Jadilah Santri yang Terampil dan Ksatria

Nama lengkapnya adalah Wahab Luthfi. Lebih suka dipanggil Luthfi. Guru Madrasah Diniyah Al-Ishlah ini asli Sendangagung. Kelahiran Lamongan 26 Agustus 1993. Dari pasangan Bapak Achmad Sukarjo (Alm) dan Ibu Sriyah. Anak ketiga dari 3 bersaudara.

Adik Yazid Husnan ini merasakan pengaruh nilai yang diinspirasi dari kedua orang tuanya. Nilai keteladanan dari kedua orang tuanya adalah selalu bersikap sopan-santun kepada siapapun tanpa pandang bulu, jujur dan suka mengalah.

Mengawali pendidikan di MIM 13 Sendangagung, lulus tahun 2006, Luthfi kemudian melanjutkan pendidikannya di SMPM 12 Sendangagung, tamat 2009. Masih di Pondok Al-Ishlah, dia melanjutkan studinya di MA Al-Ishlah jurusan IPS, selesai 2012. Sambil mengabdi di pondok sebagai pembina pramuka, Luthfi meneruskan kuliah ke Unesa (Universitas Negeri Surabaya) jurusan Ilmu Hukum, selesai 2016.

Dia mendapatkan banyak pelajaran selama di Al-Ishlah. Di antaranya, kebersamaan, keikhlasan dan kedisiplinan. “Saya selalu merasa nyaman di Al-Ishlah, karena semuanya bekerja dengan hati”, ungkapnya.

Selama menjadi santri, Luthfi mempunyai metode belajar yang menurutnya efektif. Yaitu dengan cara belajar berkelompok, berteman untuk belajar dengan orang yang pintar. Kemudian seringkali bertanya kepada teman atau kakak kelas bila ada kesulitan atau sukar dalam menjawab soal pada saat belajar. Atau sebaliknya, membantu teman yang kurang atau belum bisa. “Jadi intinya, cara belajar saya adalah learning by doing”, terangnya.

Harapan terhadap Al-Ishlah ada beberapa. Di antaranya terhadap santri agar mereka memaksimalkan bakat dan kemampuan selama menjadi santri (akademik, bahasa dan non akademik). “Bekalilah diri kalian dengan ilmu dan wawasan yang luas. Dunia luar begitu keras. Kalian harus punya bekal yang cukup”, ungkapnya.

Sedangkan terhadap alumni dia berpesan agar mereka menunjukkan kepada dunia bahwa alumni pesantren bisa bersaing dan sukses di masyarakat. Sukses dalam ibadah dan sopan-santun.

Adapun terhadap Al-Ishlah secara lembaga, Luthfi berharap agar Al-Ishlah bisa menciptakan santri yang berakhlaqul karimah, terampil dan berjiwa ksatria.

[Ditulis oleh Piet Hizbullah Khaidir dalam buku “Menjadi Guru itu Mulia”]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *