Kebenaran Iman ‘Tiada Tuhan Selain Allah’ #1

Oleh The Voluntaryst (Tim Pencatat Kuliah Subuh)

Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Satu)

Sabtu, 21 Agustus 2021/12 Muharam 1443 H

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 الْإِيْمَانُ بِإِلهٍ

Iman kepada ilah.

Kata “اِلٰهٌ” dalam bahasa Indonesia adalah tuhan sedangkan dalam bahasa Inggris theo. Dulu ada anak di sini namanya Theo. Sebenarnya itu keliru karena Theo artinya tuhan, kok ada anak namanya tuhan.

Dulu juga ada anak di Jawa, entah di Probolinggo atau di mana, seseorang yang namanya tuhan. Bagaimana bisa si ayah memberinya nama tuhan? Nanti akan ada yang bertanya, “Tuhan ke mana?”, “Tuhan ke sawah”, bagaimana nantinya jika ada pertanyaan dan jawaban demikian?

Begitu juga Theo, dalam bahasa Inggris atau Barat itu berarti tuhan. Dalam bahasa Arab tuhan bisa dua, yaitu “اِلٰهٌ” dan “رَبٌّ”. Apa perbedaan dari keduanya? Kalau “رَبٌّ” itu tuhan yang mencipta, memelihara dan mematikan (الْخَالِقُ, الْمُرَبِّ, الْمُلَاصِ).

Kalau orang Hindu menganggap tuhan ada tiga, yaitu Brahma, Wisnu dan Syiwa. Makanya dalam hindu tuhan dipatungkan dengan wujud berbadan satu tapi dengan tiga wajah, sering disebut Trimurti.

Kemudian “اِلٰهٌ”, apa artinya? Ia berasal dari kata “أَلِهَ-يَأْلَهُ-أُلُوْهِيَّةٌ ”, kemudian juga “مَأْلُوْهٌ”, itu artinya “مَعْبُوْدٌ”, berarti yang disembah. Jadi ilah artinya sesembahan. Kalau yang mencipta itu belum tentu yang disembah. Kalau ilah, yang berarti sesembahan itu, seperti kita salat, di mana itu ditujukan pada “اِلٰهٌ”. Maka yang benar adalah “لاَ اِلٰهَ إِلَّا الله” (Tiada sesembahan selain Allah).

Ada juga orang yang sudah beriman kepada “رَبٌّ” (Allah), tetapi masih menyembah selain Allah. Satu “رَبٌّ” tapi ilahnya berbeda. Jadi masih menyembah matahari, patung-patung.  Kata orang musyrik pada zaman Rasulullah Saw. atau pada zaman jahiliah dulu ketika ditanya, “Kenapa kamu menyembah patung-patung itu?”, dijawabnya “Sebenarnya kami menyembah Allah, patung-patung ini hanya supaya dekat gambaran Allah.” Sebagaimana dalam Al-Qur’an dikatakan:

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ۗوَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”

Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.[1]

Jadi hatta mereka mengatakan kami tetap menyembah Allah. Mereka juga mengatakan bahwa pencipta alam semesta adalah Allah, sebagaimana dalam ayat:

 وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۗ

Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka menjawab, “Allah.”[2]

Perihal konsep rabb mereka sudah tahu ada satu yaitu Allah, tetapi ilah-nya berbeda. Ini supaya  dimengerti oleh anak-anak—dalam pelajaran tauhid diterangkan ini—tentang perbedaan antara ilah dengan rabb.

Yang lebih parah lagi adalah orang Kristen. Kalau orang Hindu itu agak lumayan yang mengatakan tuhan ada tiga yaitu Brahma (Yang Mencipta), Wisnu (Yang Memelihara) dan Syiwa (Yang Mematikan). Orang Kristen itu payah dengan mengatakan tuhan ada tiga. Yang pertama Tuhan Bapak.

Coba, kok ada begitu. Yang kedua Tuhan Anak. Yang ketiga Tuhan Ruhul Kudus. Ini parah sekali. Secara logika dan hukum akal hal tersebut tidak masuk akal sama sekali. Tuhan Bapak itu Allah, Tuhan Anak itu Nabi Isa, sering disebut Yesus, kemudian Ruhul Kudus itu malaikat Jibril. Parah sekali itu. Dan itu diikuti oleh banyak orang di seluruh dunia, bahkan melebihi jumlah orang muslim.

Ilmu tentang tuhan sering disebut dengan teologi. Berasal dari dua kata yaitu theo (tuhan) dan logos (ilmu). Dalam bahasa Arab disebut “عُلُوْمُ الْأُلُوْهِيَّة” (ilmu ketuhanan). Kalau uluhiah itu ketuhanan sedangkan ilah yang dituhankan/disembah. Di samping itu juga ada manusia yang tidak percaya sama sekali kepada adanya tuhan yaitu orang-orang atheis.

Kata theis itu yang bertuhan. Kalau atheis yang tidak bertuhan karena ‘a’ berarti tidak. Seperti kata agama, gama itu artinya tidak teratur sedangkan agama yang (tidak) tidak teratur. Jadi agama artinya teratur. Kemudian atheis itu orang yang tidak bertuhan. Mereka hanya menggunakan akal saja tanpa banyak yang lain-lain.

Kemudian orang-orang atheis seperti orang-orang PKI. Meskipun ada satu dua mereka yang beragama muslim. Tapi kebanyakan, rata-rata, pemimpin-pemimpinnya tidak beragama, tidak bertuhan. Kalau ditanya, “Dulu mana antara manusia dengan tuhan?”. Mereka menjawab, “Tentu lebih dulu manusia karena mereka berpikir tentang adanya tuhan, maka tuhan ada. Coba kalau manusia berpikir tuhan tidak ada, ‘kan tidak ada.”

Baik, demikianlah beberapa kisah tentang ilah (اِلٰهٌ).

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] Al-Qur’an, 39: 3

[2] Al-Qur’an, 39: 38

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *