Bekerja Dan Harapan

Oleh: Bilif Abduh. Alumni Ponpes Al-Ishlah 1998. Mengajar Bahasa Inggris di Yogya dan Penulis buku “The Power of Positive Thinking for Islamic Happy Life”.

Salah satu hal yang ditekankan Islam untuk mengisi kehidupan adalah dengan bekerja. Jika kita rajin membaca dan menela’ah Al-Qur’an, akan kita jumpai beberapa ayat yang mendorong manusia untuk rajin bekerja.

Dalil-Dalil Tentang Etos Kerja

Salah satunya adalah ayat yang memiliki arti, “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya beserta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu..'” (QS. At-Taubah [9]: 105).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat dia atas, yang dilihat adalah pekerjaan, bukan hasil pekerjaan. Maka bisa dipahami bahwa proses bekerja itulah yang lebih penting dari pada terlalu memikirkan hasil. Kita perlu menyakinkan diri sendiri bahwa proses tidaklah pernah mengkhianati hasil. Sungguh, Allah tidaklah akan menyia-nyiakan kerja dan usaha hamba-Nya.

Dari Al-Miqdam r.a, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)” (HR. Al-Bukhari).

Jika para nabi saja rela berjibaku, kerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri, masa kita yang orang biasa ini, apakah masih akan terus berpangku tangan?

Betapa pentingnya hal terkait dengan etos kerja, sampai-sampai Rasulullah Saw suatu ketika tak langsung memberi seorang pengemis karena fisik pengemis itu masih sehat dan bugar. Tak layak menengadahkan tangan meminta-minta. Oleh Rasulullah, lelaki itu diminta menjual barang yang dipunyainya dan dibelikan kapak. “Bekerjalah dengan mencari kayu bakar dengan kapak itu,” kata Rasulullah.

Bekerja pada dasarnya adalah ungkapan syukur atas nikmat sehat jasmani, rohani dan akal pikiran. Selain juga bahwa bekerja adalah upaya sadar untuk menghidupi diri sendiri agar tidak menjadi beban orang lain dan perwujudan dari diri yang terus mencoba memberikan manfaat pada orang lain.

Misal, seorang bapak yang rajin bekerja, ia secara nyata telah menebarkan manfaat dari hasil upayanya itu – setidaknya – bagi anak dan istrinya, keluarganya.

Seringkali yang kita dapati, seseorang sudah lebih dulu menyerah sebelum mencoba untuk bekerja atau berusaha. Hal ini, terjadi sebab dia terlalu memikirkan hasil dan pada saat yang bersamaan dia tidak siap dengan hasil buruk yang mungkin dia terima.

Tiada Harapan Bagi Yang Tidak Bekerja

Padahal, yang perlu kita lalukan adalah bekerja dan berusaha sedang hasilnya nanti biarlah Allah yang menentukan. Kita serahkan pada-Nya.

Orang-orang yang menyerah lebih dulu sebelum bertanding (baca:bekerja), berarti pada dasarnya telah menutup pintu peluang atau harapan untuk dirinya sendiri. Peluang dan harapan hidup yang lebih baik hanya akan tetap ada selama kita mau bekerja dan berusaha. Rasanya hanya orang pandir yang berharap memanen tanpa dia pernah menanam.

Apa yang diteladankan Rasulullah Saw selama hidupnya adalah menghindarkan diri dari panjang angan-angan dan sebaliknya adalah kesegeraan dan kecekatan dalam bertindak atau bekerja sebaik-baiknya.

Harapan dan peluang memperoleh kebaikan adalah bagi mereka yang bekerja sebaik-baiknya dan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Sebab, bukankah tiada balasan kebaikan selain kebaikan? Oleh karena itu, mari kita hidupkan harapan dan peluang kita dengan terus bekerja sebaik-baiknya.

Penyunting: M. Afiruddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *