Gelar Wali Santri, Dilema Kegalauan Dan Kesabaran

Oleh: Dyta Anggrayni R. Wali santri Ponpes Al-Ishlah, alumni fakultas hukum UMM tahun 2004, pekerja di El Shafey Group Company di Kairo-Mesir, penulis lepas dan tertarik bidang budaya, sastra, parenting dan agama.

Memberikan pendidikan yang baik adalah kewajiban setiap orangtua karena pertanggungjawabannya tidak hanya sebatas di dunia saja, bahkan kelak sebagai orang tua akan bertanggungjawab dihadapan Allah SWT.

Oleh karena itu, pendidikan agama sebagai fondasi awal dalam mendidik anak sangatlah penting diterapkan sebagai bekal di kehidupan selanjutnya, dan pastilah pesantren adalah pilihan sarana pendidikan yang tepat mencetak generasi yang berakhlak mulia, memahami agama Islam sekaligus memperoleh pengetahuan umum.

Apa Yang dibutuhkan Wali Santri Ketika Memondokkan Anaknya?

Ketika memasuki dunia pesantren, orangtua yang bergelar wali santri itu harus mempersiapkan mentalnya serta menata hati agar keyakinan tetaplah tumbuh dalam masing-masing pribadi yang akan memondokkan anaknya.

Ikhtiar untuk membangun generasi yang kuat dan tidak meninggalkan generasi yang lemah-iman, lemah-akhlaq, lemah-ilmu, lemah-ekonomi dan lainnya, karena generasi yang lemah tidak akan mampu menjadi pembela orang tuanya, lebih lebih membela agama, bangsa dan negaranya.

Akan tetapi hal yang paling penting untuk kita bangun sebagai wali santri adalah keikhlasan, dan keyakinan diri serta kepasrahan yang tinggi kepada Allah SWT sebagai korelasi ikhtiar kita untuk mengantarkan anak-anak untuk menjadi anak yang sukses dikemudian hari.

Apabila kita sudah benar- benar ikhlas berjuang, maka kita sudah betul-betul mengamalkan perintah Allah SWT seperti yang tertuang dalam QS.An-Nisa’ ayat 9 yang artinya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah SWT dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”.

Dari ayat tersebut sudah jelas penegasannya memberi isyarat kepada kita agar dapat memberikan pendidikan yang baik agar menjadi generasi yang kuat, jika sudah demikian hendaklah sebagai orang tua kita harus membuang jauh-jauh sikap bimbang, ragu, cemas atau bahasa milenialnya disebut galau, karena sikap galau pada akhirnya dapat mengikis sedikit demi sedikit keyakinan dalam memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita sehingga akan berdampak kurang baik untuk diri sendiri.

Ketika kita sudah memutuskan untuk memondokkan anak artinya kita harus percaya kepada pendidik, pengasuh yang berada di intern pesantren tersebut, karena dengan ilmu dan kesabaran serta kemampuan mereka akan dapat mendidik anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas dan bermental kuat.

Butuh kesabaran yang luar biasa agar apa yang kita harapkan dapat terwujud, butuh kerjasama yang baik antara pihak pondok dengan walisantri agar ada keseimbangan dan akhirnya tujuan itu dapat terealisasi dengan baik.

Dilema Kegalauan Dan Kesabaran Wali Santri Serta Cara Menyikapinya

Dilema antara kegalauan dan kesabaran adalah sebuah kalimat yang tepat untuk wali santri yang baru pertama kali berpengalaman menitipkan anak-anak mereka di pesantren. Saat pertama kali harus meninggalkan anak-anak mereka berbagai perasaan berkecamuk di hati wali santri.

Sebut saja mereka (bunda, mama, umi, ibu, emak, dan sebagainya) menangis, terharu, cemas serta beribu pikiran ada di benak mereka beradu jadi satu, namun karena berbekal keyakinan itu pada akhirnya mereka dipaksa harus mempunyai sikap sabar yang tinggi sebagai modal utama.

Bersabar bukan berarti diam merenungi namun bersabar dalam mendo’akan, bersabar dalam menanti kabar, bersabar ketika terus berlelah-lelah mengantar jemput kepesantren, bersabar mendengar keluh kesah anak ketika mereka mengadu, merengek, bahkan menangis minta dijemput pulang dan tidak serta merta semua keinginan anak harus dituruti.

Karena di situlah kesabaran kita sebagai wali santri sedang diuji antara keinginan menyerah dan terus berjuang demi masa depan sang buah hati, tetapi ketika kita ingat akan janji Allah seperti yang tertuang dalam QS: Ar-Ro’d ayat 24 yang Artinya “Dan keselamatanlah untuk kalian sekeluarga (surga Adn) atas kesabaran waktu di dunia”.

Dari kutipan arti ayat tersebut, kita akan termotivasi kembali untuk berjuang, karena surgalah balasannya bagi orang-orang yang senantiasa bersabar dalam segala hal dan bukankan kesabaran itu tidak ada batasnya?, hanya saja kemampuan kita untuk bersabar itulah yang terbatas.

Orang tua yang bergelar wali santri, ketika kita mengingat janji Allah SWT yang tertuang dalam kalam suci-Nya tentang balasan surga yang Ia janjikan, maka segera tanggalkan kegalauan yang melanda, percayalah bahwa pilihanmu adalah mulia semulia surga balasannya.

Percayalah karena Allah selalu menjaga mereka disetiap hembusan nafas, kita titipkan anak-anak kita di pondok pesantren, di tempat para ahli ilmu yang dekat dengan Allah SWT. Kemudian Allah ridho dan Allah jadikan mereka anak-anak yang sholih dan sholiha serta Allah berikan derajat yang tinggi kepada kita sebab kemuliaan hati kita.

Di akhir tulisan ini penulis ingin menyampaikan pesan mutiara untuk orang tua yang bergelar walisantri.

Tinggalkan kegalauan, bersabarlah dalam melangitkan do’a-do’a kepada sang penguasa langit dan bumi, kelak kau akan mengerti bahwa seuntai do’a dan perjuanganmu akan berbuah manis, kemudian kau akan menangis bahagia menyaksikan amanah yang telah Allah titipkan kepada kita menjadi generasi yang kuat seperti yang kita harapkan, Allahu’alam bissawab.

Penyunting: M. Afiruddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *