Enam Esensi Nilai Keberhasilan Pondok Al-Ishlah (Catatan Sowan MBS Balen Bojonegoro)

Ada enam esensi nilai keberhasilan Ponpes Al-Ishlah yang sejak awal dipraktekkan hingga usianya yang ke-37 ini. Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Ponpes Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan ketika menerima sowan Pengurus Muhammadiyah Boarding School (MBS) Balen Bojonegoro, Selasa (12/09/2023).

Lebih lanjut, alumni Gontor tahun 1970-an ini mengatakan, bahwa enam esensi nilai itu harus didasari oleh keikhlasan, yaitu orientasi akhirat dan lillahi ta’ala. Seperti pesan dan nasehat beliau yang selalu disampaikan kepada santri-santri di Al-Ishlah. “Cintailah ilmu, amal, dan ibadah, dunia akan datang dengan sendirinya. Jangan kalian cintai dunia, karena cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan”.

Dalam kaitan dengan itu, alumni Sarjana Lengkap Fakultas Filsafat Universitas Gajahmada ini menjabarkan bahwa enam esensi nilai keberhasilan Ponpes Al-Ishlah, yaitu: Pertama, harus berasrama. Berasrama adalah salah satu nilai keberhasilan Ponpes al-Ishlah. Dengan sistem asrama, transfer pengetahuan dan kerhubungan antara pengasuh, guru-guru dan santri dapat terjalin dengan baik.

Kedua, keseimbangan antara ilmu agama dan umum. Keseimbangan ini penting, agar lulusan Al-Ishlah dapat mengerti ilmu agama sebagai fondasi kehidupan akherat, dan ilmu umum sebagai bekal keterampilan menghadapi kehidupan dunia. Ketiga, aktif berbahasa. Yang diajarkan secara praktek langsung di Ponpes Al-Ishlah adalah Bahasa Arab dan Inggris. Pengajaran secara langsung adalah pengajaran dengan langsung belajar bicara, mengajarkan tanpa terjemahan bahasa Indonesia, dan melalui muhadharah. Dengan metode praktek langsung ini, diharapkan ada keberanian santri dalam berbicara dengan kedua bahasa asing tersebut.

Dua bahasa ini adalah alat komunikasi dan gerbang pengetahuan. Dengan pembelajaran aktif berbahasa ini, santri al-Ishlah diharapkan dapat mempelajari ilmu pengetahuan agama dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Arab, dan selanjutnya berhasil mendakwahkan Islam di komunitas berbahasa Inggris.

Keempat, disiplin dalam segala aspek kehidupan di Pondok. Latihan disiplin sejatinya sebagai bekal pembiasaan agar santri ketika lepas dan lulus dari Pondok, memiliki kedisiplinan dalam berkiprah di masyarakat. Disiplin ini menyangkut aktifitas belajar, shalat berjamaah, jam aktifitas dan istirahat, cara berpakaian dan sebagainya. Kelima, aktifitas ekstra kurikuler. Aktifitas ekstra kurikuler ini merupakan kegiatan dalam melatih santri-santri agar memiliki keterampilan kepemimpinan, kepramukaan, seni budaya, dan kegiatan lain yang dapat ditunjukkan oleh mereka ketika berkiprah di masyarakat.

Terakhir, Uswah dari pimpinan Pondok. Meskipun disebutkan terakhir, menurut Ustadz Dawam, esensi keberhasilan Pondok al-Ishlah yang keenam ini justru yang paling utama. Poros keberhasilan lembaga pendidikan adalah contoh terbaik dalam segala hal yang ditunjukkan oleh pengasuh dan pimpinan pondok lainnya. Uswah ini boleh dikatakan sebagai tonggak dan pilar inti keberhasilan yang menopang lima esensi lainnya.

Terhadap pengurus MBS Balen Bojonegoro, Ustadz Dawam berpesan dengan mengutip nasehat Yi Man (KH. Abdurrahman Syamsuri, Pengasuh Ponpes Karangasem), sebuah pondok bila ingin berhasil harus dierami, ditunggui. “Jangan banyak ditinggal. Pimpinan Pondok harus banyak perhatian terhadap Pondok. Harus istiqamah dan sabar dalam mengawal aktifitas, kegiatan dan mengajar serta memberi uswah untuk santri dan seluruh penghuni Pondok. Kesabaran dan keistiqamahan serta doa pimpinan Pondok adalah tonggak spiritualitas yang membuka keberkahan dan keberhasilan Pondok”, pungkasnya.

Reporter: Fani Firda Yuniarti

Editor: Fani Firda Yuniarti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *