba-tiba di situ ada sesuatu yang aneh terlihat menakutkan, tetapi juga memberi harapan.

Maka besoknya mereka datang ke pohon besar itu lagi dalam rangka meminta-minta kemudian memberi sesajen atau makanan. Kemudian ada orang yang lebih ahli dari itu yaitu para dukun. Mereka datang setiap malam ke sana, bahkan ke sungai, pinggir laut atau gua. Mereka menyembah ke situ.

Banyak sekali cerita seperti itu. Para raja di Jawa jika menginginkan menjadi raja mereka bertirakat dengan menyepi di pinggir Laut/Pantai Selatan, suatu gunung dan di pinggir sungai. Untuk apa? Mendapat kekuatan dari sesuatu yang mereka anggap tuhan.

Akhirnya muncullah tuhan-tuhan itu. Seperti Tuhan Laut Selatan. Ada juga di Jepang Tuhan Matahari. Kalau pagi mereka rukuk dan sujud ke timur untuk menyembah tuhan mereka. Kalau orang Badui mereka menyembah sesuatu yang dekat seperti bumbul, sungai, pohon, laut, gunung atau batu-batu besar.

Mereka menyembah ke situ karena dianggapnya sebagai tuhan. Sebenarnya mereka bukan tuhan menurut apa yang diwahyukan Allah kepada para nabi dan rasul. Itu adalah jin dan setan.

Jadi jika ditemukan hal gaib semacam itu yang banyak di bumbul, hutan, di pinggir laut. Itu bukan tuhan tapi hantu. Tuhan kalau banyak menjadi hantu. Tu-han tu-han tu-han tu-han tu-han. Akhirnya menjadi hantu, bukan tuhan.[1] Inilah pada masyarakat yang dulu dalam kisah mencari tuhan itu demikian.

Kemudian dalam masyarakat yang akalnya lebih tinggi dari mereka yang mencari tuhan dan akhirnya menemukan hantu-hantu itu, menganggap matahari lebih tinggi, karena berpikir bahwa matahari yang menyebabkan sesuatu, semisal hujan.

Hujan disebabkan laut terkena sinar matahari, akhirnya panas, menguap dan mengeluarkan awan, kemudian menjadi hujan. Dengan hujan itu dapat menumbuhkan tanaman-tanaman dan buah-buahan. Ini bersumber dari matahari, maka mereka menyembahnya.

Di masyarakat juga ada yang menyembah manusia dulunya, yaitu menyembah raja-raja seperti Fir’aun. Jadi orang kalau datang ke istana bersujud semua untuk menyembah Fir’aun. Nabi Musa a.s. bahkan pernah memperingatinya, tetapi tidak disambut dengan baik. Di dalam Al-Qur’an telah dikisahkan perihal ini.

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى بِاٰيٰتِنَا وَسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍۙ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,”[2]

اِلٰى فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَقَارُوْنَ فَقَالُوْا سٰحِرٌ كَذَّابٌ

Kepada Fir‘aun, Haman dan Karun; lalu mereka berkata, “(Musa) itu seorang pesihir dan pendusta.”[3]

فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا اقْتُلُوْٓا اَبْنَاۤءَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ وَاسْتَحْيُوْا نِسَاۤءَهُمْ ۗوَمَا كَيْدُ الْكٰفِرِيْنَ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ

Maka ketika dia (Musa) datang kepada mereka membawa kebenaran dari Kami, mereka berkata, “Bunuhlah anak-anak laki-laki dari orang-orang yang beriman bersama dia dan biarkan hidup perempuan-perempuan mereka.” Namun tipu daya orang-orang kafir itu sia-sia belaka.”[4]

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُوْنِيْٓ اَقْتُلْ مُوْسٰى وَلْيَدْعُ رَبَّهٗ ۚاِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّبَدِّلَ دِيْنَكُمْ اَوْ اَنْ يُّظْهِرَ فِى الْاَرْضِ الْفَسَادَ

Dan Fir‘aun berkata (kepada pembesar-pembesarnya), “Biar aku yang membunuh Musa dan suruh dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.”[5]

وَقَالَ مُوْسٰىٓ اِنِّيْ عُذْتُ بِرَبِّيْ وَرَبِّكُمْ مِّنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَّا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ ࣖ

Dan (Musa) berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan.”[6]

Jadi kala itu orang-orang takut kepada Fir’aun. Raja-raja itu makhluk tapi disembah-sembah karena dianggap tuhan. Itulah kisah tentang mecari tuhan.

Orang-orang ada yang menemukan tuhan itu hantu-hantu atau jin. Ada juga yang sampai tidak menemukan yaitu orang-orang ateis dan kafir. Menurut mereka tuhan itu tidak ada tapi manusia saja yang mencari-cari. Itu orang-orang ateis, kafir dan komunis.

Komunis berbeda dengan ateis. Mereka adalah kelompok yang mementingkan masyarakat, tetapi dalam praktiknya sering kali seperti orang-orang ateis yang tidak bertuhan.

Hal ini bisa dipelajari melalui ilmu teologi (ilmu ketuhanan). Di dalamnya ada pelajaran tentang kisah mencari tuhan. Kita, anak-anak, juga perlu mengetahui itu sekadarnya. Nanti kalau didalami juga bisa. Semakin mendalami semakin baik untuk mengerti kedudukan kita, tentang apa yang harus kita lakukan.

Demikianlah.

 وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] Jika diucapkan berulang menjadi hantu, bukan tuhan. Sekadar guyonan dalam bentuk satire oleh Kiai Dawam.

[2] Al-Qur’an, 40: 23.

[3] Ibid, 24.

[4] Ibid, 25.

[5] Ibid, 26.

[6] Ibid, 27.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *