INTELEKTUALITAS ADALAH SYARAT MENJADI PEMIMPIN #2

(Disadur dari Kuliah Subuh Kiai Dawam Saleh: Bagian Dua)

Rabu, 5 Agustus 2021/26 Zulhijah 1442

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

Mempunyai ilmu adalah syarat untuk memegang jabatan, amanah atau kepercayaan. Di dalam bahasa Arab, kata “أَمِيْنٌ” artinya yang dipercaya, dan “أَمَانَةٌ” artinya kepercayaan. Kalau ingin menjadi menteri ekonomi, harus mempunyai ilmu ekonomi. Kalau ingin menjadi menteri kesehatan, harus mengerti ilmu-ilmu kesehatan. Kalau ingin menjadi menteri pertahanan, harus mengerti ilmu kemiliteran, pertahanan, dst. Jadi ilmu itu harus. Kalau seorang pemimpin tidak memiliki ilmu di dalam bidangnya, maka dalam hadis ia disebutkan sebagai Ruwaibidhah.

 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi dari Ishaq bin Abu al-Furat dari al-Maqburiy dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan, sedangkan orang yang jujur malah didustakan. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara. Ada yang bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan Ruwaibidhah?’, beliau menjawab, ‘Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.’[1]

Jadi dalam hadis tersebut disebutkan, di suatu masyarakat akan terjadi, apakah itu? Orang yang dipercaya (الْأَمِينُ) malah dibohongi. Orang-orang yang baik dan amanah dikhianati. Orang yang pengkhianat-pengkhianat malah dipercaya. Orang yang biasa bohong dibenarkan. Orang yang jujur malah dibohongi.

Kapan terjadi hal itu? Orang yang jujur malah dilempar, orang yang pembohong malah dipercaya. Kalau nanti yang menjadi pemimpinnya adalah Ruwaibidhah. “Ya Rasulullah, siapa dia Ruwaibidhah?”, yaitu pemimpin bodoh yang berbicara tentang umat, tentang masyarakat. Ini ada hadisnya seperti itu. Saya itu menangis setiap hari karena mengetahui hari-hari ini dari berita-berita, video-video, puluhan, yang jujur, benar, tetapi ditutup-tutupi. Saya juga menangis kalau melihat, umpamanya, anak di sini sudah enam tahun masih tidak mengerti apa fi‘il (kata kerja), fa‘il (pelaku pekerjaan) dan isim (nama). Sudah belajar bahasa Arab setiap hari, menulis Al-Qur’an saja tidak bisa. Saya menangis melihat begitu. Kalau orang melihat mungkin tertawa saja, tetapi saya menangis.

Ada seorang penjual martabak, dilihat dari fotonya saja sudah kelihatan kalau orang ini tidak bisa, tidak sampai sekolah tinggi. Kalaupun sekolah tinggi, banyak ribuan temannya yang lebih pandai darinya. Padahal hanya jualan martabak saja kok bisa menjadi wali kota. Padahal banyak orang yang lebih baik, lebih cerdas, lebih berilmu, lebih berpengalaman, lebih amanah, lebih jujur, lebih punya wawasan, lebih tablig, lebih fatanah. Kenapa orang sebodoh itu menjadi pemimpin? Saya itu menangis, dan ini betul-betul terjadi. Kalau orang lain mungkin tertawa-tawa karena tidak mengerti kebenaran dari berita-berita yang sesungguhnya. Saya mengetahui sejak lima tahun yang lalu.

Pemimpin yang sekarang ini banyak, puluhan, saya sampai menangis sejak enam tahun yang lalu melihat itu. Maa shaa Allah. Jutaan orang lebih pandai darinya kenapa orang sebodoh itu? Saya tahu karena yang memilih diberi uang semuanya. Uangnya tidak hanya jutaan, tetapi miliaran, triliunan. Siapa orang yang memberi? Orang yang ingin supaya pemimpinnya bodoh, bisa disetir. Soal ini orang-orang tidak mengerti. Saya sampai menyebut namanya saja wegah[2], melihat gambarnya saja sakit karena tahu. Orang yang tidak tahu, banyak masyarakat, bahkan tokoh-tokoh masyarakat tidak mengerti karena mudah percaya kepada orang-orang di atasnya yang mereka juga disogok.

Inilah Ruwaibidhah. Di beberapa negara juga terjadi seperti itu. Jadi inilah yang termasuk dikhawatirkan oleh malaikat, “Ya Allah, bagaimana nanti anak-anak Adam menjadi pemimpin di dunia, menjadi pemimpin di bumi, mereka hendak apa?”, dikatakanlah “يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ” (mereka akan merusak di bumi dan menumpahkan darah, anak-anak Adam). Dan itu kenyataan betul, mulai dari penjajahan-penjajahan dulu, dari Fir‘aun yang juga anak Adam, pun Namrud. Seluruh penjajahan adalah ulah dari anak Adam. Jadi itu yang ditakutkan malaikat dulu, “Ya Allah, apakah bumi ini akan dipimpin oleh orang-orang yang merusak bumi dan menumpahkan darah?” Akan tetapi, demikianlah Allah Swt. memang menjadikan kebaikan dan keburukan. Allah Swt. akan menguji siapa yang baik dan siapa yang buruk. Allah Swt. akan menurunkan nabi. Zaman Nabi Ibrahim as. tidak ada satupun di atas bumi ini yang menyembah Allah Swt., ia sendirian yang menyembah-Nya. Seluruh manusia di bumi kalau tidak menyembah berhala, raja, patung-patung, gunung-gunung, laut, bintang-bintang, rembulan, dll. Inilah kenapa kita memerlukan ilmu.

Jadi hendaklah diketahui, saya mulai empat tahun terakhir ini sampai menulis buku. Jadi saya tidak sembarangan. Tiga tahun yang lalu saya menulis buku puisi, “Agar Petruk Tak Lagi Duduk di Tampuk” karena saya mengamati. Saya menangis setiap hari. Berita-berita di koran-koran jarang ada. Di Jawa Pos, misalnya, tidak ada berita-berita yang sebenarnya. Karena apa? Orang-orang itu sudah diberi uang supaya jangan menyiarkan kebenaran itu. Supaya kelihatan yang baik-baik saja. Kemudian setahun yang lalu saya menulis buku lagi karena ‘Petruk masih duduk di tampuk’. Saya menulis, “Jerit Tangis Anak Negeri”. Saya menangis setiap hari. Saya pernah jam dua malam salat Tahajud di sini sendirian. Malamnya jam 10, saya mendengar ada ketua partai yang baru. Seketika karena ia menjadi ketua partai, keturunan Cina, dan besoknya begitu langsung membela calon gubernur, keturunan Cina, kafir, suka berbicara kasar. Begitu dipilih saya berteriak, menangis, “Dajal, dajal, bersekutu untuk memilih dajal!”. Kalau orang lain mungkin biasa saja, tetapi kalau saya perhatikan itu, saya menangis. Saya sampai menulis puisi-puisi itu. Jadi nanti mungkin di mana saja, di desa ada pemilihan kepala desa, tidak dipilih orang yang terbaik. Siapa yang dipilih? Mungkin tokoh-tokohnya telah diberi uang semuanya, “Pilih itu!”, padahal ia tidak layak dan yang demikian itu banyak terjadi.

Di negara Indonesia hari-hari ini terjadi seperti itu. Saya mengetahui berapa janji, enam puluh janji dibohongi semuanya. Tidak dilaksanakan. Nanti rupiah akan menjadi dolar sepuluh ribu, di bawah sepuluh ribu, ternyata sekarang empat belas ribu. Nanti harga BBM tidak akan naik, ternyata naik. Nanti akan diberikan sepuluh juta lapangan kerja, ternyata tidak diberikan sama sekali. Bahkan orang-orang Cina datang ke Indonesia mendapat pekerjaan. Kebohongan banyak sekali, nanti akan begini, nanti akan begitu, sampai enam puluh enam. Nanti tidak akan mengimpor beras, ternyata berton-ton masih impor. Nanti tidak akan menaikkan pajak, ternyata pajak terus naik. Mudah-mudahan tidak berhutang lagi, ternyata hutangnya sekarang enam ribu triliyun. Ada yang mengatakan sampai sepuluh ribu triliun. Sekarang sudah tidak.

Semua itu karena apa? Karena tidak sidik, tablig, amanah dan fatanah. Sidik adalah jujur, lawannya tidak jujur. Amanah lawannya khianat, tidak bisa dipercaya. Bahkan berbicara tidak mengerti apa yang dibicarakan. “Saya pancasila”, tetapi tidak mengerti apa pancasila. “Saya Indonesia”, tetapi tidak mengerti apa Indonesia. Saya kok pancasila/Indonesia. Mendengar itu saya menangis. Maa shaa Allah. Wangi sekali dulu Bung Karno bisa berpidato. Semangat. Bisa berbahasa Inggris dan Belanda dengan baik. Menggetarkan seluruh pendengar. Demikianlah, anak-anak perlu mengetahui yang sebenarnya. Jangan mudah dibodohi. Inilah pentingnya ilmu, kejujuran dan keimanan.

Baik, demikianlah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah (Juz 2), no. 4036, hlm. 1261.

[2] Wegah dalam bahasa Jawa artinya enggan atau tidak mau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *