AGAMA ADALAH DOKTRIN?

Setiap pembelajaran pasti memunculkan berbagai model pertanyaan, seperti halnya yang terjadi dikelas 10 IPS 1 pada tanggal 31 Januari 2022, tepatnya pada jam kesembilan pelajaran aqidah.

Tentu pelajaran ini merupakan penjelasan yang berisi doktrin terhadap agama Islam, terlebih lagi Ustadzah Wahyuni menjelaskan dengan tempo yang sangat cepat, hal ini tentu membuat para siswa kebingungan dan susah memahami penjelasan yang disampaikan.

Ditengah keheningan kelas beriring rentetan pembahasan tentang “Iman kepada Allah Semata”, tiba – tiba terpecah oleh salah satu siswa yang hendak memberikan usul kepada ustadzah,”Ustadzah, pelajaran aqidah ini adalah pelajaran doktrin, yang mana kita dipaksa untuk percaya tanpa berpikir logis, mohon diberikan kesempatan bertanya.” Usul salah satu siswa bernama Fahri Jundi Daula.

Ustadzah pun menjawab dengan senyum dan anggukan, tak lama jawaban itu disambut dengan riuh ramai siswa dan canda disetiap bangku. Setelah mendapatkan izin dari Ustadzah, Fahri melanjutkan pertanyaan yang seketika mengheningkan suasana.

“Ustadzah pada sejarahnya hampir semua agama adalah hasil kondisi keterpurukan, seperti Buddha oleh Sidharta Gahutama karena berusaha mencari perlindungan dari sistem kasta, seperti agama Yahudi yang berusaha mencari perlindungan dari penindasan Fir’aun, seperti Konghucu yang berusaha mencari penyelasaian dari moral bobrok dan sama seperti Nabi Muhammad, yang mencari perlindungan dan solusi dari moral yang borbok, dari itu semua muncullah tuhan dan agama, bukankah begitu agama muncul?”.

Tak lama kemudian, suara riuh bermunculan dari segala penjuru kelas yang seketika meramaikan suasana “Iya semua agama seperti itu, bahkan kita jadi Islam karena kita keturunan Islam, kita jadi Kristen karena keluarga kita Kristen/Yahudi, Nabi Muhammad bersabda : Bahwasannya setiap yang lahir fitrahnya Islam, kecuali di-Yahudi-kan/di-Nasrani-kan/di-Majusi-kan oleh kedua orang tuanya.” Jelas Ustadzah Wahyuni.

Fahri menjawab “Berarti agama adalah doktrin dan muncul ketika manusia berpikir tuhan itu ada sebagai simbol perlindungan.” Seketika para siswa terdiam, mulai merenung dan memikirkan hal tersebut. Keheningan itu pecah ketika ustadzah menjawab “Dulu ada siswa Al-Ishlah yang begitu Zuhud dan Alim, tapi ketika dia masuk jurusan filsafat dia jadi atheis hingga saat ini, untuk pertanyaan seperti itu, lebih baik ditanyakan kepada Ustadz Piet atau Ustadz Eko, beliau berdua spesialis dibidang seperti itu.”

Para siswa pun saling menggumam terhadap pemikiran yang condong kepada atheisme itu, hingga jam pelajaran pun habis dan dilanjut oleh pelajaran setelahnya.

AL-Ishlah Post Edisi 152

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *