JEDOR SENDANG : Melestarikan Metode Dakwah para Wali

DUNG!PRAK!PRAK!. Siapa yang tak kenal suara khas tabuhan terbang dan kendang ini. Meski bukan alat musik melodis, suaranya tetap enak didengar, jika dipadukan dalam kesatuan ritme yang teratur. Mungkin inilah yang diusung oleh tim Jedor Santri Sendangagung.

Tim Jedor Sendangagung digagas oleh Ustadz Piet Haidir pada sekitar pertengahan 2019 lalu. Tim ini dibina oleh beberapa orang termasuk Ustadz Piet, Ustadz Gondo, Pak Milkhan, dkk. Latihan Jedor biasanya dilaksanakan pada malam Senin dan Kamis, yang dilatih oleh Pak Hendri. Jedor merupakan permainan alat musik yang tidak mudah dikuasai, karena butuh kesabaran lebih untuk mengatur keselarasan ritmenya. Butuh latihan yang serius juga  untuk menciptakan chemistry antar pemain dalam setiap tabuhan alat musiknya.

Jedor merupakan salah satu permaian musik yang bernuansa islami. Dimana, dulu permainan musik ini digunakan para wali sebagai sarana dakwah untuk meyebarkan syariat islam di Tanah Jawa. Meskipun sekarang bukan lagi masa hits-nya, Jedor tetap merupakan salah satu warisan budaya yang harus dilestarikan.

Jedor juga termasuk warisan turun temurun dari desa Sendangagung. Di Desa Sendangagung, dulu Jedor pernah dikenal dengan nama Joglo yang hanya mengumandangkan shalawat saja. Namun seiring berjalannya waktu, nama Joglo berganti menjadi Jedor dengan tidak hanya mengumandangkan shalawat saja. Tetapi, lagu-lagu daerah pun bisa dimainkan sebagai sarana hiburan warga.

Jumat,24 januari 2020, menjadi saksi biksu performa tim Jedor Sendangagung.tim yang baru satu setengah bulan berlatih ini, telah menguasai tiga lagu. Meskipun bisa dibilang masih seumuran jagung, tim Jedor Sendangagung telah berani menunjukkan eksistensinya, dengan ikut mengambil bagian dalam perayaan MILAD Muhammadiyah ke-107 M, yang diadakan di Desa Sendangagung.

Tim Jedor yang beranggotakan 21 personil ini bermain dengan baik dibawah komando Ustadz Gondo Waluyo. Anggota dalam Tim Jedor ini seluruhynya merupakan siswa-siswa kelas 10 dan 11 MA AL-ISHLAH. Dengan setelan pakaian putih hitam dan berhiasakan selendang oranye, Tim Jedor berjalan maju penuh antusias untuk mengenalkan budayanya. Permainan yang apik dari mereka sangat menghibur warga, khususnya golongan tua yang merindukan permainan musik Jedor masa kecilnya.

Karena sejatinya Jedor bukan punya orang tua saja, tetap generasi muda juga seharusnya punya rasa tanggung jawab dalam pelestariannya.

“Pokoknya untuk anak-anak muda, jangan malu untuk melestarikan budaya sendiri. Terus semangat! Biar lagunya tambah banyak. “ Ujar Bu Ela, salah satu guru MA AL-ISHLAH. Dengan munculnya kembali budaya Jedor di Sendangagung ini, banyak warga mewanti-wanti agar para generasi muda dapat melestarikan budayanya. Karena sejatinya Jedor bukan punya orang tua saja, tetap generasi muda juga seharusnya punya rasa tanggung jawab dalam pelestariannya. Para golongan tua membutuhkan generasi muda yang mau menjaga budaya daerahnya,. Bukan generasi yang nongkrong sini-sana dan ketika ditanya tentang budayanya, hanya bisa geleng-geleng tak tahu apa-apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *