INTELEKTUALITAS ADALAH SYARAT MENJADI PEMIMPIN #4

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Empat)

Kamis, 8 Agustus 2021/29 Zulhijah 1442

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

Di Indonesia, sering kali sebutan bagi mereka yang mempunyai ilmu agama adalah alim ulama. Ulama sebenarnya jamak. Jadi kalau ada yang mengatakan “Dia itu ulama”, sebenarnya keliru secara bahasa, tetapi sudah menjadi kebiasaan. Yang benar adalah “Dia itu alim”. Kalau ‘dia’ yang benar itu alim. Kalau di Indonesia dia itu ulama. Padahal ulama (عُلَمَاءُ) adalah jamak dari alim (عَالِمٌ). Di Indonesia, Kalau kita mempunyai ilmu pengetahuan umum disebut sebagai cendekiawan atau profesor. Sebenarnya artinya ahli. Orang yang berilmu, ahli dalam keilmuan tertentu. Umpamanya profesor dalam bidang matematika, geografi, ekonomi. Itu artinya ahli. Kalau doktor biasanya melalui sekolahan, jenjang kuliah hingga S3, sehingga mempunyai gelar doktor. Ada juga gelar honoris causa, itu tidak melalui sekolahan. Honoris causa artinya gelar penghargaan karena ia mempunyai ilmu hasil dari membaca sendiri, hasil dari penelitian yang terus-menerus, meneliti dan membaca sehingga menghasilkan banyak tulisan. Sehingga sebuah perguruan tinggi memberinya gelar doktor. Kalau profesor biasanya guru yang ahli dalam ilmu pengetahuan umum.

Sekarang Ilmu Pengetahuan Agama juga diberi gelar, doktor atau profesor, dalam bidang agama. Di Indonesia juga ada gelar selain alim ulama untuk ilmu agama, yaitu gelar Kiai. Kiai sebenarnya diperuntukkan kepada seseorang yang lebih banyak mengamalkan ilmu agamanya. Ilmu Pengetahuan Agama juga terdapat tingkatan-tingkatan. Kalau ia rajin mengamalkan ilmu agamanya, ibadahnya, memberi teladan kepada masyarakat dalam beribadah, berdakwah untuk menyebarkan agama, maka ia disebut Kiai. Jadi ada Kiai yang alim betul, biasa saja atau yang di atas rata-rata. Apa bedanya Kiai dengan seorang alim ulama? Kalau alim lebih banyak ilmu pengetahuannya. Kemudian kalau di bahasa Arab tidak ada ‘kiai’. Kadang kalau di Arab, istilah kiai disebut muthawwa’ atau muthawwi’ (مُطَوَّعٌ/مُطَوِّعٌ), artinya orang yang dijadikan oleh Allah Swt. sebagai orang yang taat, kemudian ia ditaati oleh masyarakat di sekitarnya.

Kemudian kalau di Jawa macam-macam. Kiai itu dulu pokoknya sesuatu yang keramat. Itu disebut ‘kiai’. Keramat maksudnya mempunyai kelebihan-kelebihan batiniyah. Bahkan di Solo, Yogyakarta, nama keris milik raja di istana dianggap keramat dan disebut ‘kiai’. Bahkan kerbau milik istana yang dianggap keramat juga disebut ‘kiai’. Jadi kiai adalah sebuah julukan untuk sesuatu yang keramat. Kadang-kadang juga ada yang menyebutkan ‘ki’ saja, dari ‘kiai’. Orang yang mempunyai ilmu, seorang guru dan tawaduk disebut dengan ‘ki’, seperti Ki Hajar Dewantoro. Itu guru dan pendiri pendidikan di Indonesia, ada ki-nya. Itu sebenarnya kiai juga, tetapi bukan pandai dalam ilmu agama, namun pandai dalam ilmu pendidikan dan kebudayaan. Inilah beberapa istilah yang sudah saya sampaikan kemarin, tentang beberapa istilah yang harus dimengerti oleh anak-anak.

Seperti kata-kata “عَالِمٌ”, artinya orang yang berilmu, kemudian “عَلِيْمٌ” (dengan lam yang panjang, termasuk dalam ismu fa’il lil mubalaghah, artinya orang yang sangat berilmu (pandai) atau Maha Mengetahui. Contohnya, “إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ” (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui). Jadi dimaksudkan untuk makna sangat atau ke-maha-an, tetapi kata “عَلِيْمٌ” juga bisa untuk nabi. Di dalam Al-Qur’an diterangkan soal Nabi Yusuf a.s yang mengatakan, “إِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ”[1] (aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan. Untuk manusia biasa, ulama biasa, sebaiknya tidak menggunakan “عَلِيْمٌ” (dengan lam panjang). Yang benar menggunakan “عَالِمٌ”. Kemudian untuk Allah Swt. dengan sifat Maha Mengetahui ada dua kata yaitu “عَلِيْمٌ” dan “عَلاَّمٌ”. Keduanya sama-sama berarti Maha Mengetahui. Jadi, ini hanya untuk Allah Swt. Kalau “عَلِيْمٌ” untuk Allah Swt. dan beberapa nabi. Seperti Nabi Ishaq a.s, disebutkan dalam Al-Qur’an, “اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمٍ عَلِيْمٍ”[2] (Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang pandai (Ishak). Kemudian istilah “عَلاَّمٌ” digunakan untuk Allah Swt., juga bisa untuk manusia, biasanya ditambah dengan ta’ marbuthah menjadi “عَلاَّمَةٌ” (seseorang dengan ilmu pengetahuan sangat luas). Seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Imam Syafi‘i, Imam Hanbali, Imam Maliki atau Ibnu Taimiyah sering disebut ‘allaamah. Jadi orang yang sangat luas ilmu pengetahuannya. Meskipun ada ta-nya tetap muzakkar, yaitu isim yang menunjukkan jenis laki-laki. Inilah beberapa istilah kalau orang sudah berilmu.

Kemudian yang sangat penting juga. Kalau orang sudah berilmu, apapun ilmunya, lebih-lebih ilmu agama, jangan sampai luntur keimanannya. Kenapa ia luntur keimanannya? Karena rakus dunia (حُبُّ الدُّنْيَا). Yang demikian itu betul-betul ada meskipun tidak banyak. Sudah ulama, mendapatkan gelar kiai, profesor, doktor, tetapi rakus dunia, jabatan. Tujuannya untuk mencari kekayaan dan ini betul-betul ada hari-hari ini. Ini sangat berbahaya bagi rakyat, bagi umat. Jadi harus tetap diperkuat keimanannya. Ulama-ulama yang rakus dunia atau jabatan, yang penting diberi jabatan apa begitu—misalkan menteri—akhirnya ia membela-bela orang kafir, ateis dan akhirnya ia membela-bela kecurangan. Bahkan mengejek sesamanya. Ini namanya “الْعُلَمَاءُ السُّوْءُ” yang artinya buruk. Jangan sampai kita, anak-anak nanti kalau sampai menjadi ulama baik yang alim, cendekiawan, ilmuan ataupun ulama agama, jangan sampai nanti tergiur atau rakus dunia, sehingga menjadi “الْعُلَمَاءُ السُّوْءُ” (ulama yang buruk).

Baik, demikianlah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] Al-Qur’an, 12: 55.

[2] Al-Qur’an, 15: 53.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *