Generasi Mutamaddin

Oleh: Piet Hizbullah Khaidir M.A

Perempuan dengan senyum manis ini akrab disapa dr. Dina. Anak pertama KH.Muhammad Dawam Saleh dan Bu Nyai Hj. Mutmainah, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur. Sulung dari 3 bersaudara, dengan dua adik laki-laki: Azzam Mushoffa, Lc ., (baru lulus S1 dari Universitas Islam Madinah) dan Berril Amal (masih kuliah di jurusan Dirasat Islamiyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Dr. Dina adalah perempuan yang bersahaja, tidak nekoneko dan penurut terhadap apapun yang diminta oleh bapak, terutama ibunya. Termasuk ketika ibunya memintanya kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat (FKKM) jurusan Pendidikan Dokter setamat dari aliyah.

Yang dia yakini bahwa dengan menaati ibunya pasti bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, dan terutama untuk Pondok Pesantren Al-Ishlah. Padahal, menurut pengakuannya, baik ketika belajar di sekolah menengah pertama ataupun di aliyah, yang menonjol dari kemampuan akademiknya adalah dalam bidang agama. Sempat berontak dalam hatinya, karena ghirahnya adalah menjadi guru seperti bapak dan ibunya. Tetapi sekali lagi, dia segera membelokkan perasaan dan hatinya untuk meyakini pilihan ibunya. Dan memang benar, niat kuat dan saran ibunya untuk kuliah kedokteran adalah pilihan yang tepat bagi Al-Ishlah terutama, dan juga untuk dirinya. ‚ÄúPilihan ibu ini memang sangat tepat. Saya memiliki prinsip kepedulian dan bermanfaat untuk sesama. Menjadi dokter, benar-benar telah memenuhi pelaksanaan prinsip saya tersebut.”

Dr. Dina mengenyam pendidikan awalnya di TK ABA Sendangagung, MIM 13 Sendangagung. Kemudian setamat dari pendidikan dasarnya, dia melanjutkan ke SMPM 12 Sendangagung Paciran, selesai tahun 2004. Lalu, langsung meneruskan ke MA Al-Ishlah, tamat tahun 2007. Dari tahun 2007-2010 melanjutkan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Pendidikan Dokter, disusul kewajiban mengikuti Ilmu Profesi Dokter, 2010-2013. Program internship dan praktek profesi dokter dijalaninya di RSJ RSUD Bogor, RSUP Fatmawati dan RSUD Pandeglang. Setelah selesai dari program profesi dokter, dia kembali ke Al-Ishlah, untuk mengajar dan tugas utamanya telah menanti, menjadi dokter di POSKESTREN Al-Ishlah. Di sela-sela kesibukan sebagai dokter di RS Sujudi dan POSKESTREN beliau menyempatkan melanjutkan kuliah FKM Unair, jurusan Administrasi Peminatan dan Menejemen Kesehatan.

Anak sulung Kiai Dawam ini memang sangat getol dalam belajar. Tidak pernah kenal lelah. Kebiasaan belajarnya adalah ketekunan dan tidak menunda tugas akademik yang diberikan guru. Dia tidak dan suka tidak menumpuk pekerjaan dengan menunda mengerjakannya. Dia melakukan review (muraja’ah) untuk materi kemarin di waktu pagi hari. Sedangkan untuk PR, dikerjakan setelah shalat dan makan siang, usai sekolah pada hari yang sama. Adapun malamnya dipergunakan untuk belajar materi esok harinya. Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, baik Arab maupun Inggris, dia selalu mencatat mufrodat/vocab yang diberikan senior kepadanya untuk dihafal pagi itu. Kemudian mufradat/vocab tersebut ditulisnya di kertas kecil lalu ditempelnya di lemari kamarnya.

Dr. Dina, kini dikaruniai seorang putri yang cantik, Azalea Zahwa Hajira, hasil pernikahannya dengan Agus Susilo, Lc., alumni Gontor yang telah menyelesaikan studi S1-nya di Al-Azhar Cairo, dan kini sedang mengambil program S2 jurusan Linguistik di kampus yang sama. Di tengah kesibukan merawat anak, kuliah dan praktek jaga di RS, segenap pikiran dan hatinya adalah pondok, pondok dan pondok. Anak sulung Kiai Dawam Saleh ini benar-benar memimpikan Pondok Pesantren Al-Ishlah menjadi mercusuar peradaban dan tradisi ilmiah seperti zaman kejayaan Islam dahulu. Karya, tradisi ilmiah dan pencetak generasi ulama yang mumpuni baik dalam bidang agama terutama (Al-Qur’an, Hadits, Ushul Fiqh, Kalam, dan Fiqh), riset-riset ilmiah ilmu eksak dan humaniora, maupun sastra.

“Saya memimpikan lahir dari Al-Ishlah, sebuah generasi yang mutamaddin. Yakni, Generasi Qur’aniy: hafidh, mufassir, faqih, ‘aalim, dan mursyid; intelektual yang melahirkan karya-karya hebat dalam bidang riset eksakta dan humaniora, serta ilmuan-ilmuan dan sastrawan-sastrawan; generasi yang menjunjung tinggi akhlak sebagai ruh jiwa dan pribadinya; generasi yang shaleh: taat beribadah, bermuamalah yang bagus serta memiliki kepedulian yang tinggi. Saya benar-benar merindukan kehadiran ulama-ulama seperti Al-Farabiy, Ibnu Shina, Al-Khwarizmi, Imam al-Ghazali, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani, dan lain-lain. Mudah-mudahan keseriusan Al-Ishlah dalam seluruh aktifitas akademik dan non-akademiknya dapat mendekatkan kepada proses kehadiran mimpi itu. Terutama, dengan berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah (STIQSI), upaya mewujudkan mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan.”

Mimpi-mimpi yang diharapkan Dr. dina wujud ini sesungguhnya adalah refleksi dari prinsip hidupnya dan harapannya terhadap Al-Ishlah ke depan. Bagi dr. Dina, seorang santri dan juga alumni Al-Ishlah harus menjadikan akhlak sebagai ruh gerak jiwa dan pribadinya. Prestasi akademik adalah nilai plus. Akhlak yang baik akan menjadi suluh pengetahuan dan berkah Allah bagi kehidupan seseorang. Santri dan alumni Al-Ishlah tidak boleh meninggalkan akhlak karimah sebagai pilar hidupnya. Sama seperti para ulama zaman dahulu itu. Mereka berakhlak yang mulia, sekaligus ilmuan, mufasir, dan faqih yang hebat. Karenanya mereka disebut ulama. Dan hidup mereka barokah dan naafi’ah.

Ke arah menjadi santri dan alumni yang berakhlak karimah, harus dimulai belajar ketika di Pondok. Belajar disiplin dan taat aturan. Disiplin dan taat aturan dilakukan bukan karena takut hukuman, tetapi karena kesadaran. Oleh karena itu, di dalam ataupun di luar Pondok, tetap berpegang pada ruh gerak akhlak karimah sebagai prinsip hidupnya.

Terutama Pengurus OPPI. Pengurus OPPI, terutama Ketua dan Wakilnya, harus memberikan keteladanan kepada santri-santri lain, khususnya untuk adik-adik kelasnya. Yang terasa susah, sebagaimana pengalaman penyuka sambel kecap ini, adalah mengatur teman sebaya dan juga kakak kelas. Pengurus OPPI dituntut melatih dan menggembleng diri untuk memiliki mental yang kuat, tidak cengeng, bertanggung-jawab, dan berani mengambil resiko apapun atas keputusan yang telah diambil. Di samping keteladanan dan mental yang kuat, sikap lain perlu dikombinasikan, yaitu kepedulian dan kebersamaan. Dengan kepedulian dan kebersamaan, tugas seberat apapun terasa ringan, lingkungan menjadi nyaman, terjaga rasa kekeluargaan, dan tali kasih sayang dalam bingkai akhlak karimah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *