Belajar dari Keterbatasan

Allahuakbar…….Allahuakbar……
Gema takbir terdengar jelas di malam 10 Dzulhijjah, membuat merinding setiap telinga yang mendengarnya. Kemarin, 11 Agustus yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah seluruh santri Al-Ishlah merayakan hari raya Idul Adha bersama di pondok. Untuk sebagian santri mungkin ini sungguh menyedihkan, momen kebersamaan bersama keluarga terpaksa harus terlewatkan. Namun, sebagaimana sejatinya santri bahwasannya berusaha untuk selalu menikmati adalah kewajiban yang tidak bisa dihindari, supaya diri tetap fokus menimba ilmu sebagai santri.
Demikianlah yang dirasakan santri dalam khidmat ibadah shalat Idul Adha, sebagaimana santri yang bertugas menimba ilmu mereka disuguhkan dengan sajian ilmu pengetahuan yang sangat menggetarkan jiwa. Bukan sekedar tentang kisah penuh hikmah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Sulaiman. Melainkan, tentang kisah semangat seorang anak yang memiliki keterbatasan fisik dalam berkurban. Di tengah keterbatasan yang dimiliki dia tidak pernah berputus asa dan selalu berusaha mengumpulkan uang dengan menyisihkan uang sakunya hingga akhirnya mampu membeli hewan kurban.
Belajar dari kisah sang anak tersebut, ada hal penting yang patut diperhatikan dalam momen Idul Adha yang mana bukanlah sebatas mengenang kisah Nabi Ibrahim dengan Nabi Sulaiman, lantas mengaguminya. Akan tetapi bagaimana akhirnya santri mampu menerapkan hikmah tersebut dalam kehidupan, yakni memulai sejak dini untuk berusaha berkurban. Hal ini tentunya tidak sebatas sebagai bukti wujud kemampuan seorang santri dalam hal materiil. Tetapi, sebagai bukti abdi dan cinta seorang abdi kepada sang Ilahi Rabbi. Bukankah saat ini untuk memulai tidak terlambat? Mari kita mulai perlahan-lahan.

Suasana Shalat Ied di Lapangan Kopen Sendangagung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *