Bagaimana Pondok Pesantren Al-Ishlah Meningkatkan Literasi di Lingkungan Santrinya?

Pondok Pesantren Al-Ishlah merupakan pondok pesantren yang berdiri dengan nilai-nilai keterbukaan informasi berbasis literasi, hal ini dapat ditinjau dari berbagai aspek seperti, masifnya pengadaan buku bacaan, sentuhan informasi melalui media masa koran, diskusi keilmuan seperti muhadlarah dan Mudakarah. keterbukaan ini menjadikan pondok pesantren Al-Ishlah tetap relevan dan dapat dinilai dengan transparan oleh khalayak umum.

Dalam berjalannya aktifitas pendidikan, penerimaan informasi ini dibutuhkan kedewasaan dan etika pembelajaran yang terkontrol dan terprogram dengan baik, di sinilah peran Pondok Pesantren menjadi konselor yang terbuka bagi santri dalam memilah-memilih serta mengelola informasi  sehingga dapat dimanfaatkan  sebaik mungkin, atas dasar itu Pondok Pesantren Al-Ishlah setidaknya mempunyai beberapa program nyata dalam membentuk santri yang tidak hanya melek informasi tetapi juga bijak dalam berliterasi.

Memberi Ruang Interaksi Semasif Mungkin

Lingkungan Pondok Pesantren Al-Ishlah yang mewajibkan santrinya untuk bermukim selama 24 jam penuh tentunya memungkinkan Santri tetap berada dalam atmosfir interaksi antar santri dengan intensitas yang tinggi, tidak hanya itu efektifitas interaksi ini lebih terasa dampaknya dalam membentuk karakter para santri, didukung dari latar belakang para santri yang datang dari berbagai kelas masyarakat, budaya dan daerah asal yang variatif.

Toleransi dalam Komunikasi dengan Bahasa Arab dan Inggris

Pondok Pesantren Al-Ishlah yang menerapkan bahasa arab dan inggris sebagai bahasa resmi tentunya tidak hanya menekan diskriminasi dalam berbahasa sebab beragamnya latar belakang bahasa santri di lingkungan pondok, tetapi juga memberi ruang terciptanya keterbukaan informasi dan pertukaran nilai-nilai kebudayaan yang tidak hanya terbatas di indonesia saja tetapi juga merambah pada semakin terbukanya akses keterbukaan informasi dengan negara lain

Membudayakan Membaca dan Menulis

Dalam dunia Pendidikan sudah sewajarnya cakupan literasi diperbesar dengan diadakannya Gerakan membaca dan menulis, begitu juga di Pondok Pesantren Al-Ishlah, hal ini menjadi mudah dan efektif dilakukan karena adanya lingkungan yang mendukung dan dapat memberi alternatif bacaan melalui program kepondokan yang lebih terstruktur dan terencana, para santri disibukkan dengan aktifitas yang mendorong para santri untuk giat membaca dan menulis, seperti adanya seminar kepenulisan, kelas-kelas menulis, pengadaan mading di tiap kamar sampai lomba literasi yang masif dilakukan sebagai acara rutin kepondokan.

Tingginya Literasi merupakan Indikator Kebahagiaan yang Nyata

Pondok Pesantren Al-Ishlah yang mempunyai wilayah dan lingkungan terbatas, tentunya memunculkan tanda tanya seperti, apakah para santri tidak tertekan, sehingga memunculkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti depresi, tidak relevan dalam berkomunikasi di tengah Masyarakat?,

Maka jika meruntut lebih luas lingkungan kepondokan didesain justru agar para santri menjadi pribadi yang nantinya saat terjun ke masyarakat dapat menjadi pribadi  yang terbuka seterbuka mungkin, menjadikan santri tetap relevan di masyarakat, tetapi pertanyaannya, apakah cukup hanya menciptakan generasi muda yang terbuka tetapi terombang-ambing di tengah lautan informasi?, meningkatkan infromasi tanpa berpegang pada nilai-nilai kebaikan?.

Memang benar masifnya literasi berbanding lurus dengan kebahagiaan. Hal ini terbukti, kelima negara yakni Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia sebagai negara dengan tingkat literasi yang tinggi, juga termasuk ke dalam 10 negara paling bahagia pada 2014-2016 menurut World Happines Report 2017, tetapi kebahagiaan yang bagaimana yang ingin dicapai?, tentunya kebahagiaan yang orientasinya tidak hanya dunia melainkan menjadi wadah pengabdian kepada Allah SWT, melahirkan generasi islam yang orientasi hidupnya adalah beribadah. (Admin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *