CERITA DI BIANGLALA

Jakarta, 11 Oktober 2009.

Bianglala yang kami tumpangi, mendadak berhenti dibagian atas.

Dia yang duduk di depanku tersenyum. Manis. Seperti tersihir, aku ikut tersenyum. Malah senyumku terlihat canggung. Mataku tidak berkedip memandangnya. Hatiku berdetak kencang . Keringat dingin mulai beemunculan. Entah perasaan apa yang menyelimutimu?

Bulan purnama tertempel indah di langit kota Jakarta. Kerlap-kerlip lampu kota bagai refleksi bintang diatasnya, tapi hal ini berada di daratan. Lebih indah lagi. Suara angin malam mulai terdengar silih berganti. Udara dinginnya memasuki sela-sela kulit. Huh! Udara di kota ini mulai dingin. Sepertinya musim penghujan akan datang cepat.

Aku menghembuskan nafas.

Senyap. Kami hanya asyik menatap pemandangan dari atas bianglala. Salwa menunjuk bintang paling terang(lampu kota). Aku mendekat, ingin lihat lebih dekat. Lantas ber-oh. Dilanjut suara tawa kami.

Aku menghembuskan nafas lagi. Bingung.

Ah! Bagaimana ini? Apa yang harus aku mengatakannya sekarang?

“Sal” aku memberanikan diri manyapa.

“ Iya jo, ada apa?”  Salwa menatapku, tersenyum.

Oh tuhan! Bagaimana aku tidak gugup. Saat dia menapku, wajahnya bagai purnama kedua yang tidak kalah indah, sangat dekat denganku. Mataku tidak berkedip menatapnya. Menahan nafas sesaat. Sampai dibuat gugup aku olehnya.

“Ada apa Jo, kau memanggilku?” menaikkan alisnya, sambil tersenyum. Memecah lamunanku sesaat. “In-in-in.. Inni sal.” Terbata-bata, gugup.

Hatiku berdetak kencang sekali . Keringat dingin mulai muncul di wajahku. Bahkan tangan dan kakiku mulai bergerak-gerak tidak jelas. Aku begitu canggung. “sebenarnya ak-akk-kuuuu.”

Suara itu susah sekali di keluarkan, seperti nyangkut di tenggorokan.

Salwa di depanku mengerjap-ngerjap ingin tahu.

“ Sebenarnya ak-akk-ku…. Ci-ci…..” tak kuasa aku melanjutkan kalimat itu. Melihat Salwa. “jangan membuatku penasaran Jo. Katakan saja.”

Lima detik hening. Aku tidak juga bicara.

“Ayolah Jo katakan saja. Aku sudah tidak sabar mendengarnya.” Dia mendekatiku, lantas menyentuh pundak ku.

“ak-ak-akk-kuu….. Ci-ci-cin ci….cincin itu bagus.” Astaga! Begini lagi, seterusnya aku tidak akan pernah mengatakan kalimat itu. Bahkan, dalam situasi seperti ini tetap saja aku tidak berani mengatakannya. Bagaimana ini?

Angin dingin bertiup- tiup. Bianglala masih berhenti-kami berada  diatas.

Salwa terdiam, melepas sentuhannya dari pundakku. Mengusap cincin berwarna perak yang di pakainya. “Cincin ini.” Mengangkat tangannya. Menunjukkannya kepadaku.

“I-i-iya cincin itu?” menatapnya, menunggu jawaban. Yang ditatap hanya menunduk. “ kau yakin Jo, ingin tahu cincin apa ini?”

Aku menghembuskan nafas. “Apa salahnya aku tahu sal. Toh, tidak ada hubungan-nya denganku.”

“kau benar-benar yakin Jo.” Suara salwa terdengar berbeda.

“seratus persen yakin.” Spontan.

Salwa diam sebentar. Mengusap cincinnya. Tapi, akhirnya dia Lamat-lamat berkata. Perkataan yang akan membuatku sakit hati.

“Asal kamu tahu Jo. Sebenarnya aku sudah bertunangan seminggu yang lalu. Yang melamarku adalah pemuda yang kau tabrak di taman kota dulu. Dia adalah gin. Sebentar lagi kami akan menikah. Semua undangan sudah aku sebarkan, hanya tinggal satu. Yaitu milikmu. Aku sengaja menunggu momen yang cocok untuk mengantarkan ini. Tapi, sepertinya aku tak kunjung bisa mengantarkannya. Jadi mungkin ini momen yang cocok. Kau jangan lupa datang di pernikahanku ya, ini undangannya.”

Aku terdiam, badanku mematung. Seperti anak panah yang melesat cepat menuju sasaran. Menancap akurat pada hatiku(sasaran). Hatiku retak lalu hancur berkeping keping.

Mataku tidak berkedip. Tubuhku lemah terduduk. Perkataan itu langsung mencabik cabik pikiranku. Meruntuhkan tembok tembok tang ku bangun dengan susah payah.

Huh! Bagai berada pada gedung yang tinggi menjulang, aku loncat seketika tak menghiraukan apapun-terjun bebas. Bianglala kami juga beranjak turun.

“kau baik-baik saja Jo.” Salwa bertanya, menyentuh pundakku.

Diam. Aku hanya diam tak bisa berkata-kata.

“Kau baik-baik saja Jo.”salwa lagi-lagi bertanya.

Tapi yang ditanya diam seribu bahasa. Terlalu mendalam perasaanku.  Hingga satu, dua, tiga detik hanya bisa diam. Tersisa suara angin malam.

Bianglala semakin turun.

Aku masih termangu mendengar kalimat itu. Seperti tergiang terus, terus dan terus. Mataku mulai ber-air“kau baik-baik sa-.”

“kenapa, KENAPA KAU BARU BILANG SEKARANG SAL?” belum habis kalimatnya, aku sudah berteriak menahan perasaan kecewaku.

“Tadi sudah kubilang, aku menunggu waktu yang cocok.” Dia bingung menatapku yang tiba-tiba berteriak.

“Tapi kenapa kau harus menikah dengan pemuda itu dan kenapa begitu cepat?”

“kau tahu sendiri mamaku, dia menjodohkan ku dengan anak temannya. Dan kebetulan anak itu gin.”salwa berusaha menjelaskan.

Bianglala terus menuju bawah. Tinggal satu menit lagi.

“asal kau tau sal. Aku telah jatuh cinta dengan kau sejak dulu. Sejak kita masih duduk di bangku SD. Tapi, hingga kini aku tidak sanggup untuk mengatakannya. Mengatakan kalau aku cinta kamu sal. Sampai pada saat ini, yang mungkin sangat cocok untuk mengungkapkannya aku tetap tak kuasa. Tak kuasa menahan kalimat itu. Tapi, ternyata aku sudah terlambat. Kau tahu sal aku TERLAMBAT.”  Air mataku akhirnya keluar bersamaan dengan kata itu.

Salwa mematung tidak percaya. Dia seketika paham. “Maafkan aku Jo. Sungguh maafkan aku. Selama ini aku tak pernah memikirkan kalau kau sayang padaku, aku tidak tahu kalau kau memendam perasaan cinta yang terlalu subur. Yang kau sirami selalu dengan dengan hati. Sekali lagi Jo. Maafkan, sungguh maafkan aku.” Air mata Salwa akhirnya menetes. Dia terisak. Dia baru saja tahu kalau aku menyayanginya.

Bianglala kami telah sampai di bagian bawah.

“Sudahlah sal. Semua sudah terjadi. Aku yang salah, aku terlalu takut mengatakan perasaan ini. Sudahlah semua sudah terjadi. Biarkan saja.”

Aku keluar dari bianglala, menahan air mataku. Membiarkan Salwa yang masih duduk di bianglala. Termangu.

Biarlah nasi sudah menjadi bubur. Aku berjalan cepat keluar secepat mungkin dari area bianglala.

Tapi, sebelum genap langkahku keluar dari bianglala. Sebelum aku berteriak. Dan sebrlum aku benar-benar akan lari dari sana. Seketika tanganku ditarik kebelakang. Badanku berbalik, apalagi.

“PRANKKKKKKKKKKK!!!!” seraya berkata.

Aku melipat dahi. Bingung. Salwa diujung sana tertawa terbahak-bahak. Disekitar ku juga ikut tertawa.

Gin orang yang menarikku tadi berbicara. “selamat ulang tahun Jo. Semoga panjang umur.”

Oh aku baru sadar ternyata ini adalah tipuan. Dasar anak-anak beraninya mereka mengerjai ku. Awas besok -besok aku kerjai balik.

Lantas aku ikut tertawa. Tapi, astaga diujung sana kedua orang tuaku berjalan mendekatiku. “selamat ulang tahun Jo.” Ibu berkata memelukku.

Bapak membawakan kue ulang tahun. “Ini lilinnya ditiup dulu…….. Satu……….dua……….”

“Tigaaaaa……….” aku meniup lilinnya. “selamatnya nak.”

“Maafkan Jo ya pak Bu.”aku memeluk mereka berdua. “oh ya Jo. Adan yang ingin bertemu kamu. Dialah yang merencanakan semua ini.”

Aku melipat dahi. Penasaran. Siapa?

“oh jadi kamu yang merencanakan semua ini sal.”

“ emang benar, kenapa?” berjalan mendekatiku. Tersenyum.

Aku balas tersenyum.

“Oh ya Jo soal tadi. Aku juga suka kamu kok.” Tersenyum manis.

Seperti kepiting rebus. Wajahku merah padam. Yes! Mengepalkan tangan.

Tapi cinta sejati mereka belum selesai. Masih ada petir yang siap menyambar. Masih ada ombak yang siap di terjang. Dan masih ada taman taman yang indah yang perlu dinikmati sesaat untuk kembali pada cobaan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *