Mudzakarah: Mengapa Allah Memilih Bahasa Arab sebagai Bahasa Al-Qur’an?

Senin (27/9/21) Bagian ketaqwaan BESMA kembali melanjutkan acara Mudzakarah di Aula PP Al-Ishlah.

Seperti sebelumnya bagian ketaqwaan BESMA memilih petugas acara dari beberapa firqoh yang ada. Para petugas tersebut antara lain; Rizqi Aditya Maulana (Moderator), Sofi Firmansyah (Qori’), Naufal Zaydan Al-Karim (notulen). Kemudian Ahmad Naufal Dwi (pemateri 1) dan M. Rafsanjani (pemateri 2) dengan mengambil tema, “Mengapa Allah Memilih Bahasa Arab sebagai Bahasa Al-Qur’an?”.

Alasan Allah menggunakan Bahasa Arab di dalam Al-Qur’an tidak terlepas dari dalil yang ada di dalamnya yaitu QS. Yusuf ayat 2.

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Qur’an berbahasa Arab, agar kamu mengerti”. Di samping itu, terdapat 4 alasan yang membuat bahasa arab dipilih menjadi bahasa Al-Qur’an daripada bahasa yang lainnya.

“Pertama , Bahasa Arab merupakan bahasa yang kekal (abadi)
kedua , mampu menampung pesan dan wahyu ilahiyah yang luas
ketiga , Bahasa Arab kaya akan kosa kata yang luas
Empat , merupakan satu-satunya bahasa yang bisa dihafal dalam jumlah ratusan halaman.” Ujar pemateri.

Pemaparan materi berjalan dengan baik. Dan dilanjutkan pada sesi diskusi yang ketat. Namun dari beberapa pertanyaan yang muncul, ada pertanyaan yang memang membutuhkan bahan bacaan yang lebih.

Salah satu pertanyaan itu muncul dari M Fatahillah Fauzul Adzim yang bertanya tentang alasan keautentikan bahasa arab dalam Al-Qur’an yang tetap eksis tanpa mengalami perubahan sampai hari ini padahal bahasa lain mengalami perubahan seiring perkembangan zaman.

Di akhir acara, ada evaluasi dari ustadz Miftah Nur Ilmi dan Ustadz Dzikrul Syaifudin.

“Untuk menjawab pertanyaan yang lebih tepat, maka dibutuhkan bahan bacaan lebih yang bisa kalian dapatkan di perpustakaan. Dan jika bertanya maka jangan sampai bertanya berdasarkan nafsu tetapi bertanyalah untuk menggugah ilmu”. Ujar Ustadz Miftah

Sedangkan Ustadz Dzikrul, “Saat menerima jawaban, kalian boleh menerima ataupun tidak dengan syarat kalian memiliki argumen untuk itu”.(MA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *