Makhshaf Terintegrasi Mendongkrak Prestasi

Oleh: M. Ishaq Muzakki

Kehidupan di pondok pesantren merupakan sebuah kehidupan yang dipenuhi oleh berbagai macam pembelajaran, baik itu pembelajaran untuk pendidikan formal maupun pembelajaran untuk kehidupan sehari-hari. Dalam kesehariannya, para santri dapat melakukan pembelajaran yang bersifat formal ketika mereka berada di madrasah. Selain di madrasah, mereka juga dapat melakukan pembelajaran hidup dari kesehariannya seperti mencuci,  belajar untuk menyelesaikan berbagai permasalahaan, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan positif lainnya.

Dalam hal ini, tidak hanya sebuah madrasah yang berperan dalam memberikan suatu pembelajaran. Namun bila kita lihat lebih lanjut, sebenarnya banyak sekali elemen-elemen pondok yang mampu memberikan suatu pembelajaraan bagi seorang santri di pondok pesantren tercinta ini. Contohnya saja seperti masjid yang mengajarkan arti kebersamaan, dapur yang mengajarkan arti kesederhanaan, dan masih banyak lagi. Salah satu elemen yang menarik di pondok ini adalah makhshaf — istilah dalam bahasa Arab yang bermakna kantin — yang mana di dalam lingkungan pendidikan adalah kantin yang tidak hanya melayani proses jual-beli, namun juga memberikan sebuah pembelajaran bagi para pembelinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

            Shafni Ulwan, selaku penerus dari kekaisaran Lek Khitam — penjaga makhshaf  pondok yang sebelumnya — telah membuat suatu pembelajaran kepada para santri. Hal ini berawal dari bagaimana ia mengamati keadaan para santri mulai dari keterlambatan siswa untuk berangkat ke sekolah, terlalu banyaknya antrian karena lamanya seorang pembeli berfikir, banyaknya sampah plastik di pondok ini, dan lain sebagainya. Dari hasil pengamatannya itulah, perlahan ia mulai membuat peraturan-peraturan baru, yang harapannya dengan peraturan tersebut para santri dapat menyadari serta mengerti akan situasi dan kondisi, baik yang ada di pondok ini maupun yang ada pada diri santri masing-masing.

Berikut adalah  hasil pengamatan penulis terhadap pembelajaran yang telah dilakukan oleh Shafni Ulwan kepada para santri ketika proses jual-beli:

  1. Sisipan (Siap-siap sarapan)

Sarapan merupakan kegiatan yang tak asing lagi bagi kita. Setiap pagi, kebanyakan para santri pergi ke dapur untuk mengambil sarapan. Begitu pula dengan makhshaf yang mulai buka pada jam tersebut. Namun, hal ini tentunya menimbulkan masalah baru bilamana banyak yang telat dalam pengambilan sarapan. Dari sinilah Shafni Ulwan berinisiatif untuk segera menutup kantin pada pukul 06:45. Mengapa demikian? Karena seringkali para santri membeli lauk tambahan di kantin, dengan begitu mereka akan mempercepat langkah sebelum makhshaf ditutup pada waktu yang telah ditentukan. 

2. Ceker (Cepat tanpa miker)

Disadari atau tidak, salah satu faktor dari membeludaknya antrian di makhshaf adalah dikarenakan para santri yang terlalu lama berfikir dalam memilih tho’am — istilah dalam bahasa Arab yang bermakna jajan — yang akan ia beli. Tentu menjadi suatu hal yang tidak baik bilamana kebiasaaan berlama-lama dalam bertindak menjadi suatu rutinitas. Dalam menyikapi hal ini, Shafni Ulwan berusaha untuk mengingatkan para santri agar bersegera dalam membeli tho’am. Contohnya saja dengan menggedor meja seraya berkata: “Hayya Khi, bisur’ah… tufakkir huna, fi al-fashl tanam!” (Ayo Khi, dipercepat… Di sini mikir, di kelas tidur!)

3. Tahu Fantasi (Berpengetahuan dan berprestasi)

Berawal dari suatu malam, ada seorang anak — sebut saja namanya Thanos — yang pergi ke kantin. Pada saat ia akan membeli tho’am, Shafni Ulwan bertanya padanya tentang apa itu al-fi’lu li al-majhul — salah satu kaidah gramatika dalam bahasa Arab — apabila si Thanos tak mampu menjawab, maka tidak akan segera diladeni, sehingga Thanos akan mencari jawaban terlebih dahulu. Di situlah Shafni Ulwan menyelipkan pengetahuan tentang bahasa Arab terhadap si santri yang bernama Thanos.

4. Je’er (Jujur dan terpercaya)

Sifat jujur dan terpercaya merupakan salah satu sifat yang sangat penting, karena Allah SWT serta Rasulullah SAW memerintahkan pada kita untuk berperilaku jujur. Kedua sifat tersebut harus ditanamkan pada setiap insan, dan harus mulai diterapkan sejak usia dini. Dalam konteks tersebut, seringkali Shafni Ulwan mengingatkan para santri agar menghitung dengan baik jumlah tho’am yang akan mereka beli. Hal ini dapat kita ketahui ketika ia meladeni para santri dengan berkata: “Hayya Khi, Ihsab jayyidan!” (Ayo Khi, hitung yang benar!). Tidak hanya itu, Shafni Ulwan juga pernah mengumpulkan para santri untuk menyampaikan betapa pentingnya kejujuran ketika membeli tho’am dengan uang yang masih layak dipakai.

5. Marimas (Mari menghemat plastik)

Sudah tak asing lagi bagi kita bahwasannya sampah plastik menjadi salah satu problem lingkungan yang cukup memprihatinkan. Berdasarkan penelitiaan yang dilakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia, Indonesia memiliki populasi pesisir sebesar 187, 2 juta yang setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton  sampah plastik yang tak terkelola dengan baik. Sekitar 0,48-1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan (CNBC Indonesia, 2019). Dari sinilah Shafni Ulwan berinisiatif untuk tidak dengan mudah memberikan plastik bagi para santri yang membeli tho’am untuk meminimalisir sampah plastik yang akan dihasilkan.

Nilai-nilai di atas merupakan pembelajaran yang diselipkan oleh Shafni Ulwan kepada para santri. Tidak hanya 5 poin yang telah diuraikan di atas, namun tentunya masih banyak lagi pembelajaran-pembelajaran yang disampaikan oleh Shafni Ulwan.  

Maka, yang dimaksud dengan makhshaf terintegrasi ialah kantin yang memiliki keterikatan/hubungan antara satu dengan yang lain secara sistematis. Dalam hal ini, penulis mengamati bahwasannya makhshaf  di pondok kita ini memiliki keterkaitan antara ilmu pengetahuan, pembelajaran hidup, serta keterkaitan antara penjual, pembeli, dan ketaatan terhadap sistem jual-beli yang berlaku. Hal ini dapat diketahui dari bagaimana seorang Shafni Ulwan selaku penjaga kantin mampu memberikan suatu pembelajaran kepada para santri, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan di makhshaf tidak hanya proses jual-beli atau tukar-menukar barang dengan uang. Namun lebih dari itu, di dalamnya terjadi proses pembelajaran tentang kehidupan. Dari sinilah penulis berpendapat bahwasannya kantin terintegrasi bukan hanya kantin jual-beli, namun kantin yang mendongkrak prestasi. Wallaahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *